Pixel Code jatimnow.com

DPRD Jatim Temukan Penyebab Utama Longsor di Jalur Ponorogo-Pacitan

Peristiwa Kamis, 23 Apr 2026 18:45 WIB
Anggota DPRD Jatim Diana AV Sasa, Miseri Effendi, dan Atika Banowati saat meninjau lokasi longsor di jalur Ponorogo-Pacitan, Kecamatan Slahung. (Foto: Ahmad Fauzani/jatimnow.com)
Anggota DPRD Jatim Diana AV Sasa, Miseri Effendi, dan Atika Banowati saat meninjau lokasi longsor di jalur Ponorogo-Pacitan, Kecamatan Slahung. (Foto: Ahmad Fauzani/jatimnow.com)

jatimnow.com - Komisi D DPRD Jawa Timur menemukan fakta baru di balik longsor berulang di jalur Ponorogo-Pacitan. Dari hasil peninjauan lapangan, kawasan tersebut diketahui berada di zona sesar serta merupakan bekas gunung purba dengan struktur tanah yang labil.

Tiga anggota DPRD Jatim dari dapil IX, yakni Diana AV Sasa, Miseri Effendi, dan Atika Banowati, turun langsung meninjau sembilan titik longsor di jalur nasional tersebut, Kamis (23/4/2026).

Dalam peninjauan itu, mereka tidak hanya melihat dampak longsor, tetapi juga menelusuri penyebab utamanya. Hasil kajian menunjukkan bahwa kondisi geologi wilayah tersebut menjadi faktor dominan yang membuat longsor kerap terjadi.

“Di daerah ini memang teridentifikasi sebagai zona sesar. Selain itu, diperkirakan merupakan kawasan bekas gunung purba yang proses pelapukannya belum sempurna,” ujar Diana AV Sasa.

Ia menjelaskan, longsor di jalur tersebut bukan peristiwa baru, melainkan kejadian berulang yang dipicu oleh kombinasi berbagai faktor. Mulai dari kemiringan lereng yang curam, vegetasi yang kurang kuat menahan tanah, hingga keterbatasan kekuatan tembok penahan.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan kompleks yang membutuhkan penanganan menyeluruh. Apalagi, dari sejumlah kajian yang telah dilakukan Dinas PU Bina Marga, karakteristik tanah di kawasan itu relatif serupa meski berada di titik yang berbeda.

Selain itu, ditemukan adanya cekungan tanah yang mudah runtuh, terutama saat menahan beban air. Karena itu, salah satu solusi yang diusulkan adalah mengurangi beban tanah di area rawan longsor.

Namun, rencana tersebut tidak mudah direalisasikan karena sebagian wilayah masuk kawasan hutan lindung milik Perhutani yang memiliki aturan ketat.

“Kami akan bantu komunikasi lintas sektoral dengan Perhutani dan pihak terkait lainnya. Keselamatan masyarakat harus menjadi prioritas, apalagi jalur ini merupakan akses utama penghubung Ponorogo dan Pacitan,” tegasnya.

Senada, Miseri Effendi menambahkan bahwa pihaknya juga melibatkan akademisi dalam melakukan kajian. Hasilnya menunjukkan struktur tanah dengan kedalaman hingga 30 meter berpotensi memicu longsor.

“Ini menjadi perhatian serius. Kami akan dorong koordinasi lintas sektor agar ada langkah antisipasi ke depan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala UPT PJJ Jawa Timur wilayah Madiun, Jarwoto, menyebut faktor cuaca seperti curah hujan tinggi turut memperparah kondisi tanah yang sudah labil.

Ia menambahkan, berbagai kajian telah dilakukan bersama sejumlah perguruan tinggi, seperti ITS, Universitas Brawijaya, dan UGM. Hasilnya menguatkan bahwa kawasan tersebut berada di zona sesar dengan pergerakan tanah di kedalaman lebih dari 35 meter.

“Kalau penanganan permanen dengan konstruksi, tantangannya sangat besar. Salah satu opsi yang mungkin adalah relokasi,” pungkasnya.