Guru Besar Teknik Kimia Ubaya Masuk Jajaran Peneliti Elite Dunia
Wiyata Rabu, 24 Jun 2026 15:17 WIBjatimnow.com - Prestasi membanggakan diraih Universitas Surabaya (Ubaya). Dosen Program Studi Teknik Kimia Fakultas Teknik Ubaya, Prof. Putu Doddy Sutrisna, Ph.D., masuk dalam daftar 5 persen peneliti terbaik dunia atau World’s Top 5% Scientists in the 2025 versi Scirank Global Registry.
Pengakuan tersebut menempatkan guru besar Bidang Teknik Kimia itu di jajaran ilmuwan berpengaruh dunia berkat kontribusinya dalam penelitian teknologi membran. Sepanjang karier akademiknya, Prof. Putu telah menghasilkan ratusan publikasi ilmiah yang banyak di antaranya terindeks Scopus.
Sejak bergabung sebagai dosen Ubaya pada tahun 2000, Prof Putu Doddy Sutrisna konsisten meneliti membrane technology, yakni metode penyaringan dan pemisahan senyawa kimia berbentuk gas maupun cairan.
Keahlian tersebut semakin diperdalam saat menempuh studi doktoral di UNESCO Centre for Membrane Science and Technology, University of New South Wales (UNSW), Australia.
Menurut Prof. Putu, aktivitas penelitian merupakan bagian tak terpisahkan dari tanggung jawab seorang akademisi.
“Saya harus mengimplementasikan Tri Dharma Perguruan Tinggi yang salah satunya adalah penelitian. Semakin banyak penelitian yang saya lakukan, keinginan untuk meraih gelar akademik yang lebih tinggi juga semakin kuat,” ujarnya.
Salah satu hasil riset yang dikembangkannya berupa teknik sintesis membran filter berbahan polimer untuk pemisahan gas dan cairan.
Teknologi tersebut memiliki sejumlah keunggulan dibanding metode penyaringan konvensional, seperti lebih elastis, tipis, tidak mudah pecah, memiliki daya rekat yang baik, serta mampu memilah molekul berdasarkan ukuran.
Saat ini, Kepala Laboratorium Satuan Operasi dan Teknologi Proses Kimia Ubaya tersebut tengah mendalami pemanfaatan teknologi membran untuk membantu mengurangi emisi gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap perubahan iklim global.
Tak hanya fokus pada penelitian dasar, Prof. Putu juga aktif mendampingi berbagai sektor industri dalam penerapan teknologi membran untuk proses penyaringan dan pemurnian limbah agar tidak mencemari lingkungan.
Kajian terbaru yang tengah dikerjakannya berkaitan dengan penggunaan teknologi membran untuk menyaring partikel mikroplastik dan nanoplastik yang berpotensi merusak kualitas air serta mengganggu kehidupan makhluk hidup.
Meski telah meraih pengakuan internasional, Prof. Putu menilai capaian tersebut bukan akhir dari perjalanan risetnya. Ia berkomitmen terus mengembangkan penelitian sekaligus menjaga reputasi akademik yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Baginya, predikat peneliti 5 persen terbaik dunia juga menjadi bukti bahwa peneliti Indonesia, termasuk dari perguruan tinggi swasta, mampu bersaing di tingkat global.
Di sisi lain, ia menilai masih banyak hasil penelitian di Indonesia yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh dunia industri. Karena itu, dukungan pemerintah dan sektor usaha dinilai penting untuk mempercepat hilirisasi hasil riset perguruan tinggi.
“Masih belum banyak hasil penelitian yang berhasil dihilirisasi di Indonesia. Padahal, apabila ada sinergi yang baik, capaian riset dari perguruan tinggi dapat dimanfaatkan oleh industri. Tentunya melalui dukungan yang maksimal dari pemerintah,” katanya.
Prof. Putu berharap kolaborasi antara kampus, industri, dan pemerintah semakin kuat sehingga hasil penelitian tidak berhenti di laboratorium, melainkan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.