Inovasi Paving Block Limbah Perikanan Mahasiswa UNAIR Raih Penghargaan Internasional

Kamis, 08 Okt 2026 17:00 WIB
Reporter :
Sujianto
Mahasiswa UNAIR meraih bronze medal atau medali perunggu dalam MJIIX International Research and Innovation Competition (MJIIX IRIC) yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia. (dok. Pribadi).

jatimnow.com - Prestasi membanggakan ditorehkan mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) di kancah internasional. Mereka berhasil meraih bronze medal atau medali perunggu dalam MJIIX International Research and Innovation Competition (MJIIX IRIC) yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia.

Keberhasilan tersebut diraih Chelsea Hani Marcelia Sundawa, Istirarosa Artisa Putra, Ratu Zahra Angelita dari Fakultas Perikanan dan Kelautan (FPK), serta Naila Fatin Afifah dari Fakultas Vokasi UNAIR. Mereka sukses membawa inovasi berupa paving block ramah lingkungan berbahan limbah perikanan ke kompetisi yang mempertemukan peserta dari berbagai negara di Asia Tenggara.

Medali perunggu tersebut diraih pada Senin (28/9/2026), setelah tim UNAIR bersaing dengan peserta dari berbagai jenjang pendidikan, mulai mahasiswa sarjana, magister, doktor, hingga praktisi dan dosen.

Baca juga: Ini Penyebab Kericuhan Konfercab PMII Surabaya

Kompetisi internasional itu diselenggarakan Malaysia Japan International Institute of Technology (MJIIT) di Universitas Teknologi Malaysia (UTM), Kuala Lumpur. Persaingan yang dihadapi tim UNAIR menjadi semakin ketat karena karya peserta dinilai dalam kompetisi yang sama tanpa pemisahan berdasarkan jenjang pendidikan.

Bagi Chelsea dan tim, capaian tersebut menjadi prestasi tersendiri karena mereka mampu membawa karya mahasiswa S1 bersaing di panggung internasional dengan peneliti dari jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

“Awalnya tidak menyangka bisa meraih bronze medal. Mengingat lawannya tidak hanya sesama mahasiswa S1, tetapi ada jenjang S2, S3, bahkan dosen dari berbagai negara di Asia. Ini experience luar biasa bagi kami,” ujar Chelsea.

Inovasi dari Limbah Perikanan

Prestasi internasional tersebut diraih melalui gagasan yang berangkat dari persoalan infrastruktur di daerah. Chelsea mengungkapkan, ide membuat paving block ramah lingkungan muncul setelah melihat kondisi jalan di salah satu wilayah di Tuban yang rusak, becek, dan kerap tergenang air.

“Kami mengangkat inovasi ini karena melihat kondisi salah satu daerah di Tuban yang jalannya sangat rusak, becek, dan berair. Dari situ kami terpikir untuk membuat paving block yang tidak hanya kuat menahan air dan beban, tetapi juga ramah lingkungan dengan memanfaatkan limbah lokal,” katanya.

Tim kemudian mengembangkan paving block dengan memanfaatkan tepung cangkang kerang kapah dan tulang ikan sebagai substitusi sebagian semen. Mereka juga menambahkan alginat sebagai bahan perekat atau binder.

Formula tersebut memungkinkan penggunaan semen konvensional dikurangi hingga sekitar sepertiga. Selain menghasilkan material alternatif, inovasi ini sekaligus menawarkan solusi pemanfaatan limbah perikanan yang selama ini belum optimal.

Baca juga: Konfercab PMII Surabaya Ricuh di Islamic Centre, Kader Unair Dipukul

Mengusung Konsep Zero Waste

Tidak hanya mengandalkan inovasi material, tim UNAIR juga mengedepankan konsep zero waste dan efisiensi biaya. Cangkang kerang dan tulang ikan yang digunakan diperoleh secara cuma-cuma dari pedagang perikanan di pasar lokal.

\

Bahan baku tersebut terlebih dahulu dicuci dan dikeringkan menggunakan oven pada suhu 100 derajat Celsius selama empat hingga lima jam. Setelah kering, material dihaluskan menggunakan grinder dan kemudian diayak dengan ukuran 100 mesh untuk tulang ikan serta 80 mesh untuk cangkang kerang.

Salah satu tahapan penting dalam proses tersebut adalah kalsinasi tepung tulang ikan. Proses ini dilakukan untuk menghilangkan aroma amis sekaligus menghasilkan material yang lebih sesuai untuk digunakan sebagai bahan penyusun paving block.

“Satu tahapan penting yang kami lakukan adalah proses kalsinasi pada tepung tulang ikan. Tahap ini bertujuan untuk menghilangkan aroma amis khas ikan, sehingga material paving block yang dihasilkan benar-benar netral dan kokoh seperti semen,” jelas Chelsea.

Dalam pengujian skala laboratorium, paving block hasil inovasi mereka dapat mengering dan mengeras dengan cukup padat dalam waktu sekitar tiga hari.

Baca juga: Keluarga Korban KM Virgo Transport 8 Dapat Dukungan Psikologis di Tanjung Perak

Medali Perunggu Jadi Motivasi

Bagi Chelsea dan tiga anggota tim lainnya, keberhasilan meraih medali di kompetisi internasional tidak hanya menjadi penghargaan atas inovasi yang mereka kembangkan. Prestasi tersebut sekaligus menjadi pengalaman penting untuk membawa riset mahasiswa UNAIR bersaing di tingkat global.

Terlebih, mereka harus mempresentasikan karya secara langsung di Kuala Lumpur dan berhadapan dengan peserta dari berbagai negara serta latar belakang akademik.

Medali perunggu yang diraih menjadi bukti bahwa inovasi berbasis persoalan lokal dan pemanfaatan limbah perikanan mampu mendapat pengakuan di panggung internasional.

Ke depan, capaian tersebut diharapkan menjadi pemacu bagi tim untuk terus mengembangkan inovasi agar tidak berhenti pada prestasi kompetisi, tetapi dapat diarahkan menjadi solusi yang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler