Maba Umsura Kumpulkan Pembalut dan Popok untuk Korban Bencana NTT

Senin, 14 Sep 2026 19:06 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Sebanyak 3.185 maba Umsura mengumpulkan pembalut, popok, dan boneka untuk korban bencana NTT. (Foto: Humas Umsura for jatimnow.com)

jatimnow.com - Kebutuhan perempuan dan anak kerap luput di tengah hiruk-pikuk penyaluran logistik pangan. Merespons celah pengabaian itu, sebanyak 3.185 mahasiswa baru Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) mengumpulkan pembalut, popok, serta boneka untuk korban bencana NTT.

Pengumpulan donasi berlangsung pada pembukaan orientasi mahasiswa baru (MOX) 2026, Senin (14/9/2026). Ribuan barang spesifik sasaran itu akan segera disalurkan ke lokasi pengungsian melalui jejaring Lazismu Jawa Timur.

Tragedi alam di Nusa Tenggara Timur telah memakan 136 korban jiwa dan merusak lebih dari 102 ribu bangunan. Sayangnya, manajemen kedaruratan yang berfokus pada pembangunan fisik sering kali melupakan pemenuhan hak kelompok paling rentan.

Baca juga: Umsura Jadi Peserta Baru Terbaik Indonesia di UI GreenMetric 2026

Rektor Umsura, Prof. Mundakir, menegaskan siklus biologis perempuan tidak berhenti hanya karena alam sedang tidak bersahabat. Menstruasi, kehamilan, maupun masa menyusui tetap menuntut fasilitas kebersihan dan privasi yang layak.

"Pembalut dan popok seharusnya berstatus sebagai kebutuhan dasar, bukan sekadar barang tambahan. Keterbatasan akses air dan ruang privat sangat mengancam kesehatan sekaligus martabat perempuan di pengungsian," ujar Mundakir.

Selain kebutuhan sanitasi, Umsura menyoroti krusialnya penanganan trauma bagi anak-anak. Penyaluran boneka bukan ditujukan sebagai sekadar mainan, melainkan alat intervensi dukungan psikososial tahap awal.

Baca juga: Wakil Rektor Umsura Soroti Desain URI dan Pentingnya Kebebasan Akademik

Benda bersahaja itu berfungsi sebagai sarana anak-anak bercerita, bermain peran, memproyeksikan emosi, atau sekadar menjadi benda yang bisa dipeluk saat cemas melanda.

\

Anak-anak yang kehilangan rumah dan rutinitas sekolah membutuhkan jangkar kenyamanan baru di tenda darurat.

Di luar bantuan logistik, pihak kampus turut merancang operasi kemanusiaan jangka panjang. Kampus menerjunkan tenaga relawan yang tergabung dalam Aksi Mahasiswa Tanggap Bencana (Matana) untuk menetap di NTT selama satu bulan.

Baca juga: Sebulan Mengabdi, KKN UMSURA Kelompok 18 Tinggalkan Kenangan di Dungus

"Relawan lintas jurusan akan bertugas langsung mendampingi warga di lokasi. Kami mengonversi agenda kemanusiaan penuh risiko ini sebagai pemenuhan beban Kuliah Kerja Nyata (KKN)," kata Mundakir.

Pendekatan spesifik mutlak diterapkan dalam merespons krisis bencana daerah. Perempuan, anak, dan bayi memiliki profil risiko berbeda yang menuntut skema bantuan presisi sejak masa darurat hingga tuntasnya fase pemulihan.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler