Pewarta Foto PFI: AI Alat Bantu, Bukan Pengganti Nurani
Peristiwa Selasa, 22 Sep 2026 13:05 WIBjatimnow.com - Kemampuan kecerdasan buatan (AI) memproduksi gambar rekayasa makin sulit dibedakan dari foto asli. Dalam lokakarya Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026 di Politeknik Negeri Batam, akhir pekan lalu, sejumlah peserta bahkan terkecoh saat diminta membedakan foto jurnalistik dengan hasil manipulasi AI.
Uji visual itu dilakukan oleh Koordinator Wilayah Pewarta Foto Indonesia (PFI) Sumatera, Hendra Syamhari. Di hadapan 29 peserta yang terdiri dari kreator konten dan jurnalis, ia menunjukkan langsung bagaimana ancaman hoaks visual memanipulasi persepsi publik.
"Sebuah foto harus disajikan secara jujur dan transparan. Publik berhak memahami suatu peristiwa secara utuh tanpa dimanipulasi," kata Hendra di Ruang Rapat TA 9.4 Gedung Tower A Politeknik Negeri Batam.
Ia menegaskan, etika jurnalistik kini menjadi benteng pertahanan mutlak dari penyebaran hoaks visual. Karya visual harus mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan saat peristiwa terjadi.
Selain itu, kata dia, foto jurnalistik wajib didampingi takarir (keterangan foto) sebagai bagian tak terpisahkan dari informasi.
Hendra juga menyoroti kebiasaan masyarakat digital yang kerap mempercayai keaslian foto hanya berdasarkan tingginya jumlah like di media sosial.
"Jika melihat sesuatu yang meragukan, baik berita maupun foto, kita harus mencari tahu kebenarannya. Kalau tidak ada media yang memberitakan, skip," tegasnya.
Fotografer lepas M. Noor Kanwa yang turut menjadi narasumber menyebut kehadiran AI memang merombak cara produksi foto. Namun, ia mengingatkan adanya batasan tegas mengenai penggunaan AI di ranah jurnalistik.
AI, menurut Kanwa, sekadar alat bantu penyuntingan teknis untuk mengoreksi warna, bukan untuk memanipulasi esensi atau realitas.
"AI digunakan untuk mengimbangi keterbatasan teknis tanpa mengubah makna foto. Tidak untuk mengubah warna esensial, seperti mengubah warna rambut untuk keperluan manipulasi usia," paparnya.
Ia mengingatkan bahwa nilai tertinggi dari foto jurnalistik tetap berada pada momen, yakni peristiwa yang ditangkap lensa dan tidak bisa diulang untuk kedua kalinya.
"Pembuat foto bagus itu banyak, tetapi yang mendapatkan momen hanya orang-orang tertentu. AI ini adalah alat bantu, bukan pengganti nurani jurnalis," ujar Kanwa.
Lokakarya yang dimoderatori oleh Fara Verwey dari AJI Tanjungpinang ini ditutup dengan membedah karya visual lapangan.
Peserta disuguhi foto-foto dari buku jurnalistik Prahara Pulau Emas, yang mendokumentasikan kondisi nyata korban serta dampak bencana banjir di Aceh dan wilayah Sumatera lainnya.