Pixel Code jatimnow.com

Tradisi HUT RI di Trenggalek: Pemkab dan Baznas Bedah 17 Rumah Tak Layak Huni

Pemerintahan 4 jam yang lalu
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin saat meninjau hasil bedah rumah. (Foto: Prokopim/jatimnow.com)
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin saat meninjau hasil bedah rumah. (Foto: Prokopim/jatimnow.com)

jatimnow.com - Sebanyak 17 rumah direnovasi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Trenggalek. Peresmian renovasi ini dilakukan bertepatan dengan Upacara HUT ke-81 RI kemarin. Kegiatan tersebut merupakan tradisi yang selalu dilakukan setiap tahun. Bersama Baznas, TNI-Polri, dan elemen masyarakat, Pemkab Trenggalek menggelar program bedah 17 unit rumah tidak layak huni bagi warga yang membutuhkan.

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin meninjau salah satu hasil renovasi rumah pada Senin (17/8/2026). Lokasi yang dikunjungi adalah hunian milik Hasan Ashari, warga Cengkong, Kelurahan Tamanan. Rumah yang dulunya hanya berdinding bilik bambu (gedek) dan kerap bocor, kini telah berubah menjadi hunian yang kokoh serta layak.

Pria yang akrab disapa Mas Ipin tersebut menyatakan bahwa aksi sosial ini telah menjadi tradisi tahunan di Kabupaten Trenggalek. Menurutnya, program ini bersumber dari semangat gotong royong serta hasil zakat dan sedekah jajaran aparatur sipil negara (ASN), pelaku usaha, dan masyarakat luas yang disumbangkan melalui Baznas.

"Kemerdekaan itu kadang sangat sederhana. Bagi sebagian orang, terbebas dari atap rumah yang bocor adalah sebuah kemewahan yang luar biasa. Kami sangat bersyukur atas kolaborasi Baznas, TNI-Polri, dan warga yang bahu-membahu menuntaskan pembangunan ini," ujarnya di lokasi peninjauan.

Ia juga mengapresiasi swadaya masyarakat setempat yang secara bergantian menjadi tenaga bangunan. Gotong royong warga dinilai menjadi kunci utama keberhasilan program ini.

Sementara itu, Wakil Ketua Baznas Trenggalek, Rohmat, mengungkapkan kekagumannya terhadap partisipasi masyarakat di lingkungan Kelurahan Tamanan. Pembangunan rumah milik Hasan Ashari diselesaikan dalam waktu kurang lebih satu bulan dengan sistem jadwal pengerjaan (shift) yang melibatkan warga.

"Di tempat Pak Hasan ini hasilnya sangat luar biasa, baik dari kualitas bangunan maupun semangat gotong royong lingkungannya. Warga bahkan bergantian kerja bakti dalam tiga shift—pagi, siang, hingga malam hari. Ini melampaui ekspektasi standar pembangunan kami," ungkap Rohmat.

Tradisi bedah 17 rumah saban tanggal 17 Agustus ini diharapkan terus berlanjut sebagai simbol pemerataan kebahagiaan dan kemerdekaan yang nyata bagi seluruh lapisan masyarakat Trenggalek.