Pixel Code jatimnow.com

Ketua MUI: Program MBG Mulia, Kekurangan Harus Diperbaiki Bukan Dihentikan

Peristiwa Minggu, 14 Jun 2026 14:00 WIB
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar. (Istimewa)
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar. (Istimewa)

jatimnow.com - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Anwar Iskandar menilai Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan kebijakan yang sangat mulia. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Gus War saat menanggapi munculnya aksi demonstrasi sejumlah kalangan mahasiswa yang menolak Program MBG. Menurut Gus War, dari perspektif agama, memberi makan kepada sesama merupakan perbuatan yang sangat dianjurkan dan memiliki nilai ibadah yang tinggi.

“Kalau dari perspektif agama, memberi makan itu sesuatu yang sangat mulia. Memberi makan orang lain merupakan bagian dari sifat yang dicintai Allah. Karena itu program memberi makan kepada masyarakat tentu merupakan sesuatu yang baik,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Al Amin Ngasinan Kediri itu, Sabtu (13/6/2026).

Meski mengakui masih terdapat berbagai persoalan dalam pelaksanaannya, Gus War menilai hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan untuk menghentikan program secara keseluruhan.

Menurutnya, berbagai dugaan penyimpangan maupun pelanggaran yang terjadi justru harus ditindak sesuai aturan dan menjadi bahan evaluasi agar program berjalan lebih baik.

“Bahwa dalam pelaksanaannya ada hal-hal yang kurang baik, itu tentu ada aturannya dan sudah ditindak. Yang pertama programnya mulia, kemudian pelaksanaannya yang harus diperbaiki,” katanya

Ia menilai berbagai kasus yang muncul lebih banyak disebabkan oleh oknum yang tidak menjalankan amanah dengan baik, sehingga manfaat yang seharusnya diterima masyarakat menjadi berkurang.

"Ada yang nakal, mestinya Rp10 ribu dikurangi menjadi Rp7 ribu atau Rp5 ribu. Mungkin diambil untuk mambal dulu nyuap ketika ingin mendapatkan izin. Ada satu titik Rp300 juta, Rp500 juta," beber Gus War.

Praktek curang tersebut berdampak buruk terhadap penerima manfaat. “Kalau ada yang nakal sehingga bantuan yang seharusnya diterima penuh menjadi berkurang, maka yang diperbaiki adalah pelakunya, bukan programnya,” tegasnya.

Selain manfaat gizi bagi anak-anak dan santri, Gus War menilai Program Makan Bergizi Gratis memiliki dampak ekonomi yang sangat besar karena mampu menciptakan lapangan kerja baru serta menggerakkan sektor usaha kecil.

Menurutnya, keberadaan dapur pelayanan MBG membuka peluang kerja bagi masyarakat sekaligus menyerap berbagai produk lokal yang diproduksi pelaku UMKM.

“Program ini bukan hanya bermanfaat bagi penerima makanan, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan dan menggerakkan UMKM. Mulai dari peternak ayam, pembuat tahu dan tempe, petani sayur, petani buah hingga pelaku usaha kecil lainnya,” jelasnya.

Ia menilai perputaran ekonomi yang tercipta dari program tersebut justru memberi manfaat langsung kepada masyarakat lapisan bawah.

Karena itu, Gus War mengibaratkan program MBG sebagai lumbung yang menghasilkan manfaat besar bagi masyarakat.

“Kalau ada tikus di lumbung, tikusnya yang dibasmi, bukan lumbungnya yang dibakar,” ujarnya.

Selain membahas Program Makan Bergizi Gratis, Gus War juga menanggapi kebijakan kenaikan harga BBM non subsidi yang menjadi salah satu isu dalam aksi demonstrasi mahasiswa.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa kenaikan harga hanya terjadi pada BBM non subsidi seperti Pertamax, sementara BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap dipertahankan pemerintah.

“Yang naik itu BBM non subsidi. Yang subsidi seperti Pertalite dan solar tidak naik. Jadi masyarakat kecil tetap terlindungi,” katanya.

Gus War menilai kenaikan harga Pertamax tidak akan memberikan dampak signifikan terhadap kelompok masyarakat berpenghasilan rendah karena mayoritas pengguna BBM tersebut berasal dari kalangan mampu.

“Kalau yang menggunakan BBM non subsidi umumnya masyarakat yang ekonominya lebih baik. Yang penting BBM subsidi jangan dinaikkan karena itu yang digunakan masyarakat kecil,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui dampak terhadap inflasi perlu tetap diantisipasi apabila kenaikan harga bahan bakar terjadi pada sektor transportasi distribusi barang kebutuhan pokok.

Terkait kondisi keuangan negara yang belakangan menjadi sorotan publik, Gus War memilih mempercayai penjelasan pemerintah bahwa fundamental ekonomi Indonesia masih dalam kondisi baik.

Menurutnya, langkah pemerintah memberantas korupsi dan memperbaiki tata kelola ekonomi menjadi bagian penting untuk menjaga kesehatan fiskal negara.

“Kalau korupsi ditindak dan kebijakan ekonomi diperbaiki, tentu keuangan negara akan semakin sehat,” jelasnya.

Ia juga menilai kondisi pangan nasional yang relatif stabil saat ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi Indonesia masih cukup kuat menghadapi berbagai tantangan global.

Gus War berharap perbedaan pandangan antara masyarakat dan pemerintah dapat diselesaikan melalui dialog yang konstruktif sehingga berbagai kebijakan publik dapat terus diperbaiki demi kepentingan bersama.

“Kita boleh berbeda pendapat, tetapi tetap harus mengedepankan dialog dan menjaga adab. Pemimpin adalah milik bangsa kita sendiri sehingga harus sama-sama dijaga dan dikoreksi dengan cara yang baik,” pungkasnya.