Pixel Code jatimnow.com

Lebaran 2026 Belum Pasti, Ini Sikap Umat yang Dianjurkan

Opini Rabu, 18 Mar 2026 12:11 WIB
Da'i MUI, Abdul Aziz, S.Pd.,M.Pd. (Foto/Dokumentasi Pribadi)
Da'i MUI, Abdul Aziz, S.Pd.,M.Pd. (Foto/Dokumentasi Pribadi)

jatimnow.com - Lebaran 2026 tanggal berapa masih belum ada jawaban pasti. Situasi tersebut kembali memunculkan potensi perbedaan di tengah umat, terutama dalam penentuan awal puasa dan hari raya.

Dampaknya terasa langsung di masyarakat. Sebagian bingung menentukan waktu ibadah, sementara perdebatan kerap muncul di ruang publik, bahkan merembet ke lingkungan keluarga.

Da’i MUI, Abdul Aziz, mengingatkan agar perbedaan tidak berkembang menjadi konflik. Ia mengajak umat menjaga kebersamaan dengan berpegang pada prinsip syariat yang telah digariskan.

“Ketaatan kepada pemimpin dalam urusan bersama menjadi bagian dari ajaran Islam. Selama tidak bertentangan dengan syariat, keputusan tersebut perlu diikuti demi kemaslahatan,” ujarnya.

Ia merujuk firman Allah dalam QS An-Nisa ayat 59:
"Taatilah Allah, taatilah Rasul, dan ulil amri di antara kalian."

Menurut dia, ayat tersebut memberi arah agar kehidupan sosial berjalan tertib dan tidak terpecah oleh perbedaan pandangan.

Abdul Aziz juga mengutip hadis Nabi Muhammad SAW:
"Puasa adalah hari ketika manusia berpuasa, Idul Fitri adalah hari ketika manusia berbuka, dan Idul Adha adalah hari ketika manusia menyembelih kurban." (HR Tirmidzi)

Ia menjelaskan, para ulama memaknai hadis tersebut sebagai anjuran menjalankan ibadah secara bersama dengan mayoritas umat atau Al-Jama’ah.

“Maknanya, pelaksanaan puasa dan hari raya tidak berdiri sendiri-sendiri. Ada kebersamaan yang harus dijaga,” katanya.

Praktik pada masa Nabi juga memperlihatkan pola serupa. Ketika hilal terlihat, laporan disampaikan kepada Rasulullah, lalu keputusan berlaku untuk seluruh kaum muslimin.

“Penetapan berada pada otoritas pemimpin. Bukan ditentukan masing-masing individu,” ucapnya.

Dalam kaidah fikih, lanjut dia, terdapat prinsip:
"Keputusan penguasa dapat menghilangkan perbedaan pendapat."

Kaidah tersebut dinilai relevan dalam konteks Indonesia. Pemerintah menetapkan awal Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah melalui sidang isbat yang melibatkan ulama, organisasi Islam, serta ahli astronomi.

Proses itu mencakup perhitungan ilmiah dan pemantauan hilal di berbagai wilayah. Hasilnya kemudian diumumkan sebagai acuan bersama.

Abdul Aziz mengakui, keputusan tersebut merupakan hasil ijtihad manusia yang tidak sepenuhnya bebas dari kemungkinan kekeliruan. Namun, umat tetap diminta menjaga sikap.

“Islam mengajarkan untuk tetap mendengar dan taat, sambil menyampaikan nasihat dengan cara yang baik,” ujarnya.

Ia mengutip hadis Nabi SAW:
"Dengar dan taatlah. Kewajiban kalian adalah apa yang dibebankan kepada kalian, dan kewajiban mereka adalah apa yang dibebankan kepada mereka." (HR Muslim)

Bagi masyarakat, menjaga persatuan menjadi kebutuhan mendesak. Perbedaan penentuan hari raya tidak semestinya memicu perpecahan.

Abdul Aziz menegaskan, tujuan syariat tidak semata memastikan ketepatan tanggal ibadah, tetapi juga menjaga keharmonisan umat.

“Persatuan adalah nikmat besar. Perbedaan ijtihad tidak boleh merusak kebersamaan,” katanya.

Dengan sikap saling menghormati dan kedewasaan dalam beragama, umat diharapkan dapat menyambut Lebaran dengan tenang, tanpa gesekan, serta tetap menjaga persaudaraan.