Pixel Code jatimnow.com

Mas Dhito Sambangi Marfel, Bocah SD di Kediri yang Rawat Ibunya Sendirian

Pemerintahan 4 jam yang lalu
Mas Dhito berbincang dengan Marfel di rumahnya yang sederhana di Ngancar. (Foto: Pemkab Kediri/jatimnow.com)
Mas Dhito berbincang dengan Marfel di rumahnya yang sederhana di Ngancar. (Foto: Pemkab Kediri/jatimnow.com)

jatimnow.com - Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana sambangi bocah laki-laki kelas 5 SD asal Desa Ngancar yang kesehariannya merawat ibunya yang lumpuh seorang diri. Tidak seperti kehidupan teman sebayanya, di usianya yang masih belia, bocah itu harus memikul tanggung jawab pekerjaan rumah, karena sang ayah telah tiada.

Kehadiran Mas Dhito pada Kamis siang (13/8/2026) ini langsung disambut Marfelino Dhuha Saputra (11) yang baru saja pulang sekolah. Masih menggunakan seragam merah putih dan bersepatu, Marfel pun mempersilakan bupati duduk di kursi kayu rumahnya yang sederhana.

Kisah Marfel menarik Mas Dhito untuk mengetahui lebih dalam. Duduk berjajar di kursi yang sama, bupati muda ini terus mengulik aktivitas keseharian Marvel dengan banyak pertanyaan.

"Kamu bisa masak?" tanya Mas Dhito.

"Bisa, masak jangan (sebutan sayur dalam bahasa Jawa) apa saja, asal diberitahu caranya," jawab Marfel

Dengan polos Marfel menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan bupati. Bocah itu memang kesehariannya biasa masak sendiri, termasuk pekerjaan mencuci maupun membersihkan rumah.

"Sejak kapan mulai merawat ibumu? Kembali Mas Dhito bertanya kepada Marfel.

"Sejak kelas 3 akhir-akhir," jawab bocah kelas 5 SD itu.

Ibu Marfel yang bernama Kumala (41) memang sudah sekitar 2 tahun mengalami pengapuran tulang. Dengan kondisinya itu, saat kedatangan bupati ke rumahnya, dia pun hanya bisa berbaring di tempat tidur yang berada di samping pintu ruang tamu.

Dengan kondisinya itu, aktivitas Kumala harus dibantu sang anak. Mulai untuk makan, Marfel begitu bangun tidur langsung masak seadanya untuk sarapan bersama ibunya, baru kemudian berangkat sekolah.

Begitu pulang sekolah, bocah itu juga kembali masak untuk ibunya. Kemudian, sore harinya seperti teman-temannya yang lain Marfel pun mengaji.

"Ini anak yang luar biasa. Tadi saya tanya kapan mainnya, kata dia main setelah habis ngaji," terang Mas Dhito.

Menurut cerita Mas Dhito, ketika awal melakoni tanggung jawab merawat ibunya, anak tersebut sempat merasakan berat. Namun kini dia telah terbiasa dan tidak menjadikan tanggung jawab itu sebagai beban.

Mas Dhito pun terus memberikan dukungan bagi Marfel. Dia berpesan, di tengah tanggung jawab merawat ibunya, bocah itu tidak boleh melupakan ibadah dan harus terus bersekolah.

Sebelum berpamitan, Mas Dhito juga meninggalkan nomor ponsel pribadinya kepada Marvel. Sewaktu-waktu bocah itu butuh sesuatu, dia diminta untuk segera menghubungi.

"Kalau ada apa-apa dia sewaktu-waktu boleh hubungi saya. Kebutuhan sekolah, makan dan sebagainya kita yang akan cukupi," pungkas Mas Dhito.