Pariwisata RI Terancam Konflik Global, Ini Strategi Amankan Turis
Peristiwa Sabtu, 14 Mar 2026 23:26 WIBjatimnow.com - Eskalasi konflik antara Israel vs Iran mulai memberikan tekanan hebat pada industri perjalanan global.
Indonesia, meski secara geografis jauh dari pusat pertempuran, kini berada dalam bayang-bayang penurunan jumlah wisatawan mancanegara akibat membengkaknya biaya transportasi dan perubahan rute penerbangan.
Dosen Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Surabaya (FBE Ubaya), Prita Ayu Kusumawardhany, memetakan lima risiko utama yang kini menghantui sektor ini, yakni gangguan keamanan, terbatasnya aksesibilitas, trauma psikologis pelancong, merosotnya citra destinasi Timur Tengah, hingga lonjakan harga tiket pesawat.
"Kita tidak bisa diam melihat lonjakan biaya perjalanan ini. Pemerintah perlu bergerak cepat mempromosikan Indonesia sebagai destinasi yang stabil melalui kampanye digital yang masif," ujar Prita saat memberikan analisisnya di Surabaya.
Prita mendorong pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) untuk memberikan stimulus nyata bagi industri lokal.
Salah satu langkah berani yang ia tawarkan adalah pemberian subsidi tiket untuk perjalanan domestik guna menjaga pergerakan manusia di dalam negeri.
Selain itu, ia menyarankan para pelaku usaha tidak lagi bertumpu sepenuhnya pada wisatawan jarak jauh (long-haul) yang sangat sensitif terhadap isu bahan bakar pesawat.
"Saatnya memperkuat kerja sama dengan maskapai internasional untuk menggaet turis jarak dekat (short-haul traveler). Strategi dual market harus diterapkan. Pelaku usaha sebaiknya mengalokasikan 60 hingga 70 persen energi mereka untuk menggarap pasar domestik dan regional Asia," tambahnya.
Keamanan menjadi mata uang paling berharga di tengah situasi perang. Prita merekomendasikan penggunaan sistem pemantauan berbasis teknologi di pusat-pusat keramaian seperti Bali untuk memberikan rasa tenang bagi pengunjung.
Di sisi bisnis, ia meminta agen perjalanan lebih luwes dalam memberikan penawaran. Menurutnya, promosi yang menawarkan garansi uang kembali atau jadwal yang fleksibel akan jauh lebih lirik oleh calon wisatawan yang sedang ragu.
"Pantau terus pembaruan dari IATA dan maskapai untuk mengevaluasi risiko penerbangan secara real-time. Keputusan bisnis harus diambil berdasarkan data terbaru agar arus kas perusahaan tetap terjaga di tengah kondisi yang fluktuatif ini," tutupnya.