Pixel Code jatimnow.com

Gugur Saat Mengabdi, Rohid Wisuda Lewat Orang Tua

Wiyata Sabtu, 18 Apr 2026 17:34 WIB
Menteri Transmigrasi RI, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara (kiri) bersama Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati, menyerahkan ijazah kepada orang tua almarhum Abdul Rohid dalam Wisuda ke-133 ITS. (Foto: Humas ITS for jatimnow.com)
Menteri Transmigrasi RI, Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara (kiri) bersama Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati, menyerahkan ijazah kepada orang tua almarhum Abdul Rohid dalam Wisuda ke-133 ITS. (Foto: Humas ITS for jatimnow.com)

jatimnow.com - Suasana haru menyelimuti Wisuda ke-133 Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Sabtu (18/4/2026). Ijazah Abdul Rohid, wisudawan yang wafat saat menjalankan tugas pengabdian, diserahkan langsung kepada orang tuanya di hadapan ribuan peserta.

Menteri Transmigrasi RI Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara menyerahkan ijazah tersebut bersama Rektor ITS Bambang Pramujati. Momen berlangsung di Grha Sepuluh Nopember, Surabaya, disambut tepuk tangan panjang dari hadirin.

Abdul Rohid merupakan bagian dari Tim Ekspedisi Patriot yang ditugaskan memetakan potensi ekonomi di kawasan transmigrasi Bahari Tomini Raya, Sulawesi Tengah.

Pengabdian tersebut membuatnya menunda wisuda sejak September 2025. Ia kemudian wafat sebelum sempat merayakan kelulusannya.

Kedua orang tua almarhum, Abdul Ghofur dan Jumaika, menerima ijazah sarjana terapan dengan mata berkaca-kaca. Dukungan moral mengalir dari peserta wisuda yang berdiri memberi penghormatan.

Iftitah menyampaikan penghargaan negara atas dedikasi almarhum. “Abdul Rohid tidak hanya menyelesaikan studi, tetapi juga menuntaskan tugas hidupnya sebagai anak yang berbakti, manusia yang berguna, dan patriot bagi bangsa,” ujarnya.

Rektor ITS turut menyampaikan rasa bangga sekaligus duka. “Kami menghormati keteladanan almarhum yang menunjukkan dedikasi hingga akhir hayat,” kata Bambang.

Mahasiswa asal Sidoarjo tersebut dikenal berprestasi. Ia lulus dari program D4 Teknologi Rekayasa Instrumentasi dengan IPK 3,58 dan predikat cumlaude. Pilihan menunda wisuda demi pengabdian menjadi bukti komitmennya di luar ruang kelas.

Dalam prosesi tersebut, keluarga juga menyerahkan prototipe karya tugas akhir Rohid berupa Smart Air Purifier and Humidifier kepada kampus. Inovasi itu pernah meraih sejumlah penghargaan dan menjadi simbol dedikasinya di bidang teknologi.

Dukungan terhadap keluarga almarhum turut diberikan pemerintah dan kampus. Kementerian Transmigrasi menyiapkan beasiswa bagi adik Rohid hingga lulus sekolah, sementara ITS membuka peluang melanjutkan pendidikan hingga jenjang sarjana.

Ketua Tim Ekspedisi Patriot ITS, Aulia Siti Aisjah, menyatakan pihak kampus akan menjaga amanah tersebut.

“Kami ingin mimpi almarhum tetap hidup melalui pendidikan adiknya,” ujarnya.

Kisah Abdul Rohid meninggalkan jejak kuat tentang arti pengabdian. Gelar Sarjana Terapan Teknik yang diterima melalui orang tuanya menjadi penanda bahwa perjuangan telah tuntas, meski tanpa kehadiran di panggung wisuda ITS.