jatimnow.com - Transformasi total bukan lagi sekadar pilihan bagi lembaga pendidikan Islam di Tanah Air. Ketua MPR RI Ahmad Muzani menegaskan bahwa modernisasi tata kelola, penguasaan teknologi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan keharusan mutlak agar lembaga pendidikan tersebut mampu menjawab dinamika zaman.
Pernyataan tersebut disampaikan Muzani saat membuka Workshop Pengasuh Pesantren Se-Indonesia Angkatan ke-12 di Joglo Agung Pesantren VIP Bina Insan Mulia 2, Cirebon, Jawa Barat.
Forum strategis yang digagas oleh KH Imam Jazuli ini dirancang untuk membekali total 5.000 pengasuh pesantren dari Sabang sampai Merauke.
Baca juga: Pemuda Lamongan dan Gresik Didorong Perkuat Keutuhan NKRI di Era Digital
Sebanyak 308 pimpinan pondok pesantren dari berbagai provinsi di Pulau Sumatera hadir dalam gelaran tersebut untuk menyusun strategi adaptasi di tengah gempuran digitalisasi.
Menurut Muzani, pimpinan lembaga pendidikan Islam harus mampu membaca perubahan global yang dipacu oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Ia menilai Pesantren Bina Insan Mulia telah membuktikan bahwa pembaruan dapat berjalan beriringan dengan nilai-nilai luhur keagamaan.
"Pondok pesantren harus menyesuaikan berbagai macam kemajuan, perubahan, inovasi, dan transformasi menjadi sebuah keharusan," ujar Muzani dalam keterangan tertulisnya, Selasa (27/7).
Ia menambahkan, lulusan pesantren tidak boleh hanya berhenti pada peran pengajar ilmu agama. Lebih dari itu, para santri dituntut menjadi figur solutif yang menguasai berbagai bidang kehidupan, mulai dari pertanian, peternakan, hingga kewirausahaan modern.
Pemanfaatan perangkat digital juga ditekankan sebagai instrumen vital untuk memperluas jaringan ekonomi umat.
"Dari gawai, seseorang bisa mendapatkan solusi, promosi, inspirasi, dan transaksi. Gawai harus dijadikan sumber rezeki," imbuhnya.
Senada dengan hal tersebut, pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia, KH Imam Jazuli, memaparkan bahwa modernisasi lembaga pendidikan Islam merupakan investasi krusial bagi masa depan bangsa.
Baca juga: Momentum Ramadan untuk Memperkuat Empat Pilar Kebangsaan
Data statistik menunjukkan partisipasi pelajar usia sekolah di lingkungan pesantren masih berada di kisaran 3 hingga 5 persen dari total 53,9 juta anak usia sekolah di Indonesia.
Kiai Imam mendorong para pimpinan pondok untuk menciptakan daya tarik kuat bagi generasi muda agar berminat menempuh pendidikan di pesantren.
Target utamanya adalah melahirkan alumni yang siap mengisi posisi-posisi strategis di tingkat nasional, baik sebagai birokrat, profesional, akademisi, maupun pengambil kebijakan publik.
"Lulusan pesantren yang menjadi kiai atau dai sudah banyak. Namun, di bidang lain yang sangat dibutuhkan Indonesia justru masih sangat sedikit. Ke depan, pesantren harus melahirkan banyak pemimpin bangsa," tegas Kiai Imam di hadapan para pimpinan pesantren yang membina ratusan hingga ribuan santri.
Ia mengkritisi minimnya keterlibatan alumni pesantren di jajaran eselon strategis kementerian maupun badan usaha milik negara.
Baca juga: Sosialisasi 4 Pilar, Lita Machfud Arifin: Implementasikan ke Lingkungan Terdekat
Oleh karena itu, Kiai Imam mengajak para ulama untuk berani meninggalkan zona nyaman dan melakukan perubahan struktural secara menyeluruh.
Materi dalam workshop ini pun dirancang aplikatif, mencakup strategi praktis, rencana aksi, hingga pendampingan manajemen.
Ketua Panitia Pelaksana, Ubaydillah Anwar, menjelaskan bahwa seluruh fasilitas peserta mulai dari transportasi, akomodasi, hingga konsumsi ditanggung sepenuhnya oleh Imjaz Foundation.
Rangkaian program yang bergulir sejak Juni lalu kini telah merealisasikan sekitar 80 persen dari target total 5.000 peserta, dengan sisa agenda menyasar wilayah Kalimantan, Sulawesi, serta Nusa Tenggara.
Forum intensif yang memakan waktu 14 jam sehari tersebut ditutup dengan prosesi pengijazahan kitab Dalailul Khairat oleh KH Imam Jazuli serta agenda ziarah bersama ke Makam Sunan Gunung Jati di Cirebon.