jatimnow.com - Ratusan mahasiswa teknik Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya turun ke sudut-sudut bersejarah Kota Pahlawan, Minggu (18/10/2026). Melalui agenda Diskusi Kebangsaan bertajuk ‘Napak Tilas Sejarah Kota Surabaya’, mereka menelusuri langsung jejak para tokoh pergerakan nasional.
Agenda kolaborasi Fakultas Teknologi Elektro dan Informatika Cerdas (FTEIC) bersama Fakultas Teknik (FT) ini dirancang guna membumikan dharma patriotisme perguruan tinggi. Sejumlah pimpinan kampus turut mendampingi perwakilan ormawa dan tenaga kependidikan, mulai dari Wakil Rektor III Dr. Sumiati, Dekan FTEIC Ir. Aris Heri Andriawan, hingga Dekan FT Dr. Ir. Ar. R.A. Retno Hastijanti.
Rombongan menelusuri rute sarat sejarah, antara lain rumah kelahiran Bung Karno, bekas kediaman HOS Tjokroaminoto, Sumur Jobong di Peneleh, Museum Dr. Soetomo, dan Museum WR Soepratman.
Baca juga: Kemdiktisaintek Percayakan Pelatihan Dosen PEKERTI-AA ke Untag Surabaya
Dekan FTEIC Untag Surabaya, Ir. Aris Heri Andriawan, menegaskan pentingnya pembelajaran luar ruang agar mahasiswa tidak hanya memahami heroisme bangsa lewat lembaran buku.
"Sebagai Kampus Merah Putih, kami ingin mahasiswa menyaksikan langsung jejak perjuangan para tokoh bangsa. Surabaya punya ikatan emosional yang sangat kuat dengan lahirnya republik ini," ujar Aris.
Bagi Aris, langkah membawa mahasiswa melihat situs fisik secara langsung terbukti efektif memicu rasa memiliki generasi muda terhadap sejarah lokal.
"Jejak nyata di sekitar kita menyadarkan anak muda bahwa kemerdekaan dibangun lewat keringat dan strategi matang," tuturnya.
Baca juga: Kejurda Forbasi 2026 di Untag Surabaya Sedot Ribuan Pelajar Jatim
Menariknya, napak tilas ini sekaligus menjadi laboratorium terbuka untuk membedah karya rekayasa masa lalu.
Mahasiswa lintas disiplin arsitektur, sipil, elektro, mesin, hingga industri, diajak mengamati material kuno, sistem kelistrikan awal abad ke-20, hingga tata kelola cagar budaya.
Aris menyebut pengamatan lapangan membuka ruang bagi mahasiswa untuk menghubungkan lompatan teknologi tempo dulu dengan mata kuliah masa kini.
"Mereka belajar bagaimana bangunan lawas bertahan dan teknologi berkembang antarzaman. Sudut pandang sejarah memperkaya nalar teknik mereka di lapangan," tambah Aris.
Baca juga: FH Untag Surabaya dan UNEJ Sepakat Kerja Sama Kurikulum
Lewat pendekatan interdisipliner seperti ini, kampus berharap lulusannya mampu melahirkan inovasi yang relevan tanpa melupakan akar budaya bangsanya.
"Kunjungan lapangan harus memantik ide segar. Dari masa lalu, mereka belajar merancang solusi dan inovasi nyata bagi masyarakat," pungkas Aris.