jatimnow.com – Program intervensi Gen Z yang digulirkan Pemerintah Kota Surabaya dengan tujuan mengurangi angka pengangguran terbuka minim peminat.
Dari total 31 kecamatan di Kota Pahlawan, DPRD Surabaya mencatat, baru 4–5 kecamatan yang mulai menyerap anggaran, dengan realisasi serapan baru sekitar 2 persen.
Ketua Komisi A DPRD Surabaya, Yona Bagus Widyatmoko, menyoroti rendahnya serapan tersebut. Mengingat, Tahun 2026 sudah mulai memasuki triwulan akhir.
Baca juga: Polemik 13 Tahun Pembangunan Gereja Santo Yusup Berakhir Damai
“Anggaran sudah di-dropping di masing-masing kecamatan pada tahun anggaran 2026, tapi serapannya baru 2 persen,” ujarnya, di Kantor DPRD, Rabu (29/7/2026).
Yona menegaskan, pihaknya akan melakukan monitoring dan evaluasi menyeluruh terhadap efektivitas program inisiatif wali kota kali ini.
Baca juga: Ketua DPRD Surabaya: Banpol Instrumen Negara Perkuat Demokrasi
“Jika di PAK ternyata serapan tidak maksimal, maka akan kami evaluasi efektivitas program ini. Kalau kesimpulannya tidak efektif, maka akan kita hapus di 2027,” tegas Wakil Ketua Gerindra Surabaya ini.
Program Gen Z sendiri memiliki alokasi anggaran hingga Rp47 miliar apabila serapan berjalan maksimal. Namun, dengan kondisi saat ini, DPRD menilai perlu dilakukan analisis dan evaluasi (anev) mendalam.
“Tujuan awal program ini sangat mulia, untuk mengurangi angka pengangguran terbuka. Tapi ketika serapan tidak berjalan, maka perlu kita gali kenapa tidak efektif,” jelas Yona.
Baca juga: Kinerja Lurah dan Camat di Surabaya Menurut DPRD
Yona juga menambahkan, evaluasi akan menjadi dasar apakah program ini layak dilanjutkan atau dihentikan di Tahun 2027.
“Kalau ternyata tidak efektif, lebih baik anggaran dialihkan untuk program lain yang lebih menyentuh kebutuhan masyarakat,” pungkasnya.