Pixel Code jatimnow.com

Tradisi Ambengan hingga Nglencer Lengkapi Lebaran di Ponpes Sumbersari Kediri Hari Ini

Peristiwa Jumat, 20 Mar 2026 14:10 WIB
Suasana lebaran di Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari. (Foto: Nanik for jatimnow.com)
Suasana lebaran di Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari. (Foto: Nanik for jatimnow.com)

jatimnow.com - Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari di Kencong Timur, Desa Kencong, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, melaksanakan Salat Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah pada Jumat (20/3/2026). Pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri di pondok tersebut berlangsung lebih awal dibandingkan penetapan pemerintah.

Kepala Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari, Ali Yusuf Muzaki, menjelaskan bahwa penentuan awal bulan Syawal di lingkungan pondok menggunakan rujukan Kitab Fathu Rauf dengan standar ketinggian hilal minimal 2 derajat.

“Misalnya hari ini, berdasarkan Kitab Fathu Rauf, ketinggian hilal mencapai 4 derajat. Karena sudah melewati batas minimal 2 derajat, maka hari ini sudah bisa ditetapkan sebagai 1 Syawal,” ujarnya usai salat Id.

Ia menambahkan, perhitungan tersebut juga diperkuat oleh beberapa kitab lain yang menggunakan metode serupa dan menunjukkan hasil yang sama, yakni posisi hilal telah berada di atas 2 derajat. Hasil tersebut kemudian dibahas bersama tim lajnah sebelum diputuskan secara resmi.

“Kitab Fathu Rauf memiliki beberapa rujukan serupa, dan semuanya menunjukkan hasil di atas 2 derajat. Dari hasil musyawarah tim lajnah, diputuskan bahwa 1 Syawal jatuh pada hari ini,” jelasnya.

Pelaksanaan Lebaran di lingkungan pondok berlangsung khidmat dengan berbagai tradisi khas. Sejak malam hari, gema takbir telah dikumandangkan mulai setelah salat Maghrib hingga menjelang Subuh.

Selanjutnya, para santri dan pengurus mengikuti tahlilan di ndalem pengasuh yang dipimpin oleh Imam Faqih Asy’ari, kemudian dilanjutkan dengan sarapan bersama.

Perayaan Idul Fitri juga dihadiri oleh para alumni dari berbagai wilayah, khususnya dari Kecamatan Kepung dan sekitarnya.

Suasana kebersamaan semakin terasa usai pelaksanaan salat Id, saat seluruh jamaah melakukan silaturahmi. Tradisi tersebut dilanjutkan dengan tahlilan dan ditutup dengan ambengan, yakni makan bersama sebagai simbol kebersamaan antara santri, pengurus, dan masyarakat.

Selain itu, terdapat tradisi “nglencer” atau berkeliling untuk bersilaturahmi ke ndalem para masyayikh dan sesepuh di lingkungan Dusun Subangsari.

“Setelah selesai, para santri melakukan silaturahmi atau nglencer, sowan ke ndalem para dzuriyah pesantren dan para sesepuh di lingkungan sekitar,” pungkas Ali.