jatimnow.com – Dunia kedokteran gigi anak mencatatkan terobosan baru yang mengutamakan kenyamanan dan keamanan pasien. Guru Besar Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Airlangga (Unair), Prof. Sindy Cornelia Nelwan, berhasil memaparkan riset terbarunya mengenai metode pendeteksian tumbuh kembang gigi anak yang hanya menggunakan air liur (saliva).
Inovasi pengujian air liur ini menjadi solusi mutakhir untuk menggantikan penggunaan foto rontgen konvensional, sehingga menghindarkan pasien anak, termasuk anak dengan kondisi Down Syndrome dari risiko paparan radiasi sinar-X.
Pendeteksian non-invasif ini memanfaatkan hormon Dehydroepiandrosterone Sulfate (DHEA-S) yang terkandung di dalam air liur. Hormon ini berperan sebagai cerminan aktivitas kelenjar adrenal, yang kadarnya akan meningkat seiring dengan proses pematangan tubuh anak.
Baca juga: Talkshow Nutrisi hingga Kids Parade Meriahkan Acara Frisian Flag Surabaya
"Dengan menggunakan hormon yang ada di air liur ini, observasi dapat dilakukan secara non-invasif. Selama ini, jika ingin melihat kapan gigi tumbuh, kita menggunakan foto rontgen. Namun, di situ ada paparan radiasi yang sebisa mungkin ingin kita hindari pada anak-anak," papar Prof. Sindy, Sabtu (1/8/2026).
Prof. Sindy menegaskan bahwa riset ini tidak akan berhenti di atas kertas atau di dalam laboratorium semata. Ia memproyeksikan penemuan ini dapat diwujudkan dalam bentuk diagnostic kit (alat ukur mandiri) yang sangat praktis bagi para praktisi medis di lapangan.
"Riset ini kami arahkan untuk membuat diagnostic kit, sistem kerjanya mirip seperti alat tes kehamilan (test pack). Begitu air liur anak diteteskan, kita bisa langsung melihat dan memprediksi secara akurat kapan gigi tersebut akan tumbuh," ungkapnya.
Baca juga: Moell On Mission Hadirkan Akses Kesehatan Layak di Kepulauan Kangean
Selain memaparkan inovasi diagnosis tanpa radiasi, Prof. Sindy juga menyoroti masalah kesehatan rongga mulut yang sering diabaikan orang tua, yakni nursing bottle syndrome atau karies akibat kebiasaan anak minum susu botol sambil tertidur.
Sisa susu yang menggenang di dalam mulut tanpa segera dibersihkan akan memicu proses fermentasi yang menghasilkan asam perusak gigi. Kondisi ini biasanya langsung menyerang empat gigi bagian depan anak.
"Pencegahan karies ini sejatinya harus diawali sejak masa kehamilan. Pemenuhan nutrisi vitamin dan mineral ibu sangat penting karena benih gigi anak sudah mulai terbentuk sejak usia kandungan empat bulan," terang Prof. Sindy.
Baca juga: Cerita Uung Victoria Finky Arungi Laut 14 Jam demi Ibu Menyusui
Sebagai langkah antisipasi lanjutan, ia mengimbau para orang tua untuk wajib memeriksakan anak ke dokter gigi minimal enam bulan sekali, tanpa harus menunggu munculnya keluhan sakit.
"Jangan menunggu anak menangis kesakitan, karena kalau sudah sakit berarti lubang giginya sudah dalam. Awal mula gigi berlubang itu hanya ditandai dengan bercak putih yang kelainannya hanya bisa dideteksi oleh dokter gigi," pungkasnya.