Pixel Code jatimnow.com

Alur Asa, Pesan Sabda Theatre di Usia 30 Tahun

Time Out Senin, 08 Jun 2026 17:00 WIB
Pementasan teater Kuning karya Mohamad Nizar Rahmanto menjadi puncak perayaan Dies Natalis ke-30 Sabda Theatre UIN Sunan Ampel Surabaya, Minggu (7/6/2026). (Foto: Isnan for jatimnow.com)
Pementasan teater Kuning karya Mohamad Nizar Rahmanto menjadi puncak perayaan Dies Natalis ke-30 Sabda Theatre UIN Sunan Ampel Surabaya, Minggu (7/6/2026). (Foto: Isnan for jatimnow.com)

jatimnow.com - Tiga dekade bukan usia yang singkat bagi sebuah komunitas seni kampus. Sabda Theatre, Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya, membuktikan eksistensinya dengan menggelar Dies Natalis ke-30 bertajuk "Alur Asa", Minggu (7/6/2026).

Perayaan yang berlangsung di lobi depan Gedung UINSA 2 itu menjadi penanda perjalanan panjang organisasi teater kampus dalam menjaga tradisi berkesenian sekaligus melahirkan generasi baru pegiat teater.

Menariknya, seluruh rangkaian acara harus dipersiapkan dalam waktu yang sangat terbatas. Panitia hanya mendapat izin penggunaan lokasi mulai pukul 12.00 hingga 21.00 WIB.

Dengan waktu kurang dari sembilan jam, mereka harus menyelesaikan pemasangan panggung, tata artistik, kebutuhan teknis, hingga pelaksanaan pertunjukan.

Namun keterbatasan tersebut justru melahirkan semangat gotong royong yang kuat. Puluhan panitia, kru, pemain, dan pendukung acara bekerja bersama untuk memastikan seluruh agenda berjalan sesuai rencana.

Lobi kampus yang biasanya menjadi ruang lalu lalang mahasiswa berubah menjadi arena pertunjukan yang hidup dan penuh apresiasi penonton.

Puncak perayaan diisi pementasan teater berjudul Kuning, karya Mohamad Nizar Rahmanto, S.Hum., yang disutradarai Ketua Sabda Theatre, Siti Zahrotul Janah.

Pertunjukan tersebut mengangkat kisah seorang perempuan muda bernama Kuning yang meninggalkan rumah demi mengejar kehidupan yang dianggap lebih baik. Dalam perjalanan hidupnya, ia bertemu sosok misterius bernama Panji yang menawarkan jalan pintas menuju impian.

Aktor Sabda Theatre menampilkan adegan pementasan Kuning dalam rangka Dies Natalis ke-30 Sabda Theatre UIN Sunan Ampel Surabaya, Minggu (7/6/2026). Naskah tersebut mengisahkan pergulatan seorang anak dengan ambisi dan godaan yang menjauhkannya dari keluarga, sekaligus menjadi refleksi tentang pilihan hidup dan makna kasih sayang orang tua. (Foto: Isnan for jatimnow.com)Aktor Sabda Theatre menampilkan adegan pementasan Kuning dalam rangka Dies Natalis ke-30 Sabda Theatre UIN Sunan Ampel Surabaya, Minggu (7/6/2026). Naskah tersebut mengisahkan pergulatan seorang anak dengan ambisi dan godaan yang menjauhkannya dari keluarga, sekaligus menjadi refleksi tentang pilihan hidup dan makna kasih sayang orang tua. (Foto: Isnan for jatimnow.com)

Alih-alih menemukan kebahagiaan, Kuning justru dihadapkan pada pilihan-pilihan yang menguji kesadaran dan nilai-nilai yang selama ini ia tinggalkan.

Melalui cerita tersebut, penonton diajak melihat kembali arti keluarga, ambisi, dan konsekuensi dari setiap keputusan yang diambil dalam kehidupan.

Tak hanya teater, malam perayaan juga diramaikan pembacaan puisi karya penyair nasional. Dewi membawakan puisi karya Wiji Thukul, sementara sejumlah alumni Sabda Theatre menampilkan karya-karya WS Rendra.

Salah satu momen yang menarik perhatian datang dari Menying Lucas yang memperkenalkan istilah "Merendra", sebuah gerakan sederhana untuk kembali membaca, mengenal, dan menghidupkan karya-karya WS Rendra di kalangan generasi muda.

Kolaborasi lintas program studi turut mewarnai acara. Mahasiswa Sastra Indonesia, Sastra Inggris, dan Sejarah Peradaban Islam tampil bersama membawakan puisi Tanpa Judul sebagai simbol perjumpaan berbagai disiplin ilmu dalam ruang kebudayaan.

Sebelum rangkaian acara dimulai, Tari Milu Sarju dari Banyuwangi tampil sebagai pembuka. Tarian tersebut mengandung pesan syukur, ketekunan, dan keberhasilan yang diraih melalui perjuangan panjang, nilai yang dianggap merepresentasikan perjalanan Sabda Theatre selama 30 tahun.

Ketua Sabda Theatre, Siti Zahrotul Janah, menilai perkembangan seni pertunjukan di Surabaya saat ini cukup menggembirakan karena semakin banyak ruang yang tersedia bagi anak muda untuk berkarya.

"Saat ini semakin banyak ruang bagi anak muda untuk berekspresi, baik melalui pertunjukan, festival, maupun media digital yang membuat karya seni lebih mudah dijangkau masyarakat," ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar yang dihadapi komunitas teater saat ini bukan hanya soal fasilitas, melainkan menjaga semangat berkesenian dan regenerasi organisasi.

"Tantangan terbesar yang saya rasakan adalah menjaga semangat berkesenian dan regenerasi komunitas. Namun saya melihat peluang besar melalui kolaborasi dan kreativitas generasi muda. Kami terus berupaya beradaptasi agar teater tetap hidup dan dekat dengan masyarakat," katanya.

Tema "Alur Asa" dipilih sebagai refleksi perjalanan organisasi yang telah melewati berbagai fase selama tiga dekade. Alur dimaknai sebagai kesinambungan nilai dan perjuangan yang diwariskan para pendahulu, sementara asa menjadi simbol harapan agar Sabda Theatre terus tumbuh dan berkembang pada masa mendatang.

Di usia ke-30 tahun, teater kampus UINSA ini menegaskan komitmennya untuk tetap menjadi ruang belajar, ruang berkarya, sekaligus rumah bagi generasi muda yang ingin mengenal dunia seni pertunjukan lebih dekat.

Perayaan tersebut menjadi bukti bahwa teater kampus masih memiliki denyut kehidupan yang kuat. Di tengah keterbatasan ruang, waktu, dan tantangan regenerasi, semangat berkesenian tetap menemukan jalannya melalui kerja kolektif dan kecintaan terhadap budaya.