Pixel Code jatimnow.com

Harga Plastik Melonjak, Daya Beli Konsumen di Jember Menurun

Peristiwa Senin, 13 Apr 2026 12:10 WIB
Aktivitas salah satu pedagang plastik di Jember. (Foto: Sugianto/jatimnow.com)
Aktivitas salah satu pedagang plastik di Jember. (Foto: Sugianto/jatimnow.com)

jatimnow.com - Kenaikan harga berbagai jenis plastik hingga mencapai 100 persen berdampak pada penurunan daya beli masyarakat di Kabupaten Jember. Para pedagang mengaku kondisi tersebut mulai terasa signifikan setelah Lebaran 2026.

David Susanto, pemilik Toko Mitra Plastik di Pasar Tanjung Jember, mengatakan kenaikan harga plastik sebenarnya telah terjadi sejak awal Maret 2026. Namun, dampaknya terhadap penjualan baru dirasakan dalam beberapa pekan terakhir.

“Maret sudah mulai naik. Awalnya sekitar 20 persen, lalu bertahap hingga 40 persen. Tapi setelah Lebaran, dampaknya benar-benar terasa,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Menurutnya, lonjakan harga dipicu oleh faktor global, khususnya konflik geopolitik di Timur Tengah yang memengaruhi pasokan minyak sebagai bahan baku utama plastik. Ia menyebut gangguan distribusi di jalur strategis seperti Selat Hormuz turut memperparah kondisi tersebut.

“Pasokan minyak berkurang, sehingga harga bahan baku plastik ikut naik,” katanya.

David menjelaskan, hampir seluruh produk plastik mengalami kenaikan harga, mulai dari kantong kresek, gelas plastik, botol, hingga kemasan makanan seperti thinwall dan mika. Kenaikan bahkan disebut telah mencapai dua kali lipat dari harga normal.

Sebagai contoh, harga kemasan thinwall yang sebelumnya sekitar Rp20 ribu per pak kini naik menjadi di atas Rp30 ribu. Sementara kantong kresek yang semula Rp6 ribu kini menembus Rp10 ribu per pak.

Kenaikan tersebut berdampak langsung pada penurunan penjualan. Banyak pelanggan, kata David, mulai mengurangi pembelian atau mencari alternatif kemasan yang lebih murah.

“Sekarang menjual lebih sulit. Pembeli banyak yang mengeluh karena harga naik drastis,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan Totok Wirawan (34), pedagang pentol cilok keliling yang bergantung pada kemasan plastik untuk berjualan. Ia mengaku kesulitan menekan biaya operasional di tengah lonjakan harga tersebut.

“Sekarang jadi bingung karena plastik mahal semua. Padahal saya butuh untuk wadah jualan. Kalau terus naik, terpaksa harus mengurangi atau cari alternatif, tapi tidak mudah,” ungkapnya.

Kondisi ini menjadi tantangan serius bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang bergantung pada plastik dalam kegiatan operasional. Jika kenaikan harga terus berlanjut tanpa adanya stabilisasi bahan baku, dampaknya dikhawatirkan meluas, mulai dari kenaikan harga produk di tingkat konsumen hingga ancaman terhadap keberlangsungan usaha kecil.