jatimnow.com - Waduk Gondang di Kabupaten Lamongan bakal dikeruk dengan kedalam yang ideal untuk mendukung kebutuhan irigasi pertanian.
Pekerjaan besar ini akan dikerjakan oleh Pemerintah Kabupaten Lamongan bersama Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) pada Agustus mendatang.
Menjelang pelaksanaan pekerjaan, alat dredging mulai disiapkan di Waduk Gondang. Targetnya, mengembalikan kapasitas volume air di angka 25 juta meter kubik, dimana voleme saat ini di kisaran 19.7 juta meter kubik.
Baca juga: Bupati Lamongan Dorong Budaya Literasi Dipupuk Dari Lingkup Keluarga
Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi mengungkapkan, Waduk Gondang memiliki peran vital bagi 10.588 petani di lima kecamatan yakni Sugio, Sukodadi, Turi, Kembangbahu, dan Lamongan.
Oleh karena itu, berkurangnya kapasitas Waduk Gondang, sangat berpengaruh pada pemaksimalan irigasi pertanian.
Baca juga: Sensus Ekonomi 2026 Kabupaten Lamongan Resmi Dimulai, Bupati Jadi yang Pertama
"Waduk Gondang memiliki peran penting terhadap irigasi pertanian, yang mana pertanian salah satu potensi unggulan di Kabupaten Lamongan," tutur Bupati Yuhronur, Senin (20/7/2026).
Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi Kabupaten Lamongan, Erwin Sulistya Pambudi menambahkan, pengerukan sedimentasi di Waduk Gondang merupakan agenda pemeliharaan rutin oleh Pemkab Lamongan.
"Ini adalah pertama kalinya pengerukan di Waduk Gondang menggunakan metode dredging. Pemeliharaan akan terus dilakukan, sembari melihat keefektifan metode ini. Karena pengembalian volume awal Waduk Gondang tentu membutuhkan pemeliharaan beberapa kali," jelasnya.
Baca juga: Skor Indikator Sosial Masyarakat Tinggi, Bukti Lamongan Hidupkan Pancasila
Ketua Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) Daerah Irigasi Waduk Gondang, Ramijo menyebut, pemaksimalan irigasi pertanian dari Waduk Gondang sangat memberikan manfaat keberhasilan Musim Tanam (MT) I hingga MT III.
"Dengan adanya pengerukan sedimentasi di Waduk Gondang, volume air akan bertambah. Karena jika air di Waduk Gondang tidak cukup, maka petani harus mengambil air dari Bengawan Jero dan tentu membutuhkan biaya operasional tinggi," kata Ramijo.