Pixel Code jatimnow.com

ITS Kembangkan Alat Panjat Kelapa, Petani Bisa Panen Lebih Cepat dan Aman

Wiyata 10 jam yang lalu
Proses demo uji coba alat panjat kelapa Mocits di Sentra Kelapa Lumajang. (Foto: Humas ITS for jatimnow.com)
Proses demo uji coba alat panjat kelapa Mocits di Sentra Kelapa Lumajang. (Foto: Humas ITS for jatimnow.com)

jatimnow.com - Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menghadirkan Moto Climber ITS (Mocits), alat panjat kelapa yang dirancang untuk membantu petani memanen lebih aman sekaligus meningkatkan produktivitas.

Inovasi tersebut lahir sebagai respons atas tingginya risiko kerja pemanen kelapa serta masih rendahnya efisiensi panen di berbagai daerah.

Perangkat tersebut dikembangkan tim dosen Departemen Teknologi Kedokteran ITS yang dipimpin Ir Achmad Syaifudin ST MEng PhD IPM AEng atas permintaan Kementerian Pertanian RI.

Menurut Syaifudin, pengembangan berlangsung lebih cepat dibanding riset lain karena berangkat dari kebutuhan nyata di lapangan.

"Perancangan alat didasarkan pada kebutuhan sektor pertanian untuk meningkatkan produktivitas panen kelapa di Indonesia," ujarnya.

Selama proses pengembangan, tim ITS menghasilkan tiga generasi prototipe. Versi pertama masih memiliki sejumlah keterbatasan, mulai desain, pemilihan material hingga ukuran roda yang dinilai kurang ideal.

Tahap berikutnya melahirkan prototipe Beta yang sudah mampu memanjat pohon kelapa, meski kecepatan kerja dan bobot alat masih menjadi catatan. Meski demikian, versi tersebut menjadi model pertama yang dipamerkan di hadapan Menteri Pertanian.

Masukan dari petani kemudian menjadi dasar penyempurnaan hingga lahir prototipe Alpha yang telah diuji coba di Kabupaten Lumajang.

"Versi terakhir merupakan hasil optimalisasi setelah kami berdiskusi langsung dengan petani. Kinerjanya jauh lebih baik dibanding sebelumnya," kata Syaifudin.

Mocits dibekali sistem pengereman ganda yang membuat alat otomatis mengunci pada batang pohon saat berhenti.

Untuk naik, operator cukup menekan rem sambil menarik tuas gas, sedangkan saat turun cukup melepas gas dan rem secara perlahan.

Aspek keselamatan juga diperkuat melalui penggunaan sabuk pengaman bagi operator serta mesin yang diikat menggunakan sistem lashing. Dengan mekanisme tersebut, alat tetap tertahan meski rem tangan tidak digunakan.

Perangkat tersebut mampu menyesuaikan diameter batang kelapa antara 25 hingga 40 sentimeter.

Tim peneliti juga menyiapkan pengembangan berikutnya berupa sistem rack and pinion agar cengkeraman alat terhadap batang pohon semakin presisi.

Selain mengutamakan keamanan, desain Mocits dibuat sesederhana mungkin agar mudah dirawat masyarakat.

Salah satunya dengan memilih mekanisme rantai yang sudah akrab digunakan di lingkungan pedesaan.

Perwakilan Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian Jawa Timur, Dr Ismatul Hidayah SP MP, menilai pendekatan tersebut sesuai dengan kebutuhan petani.

"Teknologi harus membuat pekerjaan petani lebih efisien, aman, dan mudah diaplikasikan dibanding cara manual," ungkapnya.

Pengakuan serupa datang dari petani asal Lumajang, Muhammad Basiran, yang ikut menguji alat tersebut.

"Menurut saya alat ini lebih efektif dibanding cara konvensional. Cara mengoperasikannya juga mudah dipelajari oleh petani," katanya.

Untuk proses produksi, ITS menggandeng PT Smarttech Reborn 2007, perusahaan manufaktur milik alumnus Teknik Mesin ITS.

Produk tersebut selanjutnya akan dipasarkan melalui ITS Science Techno Park dan diusulkan masuk ke e-katalog Kementerian Pertanian.

Pengembangan Mocits menjadi bagian dari kontribusi ITS dalam mendorong modernisasi sektor pertanian melalui inovasi teknologi, sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan industri.