jatimnow.com - Limbah popok sekali pakai menjadi penyumbang terbesar pencemaran di Kali Tebu Surabaya. Temuan itu terungkap dari pemantauan Program Mission for Zero Plastic Leakage (MOZAIK) yang mencatat sebagian besar sampah di sungai berasal dari limbah domestik yang sulit didaur ulang.
Selama periode 11–30 Mei 2026, tim MOZAIK mengevakuasi 13.433,77 kilogram sampah, atau rata-rata 895,8 kilogram per hari. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 89 karung sampah yang diangkat dari sungai setiap hari.
Hasil pemilahan menunjukkan 80,1 persen sampah yang terkumpul merupakan sampah residu. Dari jumlah itu, popok sekali pakai dan pembalut menyumbang sekitar 74,6 persen, menjadikannya jenis sampah paling dominan di Kali Tebu.
Baca juga: Kali Tebu Surabaya Tercemar, Aktivis Peringatkan Mikroplastik Racuni Ikan
Sementara sampah organik mencapai 16,8 persen, sedangkan material yang masih memiliki nilai daur ulang hanya sekitar 3 persen.
Manajer Program MOZAIK, Amiruddin Muttaqin, mengatakan hasil pemantauan memperlihatkan bahwa persoalan pencemaran sungai di Surabaya tidak lagi didominasi kemasan plastik, melainkan limbah rumah tangga yang belum memiliki sistem pengelolaan memadai.
"Dominasi popok sekali pakai menunjukkan sungai masih menjadi jalur pembuangan limbah rumah tangga. Kondisi ini harus menjadi perhatian pemerintah karena popok bekas sulit didaur ulang, mencemari air, serta berpotensi menjadi sumber mikroplastik yang mengancam kesehatan masyarakat," ujarnya, Jumat (31/7).
Menurut Amiruddin, upaya mengatasi pencemaran sungai tidak cukup hanya mengangkut sampah yang telah menumpuk di hilir. Penanganan harus dimulai dari sumber melalui peningkatan layanan pengelolaan sampah domestik, penyediaan sistem khusus untuk limbah popok, serta edukasi kepada masyarakat agar tidak membuang sampah ke saluran air.
Baca juga: Krisis Brantas: Posko Ijo Surati Gubernur, Sentil Pemerintah Pusat
Senada, Manajer Data dan Informasi MOZAIK, Alaika Rahamatullah, menyebut komposisi sampah di Kali Tebu memiliki karakteristik berbeda dibandingkan hasil riset global mengenai sampah laut.
Menurutnya, secara global sampah di kawasan pesisir didominasi kemasan makanan dan minuman berbahan plastik. Namun kondisi di Kali Tebu justru menunjukkan limbah domestik, terutama popok sekali pakai, sebagai penyumbang terbesar pencemaran.
"Ini menunjukkan setiap wilayah memiliki sumber pencemaran yang berbeda sehingga kebijakan pengelolaannya harus berbasis data lapangan," tegas Alaika.
Baca juga: Mengejutkan, Air Hujan di Desa Sumberkemuning Bondowoso Mengandung Mikroplastik
Ia menambahkan, tingginya proporsi sampah residu hingga mencapai 80,1 persen menjadi indikator bahwa sebagian besar sampah yang masuk ke sungai tidak memiliki nilai ekonomi maupun potensi untuk didaur ulang. Kondisi itu mencerminkan masih lemahnya sistem pengurangan sampah dari sumber.
Program MOZAIK menilai data komposisi sampah tersebut dapat menjadi pijakan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran, mulai dari pengelolaan limbah popok, peningkatan layanan persampahan, hingga upaya mengurangi penggunaan plastik sekali pakai.
Selain melakukan pemantauan rutin, program tersebut juga menjalankan pemasangan trash boom, pemilahan sampah, serta edukasi kepada masyarakat sebagai bagian dari upaya mencegah kebocoran sampah ke sungai dan menjaga kualitas lingkungan serta kesehatan publik.