Pixel Code jatimnow.com

Buku Nyanyian Bawah Tanah, Rekam Jejak Penyiksaan Aktivis PRD 1996

Peristiwa Rabu, 01 Jul 2026 00:48 WIB
Buku Nyanyian Bawah Tanah mengungkap kesaksian 8 penyintas aktivis SMID/PRD 1996 yang mengalami penyiksaan demi memperjuangkan demokrasi. (Foto: Instagram)
Buku Nyanyian Bawah Tanah mengungkap kesaksian 8 penyintas aktivis SMID/PRD 1996 yang mengalami penyiksaan demi memperjuangkan demokrasi. (Foto: Instagram)

jatimnow.com - Kebebasan berpendapat yang dinikmati masyarakat hari ini tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari peluh dan darah para pejuang reformasi.

Ingatan kolektif kekejaman masa lalu kembali menyeruak melalui peluncuran buku Nyanyian Bawah Tanah: Kisah Penangkapan dan Penyiksaan Aktivis SMID/PRD 1996 di Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (30/6/2026).

Karya dokumenter tersebut membawa misi besar: menolak lupa atas belum tuntasnya penyelesaian pelanggaran HAM berat masa lalu.

Melalui penuturan jujur delapan penyintas, lembar demi lembar buku tersebut memotret kekejaman aparat menjelang runtuhnya rezim Orde Baru.

Para korban membagikan pengalaman traumatis mulai dari penangkapan sewenang-wenang, penahanan tanpa prosedur legal, hingga intimidasi dan penyiksaan fisik selama berhari-hari.

Kesaksian mereka menjadi bukti otentik bahwa fondasi demokrasi Indonesia berdiri di atas pengorbanan nyawa dan raga.

Hadir sebagai pembicara utama, Tenaga Ahli Kementerian HAM RI Ester Jusuf menyatakan bahwa buku tersebut menjadi instrumen krusial bagi generasi muda.

"Suara para korban yang dihadirkan secara langsung memegang peran vital dalam merawat kesadaran publik. Langkah tersebut memastikan praktik culas pelanggaran hak asasi manusia tidak pernah terulang lagi pada masa depan," ujar Ester.

Komisioner Komnas HAM RI, Uli Parulian Sihombing, bersama tokoh gerakan buruh Dita Indah Sari, turut membedah isi buku bersama dua penulis yang juga penyintas, Trio Marpaung dan Syani.

Dalam diskusi yang dipandu oleh Assoc. Prof. Dr. Tuti Widyaningrum tersebut, para panelis sepakat bahwa dokumen sejarah dari sudut pandang korban sangat langka namun bernilai tinggi.Selama puluhan tahun, narasi sejarah kerap didominasi oleh versi formal milik penguasa.

Kehadiran buku tersebut mendobrak barikade tersebut dengan memperkaya literatur sejarah dari kacamata mereka yang berada di ruang-ruang interogasi gelap.

Masyarakat luas, terutama generasi Z dan milenial, diajak untuk melihat sejarah bukan sekadar deretan angka atau arsip kaku di museum. Sejarah itu hidup, bernapas, dan membekas pada tubuh serta psikologis para korban yang masih ada di sekitar kita.

Melalui ruang dialog terbuka seperti ini, panitia berharap perbincangan mengenai keadilan bagi korban pelanggaran HAM tidak meredup di ruang seminar kampus saja.

Isu kemanusiaan harus menjelma menjadi kesadaran kolektif warga negara, sebab penghormatan terhadap hak asasi manusia adalah tiang pancang utama sebuah negara hukum yang sehat.