jatimnow.com - Wisatawan yang berkunjung ke Kota Pahlawan kini bisa menikmati pengalaman menginap yang tak biasa. Kokoon Hotel Surabaya menghadirkan konsep Living Museum, mengajak para tamu menyusuri rekam jejak aktivitas perkantoran era 1900-an lewat deretan koleksi artefak bersejarah.
Uniknya, pameran ini tidak disekat di dalam ruang museum khusus. Benda-benda peninggalan masa lalu dipajang menyatu di berbagai area publik dan sudut hotel dekat Kota Tua Surabaya tersebut, sehingga dapat dinikmati secara kasual di sela waktu menginap.
Koleksi yang dipamerkan menggambarkan potret kesibukan dunia kerja tempo dulu. Di antaranya terdapat proyektor film Bell & Howell Lumina II, mesin ketik Olympia, telepon putar Zamona, hingga mesin hitung mekanik Olivetti.
Tak ketinggalan, sebuah brankas antik berukuran jumbo dengan berat beberapa ton turut mencuri perhatian.
Guna memberikan nilai edukasi lebih, setiap artefak dilengkapi kode QR dwibahasa (Indonesia dan Inggris). Pengunjung cukup memindai kode tersebut menggunakan ponsel untuk membaca kisah di balik benda, fungsi, hingga sejarah asal-usulnya secara mandiri.
Assistant Sales & Marketing Communication Manager Kokoon Hotel Surabaya, Tegar Kanugran, menjelaskan bahwa penataan artefak ini sengaja dirancang agar benda-benda bersejarah tersebut tidak sekadar menjadi pajangan estetis.
"Kami ingin Living Museum di Kokoon Hotel Surabaya menjadi bagian dari pengalaman yang hidup. Lewat QR Code dwibahasa, tamu dapat mengeksplorasi cerita di balik setiap artefak secara interaktif," ujar Tegar.
Tegar menambahkan, konsep ini juga menjadi sarana mengenalkan kekayaan sejarah kawasan Surabaya Utara kepada para pelancong.
"Sejarah merupakan bagian tak terpisahkan dari identitas Surabaya. Kami berharap Living Museum dapat memperkaya agenda perjalanan wisatawan saat menjelajahi kawasan kota tua," tuturnya.
Kehadiran Living Museum tak lepas dari jejak panjang gedung hotel yang berlokasi di Jalan Slompretan Nomor 26 tersebut.
Pada awal abad ke-20, bangunan ini mulanya difungsikan sebagai pabrik korek api milik perusahaan Belanda, sebelum berganti peran menjadi gudang VOC.
Memasuki tahun 1920, gedung berarsitektur khas kolonial ini dimanfaatkan sebagai kantor PT Dwi Satrya Utama, sebuah perusahaan perdagangan yang beroperasi hingga awal 2000-an.
Usai berganti-ganti fungsi selama puluhan tahun, proses pemugaran dilakukan pada 2016–2017 tanpa menghilangkan karakter aslinya.
Bangunan bernilai sejarah ini resmi bertransformasi menjadi Kokoon Hotel Surabaya pada 2018, memadukan pesona arsitektur cagar budaya dengan kenyamanan akomodasi modern.