Melihat Ritual 1 Suro di Petilasan Sri Aji Jayabaya Kediri
Time Out Selasa, 16 Jun 2026 16:00 WIBjatimnow.com - Suasana khidmat menyelimuti Petilasan Sri Aji Jayabaya di Desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri, saat ritual peringatan 1 Suro pada Selasa (16/6/2026). Tradisi tahunan yang telah berlangsung sejak 1972 itu kembali menyedot perhatian masyarakat. Tak hanya warga lokal, sejumlah wisatawan mancanegara juga tampak hadir untuk menyaksikan secara langsung prosesi budaya yang menjadi bagian penting dari peringatan Tahun Baru Jawa tersebut.
Bagi masyarakat Desa Menang, ritual 1 Suro bukan sekadar agenda tahunan. Tradisi ini menjadi wujud penghormatan kepada Sang Prabu Sri Aji Jayabaya, sosok raja Kediri yang dikenal luas melalui karya ramalannya, Jangka Jayabaya.
Ketua Panitia Satu Suro, Hartono, mengatakan ritual tersebut digelar untuk memperingati pergantian Tahun Baru Jawa sekaligus mengenang jasa-jasa Sri Aji Jayabaya.
“Tujuan diadakannya upacara peringatan ritual 1 suro ini untuk memperingati pergantian tahun baru Jawa dan sekaligus untuk mengenang dan menghormati jasa-jasa Sang Prabu Sri Aji Jayabaya yang terkenal dengan karyanya yaitu ramalan atau Jangka Jayabaya,” katanya.
Tahun ini, rangkaian ritual berlangsung lebih panjang dibandingkan tahun sebelumnya. Jika tahun lalu prosesi hanya dilaksanakan di kawasan Petilasan Sri Aji Jayabaya, kali ini kegiatan juga mencakup Sendang Tirta Kamandanu.
Menurut Hartono, perbedaan tersebut berkaitan dengan penanggalan Jawa yang bertepatan dengan Selasa Wage.
“Kalau kemarin kan pada hari Jumat. Jadi upacaranya cuma dari Balai Desa menuju Pamoksan. Kalau hari ini kan hari Selasa Wage, jadi di Sendang juga diadakan,” jelasnya.
Rangkaian acara dimulai dari halaman Balai Desa Menang. Di lokasi itu, para tamu disambut dengan penampilan Tari Gambyong yang menambah nuansa sakral sekaligus meriah dalam pembukaan ritual. Setelah itu, dilakukan prosesi serah terima tongkat pusaka Kyai Bima dari Yayasan Hondo Dento kepada pelaku upacara sebagai simbol dimulainya kirab budaya.
Dari balai desa, ratusan peserta kemudian berjalan kaki menuju Pamoksan Sang Prabu Sri Aji Jayabaya. Arak-arakan berlangsung tertib dengan diikuti berbagai elemen masyarakat yang ingin menjadi bagian dari peringatan 1 Suro.
Sesampainya di Pamoksan, sejumlah prosesi adat digelar. Mulai dari caos dhahar yang dipimpin juru kunci, peletakan tongkat pusaka Kyai Bima, pembacaan naskah Munjul Atur, hingga ritual tabur bunga yang dilakukan oleh 16 remaja putri.
Jumlah peserta tabur bunga tersebut memiliki makna tersendiri.
“Karena 16 itu kan gadis di bawah usia 16 tahun ke bawah yang masih suci belum pernah M,” terangnya.
Setelah seluruh prosesi di Pamoksan selesai, peserta kembali melanjutkan kirab menuju Sendang Tirta Kamandanu. Tempat itu dipercaya sebagai lokasi Sang Prabu Sri Aji Jayabaya melakukan penyucian diri atau melukat sebelum mencapai moksa.
Hartono menjelaskan, Pamoksan dan Sendang Tirta Kamandanu memiliki keterkaitan erat dalam perjalanan spiritual Sri Aji Jayabaya.
“Kalau di Pamoksan Sri Aji Jayabaya itu kan tempat moksanya Prabu Sri Aji Jayabaya. Kalau untuk di Sendang Tirta Kamandanu ini kan tempat melukat atau bersuci Prabu Sri Aji Jayabaya sebelum melakukan moksa,” ujarnya.
Tak hanya menjadi magnet bagi masyarakat lokal, ritual tahun ini juga menarik perhatian wisatawan mancanegara. Sebanyak 15 wisatawan asal Prancis hadir untuk menyaksikan langsung jalannya prosesi budaya tersebut.
Menurut Hartono, kehadiran wisatawan asing dalam ritual 1 Suro bukan kali pertama terjadi. Dalam tiga tahun terakhir, tamu dari luar negeri tercatat telah tiga kali mengikuti kegiatan serupa di Desa Menang.
Antusiasme masyarakat pun disebut meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Selain sekitar 130 peserta inti dari Desa Menang, kirab juga diikuti berbagai komunitas budaya, paguyuban, pecinta sejarah, hingga masyarakat umum dari berbagai daerah.
“Untuk animo pengunjung kalau saya lihat lebih banyak tahun ini. Karena tahun ini kan tidak malam satu suronya kan tidak hari Jumat,” katanya.
Peringatan 1 Suro bukan menjadi satu-satunya agenda budaya di Desa Menang. Rangkaian kegiatan Bulan Suro masih akan berlanjut dengan pagelaran jaranan pada 10 Suro di kawasan Sendang Tirta Kamandanu. Sementara penutupan Bulan Suro juga akan dimeriahkan dengan pertunjukan kesenian jaranan di lokasi yang sama.
Melalui tradisi yang telah dijaga selama puluhan tahun tersebut, masyarakat berharap nilai budaya dan kearifan lokal peninggalan Sang Prabu Sri Aji Jayabaya tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
“Semoga dengan diadakannya kegiatan upacara ini, eh kita semua mendapatkan berkah dan mendapatkan apa ya, petunjuk pertolongan dari Tuhan Sang Pencipta,” tandasnya.