Musim Kemarau, Harga Tebu di Tulungagung Mengalami Kenaikan
Peristiwa 5 jam yang lalujatimnow.com - Musim kemarau panjang tahun ini mendatangkan keuntungan tersendiri bagi petani tebu di Tulungagung. Cuaca panas membuat tingkat rendemen pada tanaman tebu membaik. Kondisi ini membuat harga tebu mengalami kenaikan dibanding sebelumnya. Meskipun begitu kemarau ini juga menjadi tantangan tersendiri bagi petani.
Ketua DPD Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jawa Timur mengatakan tingkat rendemen saat ini mencapai angka 9 persen. Padahal biasanya angka rendemen hanya berkisar antara 7-8 persen saja. Tingginya rendemen ini membuat harga tebu mengalami kenaikan. Saat ini pabrik gula membeli tebu petani hingga Rp120 ribu per kwintal.
"Di awal masa giling kemarin harganya mash Rp70 ribu per kwintal, saat ini sudah mengalami kenaikan," ujarnya, Kamis (8/10/2026).
Meskipun harga naik, namun faktor cuaca juga membuat produksi tebu mengalami penurunan hingga 30 persen. Musim kemarau juga menjadi tantangan tersendiri bagi petani tebu. Mereka harus menggunakan mesin pompa air untuk mengairi lahan tebu.
"Hampir mayoritas seluruh daerah jumlah produksi mengalami penurunan, namun hal itu tertutup dengan tingginya harga tebu saat ini," tuturnya.
Para petani tebu juga mengeluhkan penerimaan pupuk subsidi yang tidak merata dalam program bongkar ratoon. Petani tebu yang mendapat alokasi pupuk subsidi dari pemerintah belum merata. Pupuk subsidi hanya dialokasikan untuk luasan lahan 2 hektare. Akibatnya, lahan yang tidak mendapat alokasi pupuk subsidi harus menanggung biaya sendiri. Disisi lain, harga pupuk nonsubsidi juga mengalami kenaikan.
"Kami sudah sampaikan kepada instansi terkait, agar petani bisa mendapat pupuk subsidi sesuai luasan tanam," pungkasnya.