Green Port PTP Nonpetikemas Prioritaskan Kesehatan Pekerja
Ekonomi Selasa, 26 Mei 2026 09:50 WIBjatimnow.com - PT Pelabuhan Tanjung Priok (PTP Nonpetikemas) memperkuat penerapan green port dengan menitikberatkan pada operasional ramah lingkungan, perlindungan kesehatan pekerja, dan dampak sosial berkelanjutan di sekitar wilayah pelabuhan.
Transformasi tersebut dijalankan melalui berbagai langkah pengendalian emisi, efisiensi energi, pengelolaan limbah berbasis 3R, hingga elektrifikasi alat bongkar muat guna menekan penggunaan bahan bakar fosil.
Direktur Utama PTP Nonpetikemas, Indra Hidayat Sani, mengatakan konsep green port tidak semata berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan dan kualitas hidup pekerja di kawasan pelabuhan.
“Green port bukan hanya tentang menjaga lingkungan, tetapi juga memastikan keberlangsungan operasional yang sehat dan aman bagi pekerja. Perlindungan terhadap kesehatan pekerja menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keberlanjutan bisnis,” kata Indra dalam keterangannya, Selasa (26/5/2026).
Sebagai operator terminal multipurpose, perusahaan menerapkan sistem manajemen lingkungan berbasis ISO 14001 dan penilaian PROPER. PTP Nonpetikemas juga mengoptimalkan proses bongkar muat agar lebih efisien dan rendah emisi.
Sejumlah inovasi diterapkan di area operasional, mulai penggunaan lampu LED, overhead crane (OHC), hingga elektrifikasi alat bongkar muat untuk mengurangi ketergantungan terhadap alat berbahan bakar fosil.
Pada penanganan komoditas curah cair, perusahaan menyiapkan oil boom sebelum aktivitas bongkar muat guna mencegah pencemaran laut. PTP Nonpetikemas juga meningkatkan kesiapsiagaan petugas melalui pelatihan IMO OPRC agar respons terhadap potensi pencemaran dapat dilakukan lebih cepat.
Aspek kesehatan pekerja turut menjadi perhatian utama, terutama bagi pekerja yang terlibat dalam penanganan komoditas curah kering dengan risiko paparan debu cukup tinggi.
Senior Manager Sekretaris Perusahaan PTP Nonpetikemas, Fiona Sari Utami, menyebut industri pelabuhan harus bergerak menuju operasional yang lebih bersih demi melindungi keselamatan manusia.
“Green port sudah menjadi kebutuhan. Industri pelabuhan harus bergerak menuju operasional yang lebih bersih dan berkelanjutan karena yang paling utama adalah kesehatan dan keselamatan manusia,” ujar Fiona.
Perusahaan menjalankan mitigasi risiko melalui pendekatan HSSE menggunakan metode HIRADC dan Health Risk Assessment (HRA) di 11 cabang operasional. Program medical check-up (MCU), fit to work, serta pengukuran kualitas lingkungan kerja juga dilakukan secara berkala.
Di lapangan, pengendalian polusi dilakukan lewat penyiraman rutin area dermaga dan stockpile, pemasangan dust suppression system, penggunaan alat ukur debu, hingga pengaturan operasional alat berat agar waktu idle dapat ditekan.
Penguatan budaya keselamatan kerja dilakukan melalui lebih dari 1,27 juta safety patrol sepanjang 2025 dan lebih dari 14 ribu safety briefing di seluruh wilayah operasional. Pemanfaatan HSSE Dashboard juga membantu pemantauan kondisi lapangan secara real-time.
Selain operasional hijau, PTP Nonpetikemas memperluas kontribusi sosial melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) yang terintegrasi dengan prinsip ESG dan target Sustainable Development Goals (SDGs).
Program tersebut mencakup bidang pendidikan, lingkungan, pengembangan UMKM, hingga sosial kemasyarakatan. Terdapat pula tiga program berbasis Creating Shared Value (CSV), yakni PTP Peduli K3 bersama Kementerian Ketenagakerjaan, sertifikasi profesi bagi pekerja harian di Terminal Kijing, serta EduPort yang membuka ruang inovasi bagi mahasiswa di sektor kepelabuhanan.
Dalam sektor lingkungan, perusahaan ikut menanam 11 ribu bibit mangrove bersama ekosistem Pelindo Group sebagai bagian dari pembangunan pelabuhan hijau.
Sementara melalui program Employee Social Responsibility (ESR), ratusan karyawan terlibat dalam kegiatan sosial seperti bantuan pendidikan, donor darah, pembagian sembako dan takjil, santunan anak yatim, hingga bantuan tanggap bencana.
PTP Nonpetikemas menilai keberhasilan bisnis tidak hanya diukur dari kinerja operasional, tetapi juga kontribusi nyata terhadap kesehatan pekerja, kelestarian lingkungan, dan pembangunan sosial masyarakat sekitar.