Cerita Sedih Guru SDN Gadungan 2 Kediri, Tak Ada Murid Baru di Penghujung Masa Bakti
Peristiwa 9 jam yang lalujatimnow.com - Di saat sekolah-sekolah dasar lain dipenuhi tawa siswa baru yang menjalani Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), suasana berbeda justru terasa di SDN Gadungan 2, Kecamatan Puncu, Kabupaten Kediri.
Tak ada seragam merah putih baru. Tak ada wajah-wajah kecil yang malu-malu memasuki ruang kelas. Untuk pertama kalinya sejak sekolah itu berdiri, tidak satu pun siswa mendaftar di kelas I pada tahun ajaran 2026/2027.
Yang tersisa hanyalah 31 siswa, mulai kelas II hingga VI. Sebuah angka yang terus menyusut dari tahun ke tahun.
Bagi Tria Tin, guru yang telah mengabdikan diri sejak 2016, pemandangan itu menjadi ironi paling menyakitkan menjelang masa purnatugasnya. Saat pertama kali mengajar, sekolah ini masih dihuni sekitar 150 murid. Kini, ia harus menutup perjalanan panjangnya sebagai guru dengan melihat ruang kelas yang perlahan kosong.
“Saya merasa sedih ya, di masa purna saya ini harus menghadapi situasi seperti ini,” ucap Tria dengan nada lirih, Rabu (15/7/2026).
Kesedihan itu bukan hanya karena jumlah murid yang terus berkurang. Dalam waktu dekat, dua dari empat guru di SDN Gadungan 2 juga akan memasuki masa pensiun. Artinya, sekolah ini tak hanya kehilangan siswa, tetapi juga perlahan kehilangan tenaga pendidik yang selama puluhan tahun menghidupkannya.
Selama bertahun-tahun, Tria mengaku telah berupaya memberi berbagai masukan kepada pimpinan sekolah agar kepercayaan masyarakat bisa kembali dibangun. Namun usaha tersebut belum mampu membalikkan keadaan.
“Di kepala sekolah yang dulu saya sudah kerap beri masukan apa pun itu, tapi ya begitulah, kurangnya kepercayaan masyarakat pada kita,” ujarnya.
Pelaksana Tugas Kepala SDN Gadungan 2, Nur Edy, mengatakan kondisi tersebut bukan terjadi secara tiba-tiba. Penurunan jumlah siswa telah berlangsung selama beberapa tahun hingga akhirnya tahun ini tidak ada satu pun pendaftar baru.
Menurutnya, pihak sekolah bersama pengawas dan penilik taman kanak-kanak telah melakukan berbagai pendekatan kepada masyarakat. Namun mereka menemukan persoalan yang sama, yakni rendahnya kepercayaan warga terhadap sekolah tersebut.
“Kami sendiri sudah upaya pendekatan dari orang tua, dari lingkungan sudah, dari penilik, pengawas TK itu ternyata keluhannya sama. Di sini tidak diurusi, tidak dipercaya oleh lingkungan dan sebagainya. Ternyata itu sudah lama, baru muncul dampaknya kali ini,” jelasnya.
Selain persoalan kepercayaan, lokasi SDN Gadungan 2 yang berdekatan dengan beberapa sekolah dasar lain juga membuat calon siswa lebih memilih sekolah yang dianggap lebih memiliki daya tarik.
“Di sini antara SD yang satu dengan yang lain terlalu dekat. Dengan Gadungan 4 tidak sampai satu kilometer, dengan Gadungan 1 juga tidak sampai satu kilometer, sehingga mereka banyak yang berlari ke lembaga lain yang dianggap lebih potensial,” katanya.
Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, kualitas lulusan sekolah masih terjaga. Seluruh siswa kelas VI tahun ini berhasil melanjutkan pendidikan ke sekolah negeri. Namun capaian itu belum cukup mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Mokhamat Muhsin, mengatakan pihaknya akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sekolah-sekolah yang memiliki jumlah siswa sangat sedikit.
Evaluasi meliputi standar guru dan tenaga kependidikan, sarana prasarana, hingga pelaksanaan kurikulum.
“Iya, Disdik akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sekolah yang muridnya sedikit, di antaranya evaluasi standar GTK, sarpras, kurikulum dan lain-lain,” ujarnya.
Selain evaluasi, Dinas Pendidikan juga menyiapkan sejumlah opsi, mulai dari menempatkan guru yang memiliki pengaruh di Desa Gadungan hingga kemungkinan penggabungan atau merger sekolah dalam jangka panjang.
Di tengah ketidakpastian itu, Nur Edy berharap masih ada kesempatan bagi SDN Gadungan 2 untuk bangkit. Menurutnya, jika sekolah ini ingin tetap hidup, seluruh pemangku kepentingan harus bergerak bersama membangun kembali kepercayaan masyarakat.
Namun jika akhirnya sekolah harus digabung dengan sekolah lain, ia memilih menyerahkan keputusan tersebut kepada pemerintah.
Di halaman sekolah yang kini jauh lebih lengang, harapan itu masih tersisa. Begitu pula dengan para guru yang tetap datang mengajar setiap pagi, meski tahu tahun ini tak ada lagi anak kecil yang akan mengetuk pintu kelas I untuk pertama kalinya.