jatimnow.com - Musim kemarau yang terjadi di tahun 2018 ini membuat kekeringan di beberapa wilayah provinsi Jawa Timur. Krisis air bersih dampak kekeringan ini dirasakan oleh warga.
Berdasarkan keterangan dari Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) provinsi Jatim, Suban Wahyudiono mengatakan, jika saat ini pihaknya sudah mengupayakan semaksimal mungkin membantu masyarakat untuk mendapatkan distribusi air bersih.
Kekeringan sendiri dibagi menjadi tiga tingkatan yakni, kekeringan langka terbatas, kekeringan langka dan kekeringan kritis.
"Untuk kekeringan langka terbatas dan kekeringan langka pihak kami sudah mengatasinya dengan cara mengebor dan membangun embung air. Nantinya masyarakat bisa memanfaatkan dan mengakses air dari potensi-potensi yang sudah kita bor itu," terang Suban ketika dihubungi jatimnow.com, Minggu (16/9/2018).
Untuk kondisi daerah yang mengalami kekeringan kritis sudah tidak ada potensi air di daerah tersebut. Dalam hal ini pemerintah tidak dapat mengebor atau membuat saluran air disekitar daerah tersebut untuk mengatasi kekeringan.
Saat ini pihak BPBD Jatim sudah membangun saluran air di 126 desa yang berarti 25 persen dari daerah terdampak sudah teratasi. Untuk mengatasi kekeringan mendatang pihaknya juga akan membangun saluran air untuk 97 desa. Desa-desa tersebut bukan merupakan desa dengan kekeringan kritis.
"Daerah kekeringan kritis bukan prioritas utama pembangunan saluran air karena sumber air cukup jauh mendapatkannya. Seperti contoh salah satu desa di Madura yang sumber airnya berjarak 15 km diatas gunung, itu memerlukan biaya yang cukup besar. Jadi kita kerjakan yang mudah dulu, daerah kritis menunggu semua teratasi " kata Suban.
Dengan dikerjakannya yang mudah terlebih dahulu bukan berarti pihak BPBD menelantarkan daerah terdampak kekeringan kritis. Pihaknya selalu memberikan air (dropping) dalam tangki air 6000 liter untuk keperluan air rumah tangga di daerah yang terdampak kekeringan kritis.
"Hingga kini kami sudah dropping 1.670 tangki air yang masing-masing 6.000 liter. Hujan nanti akan mulai turun pada bulan November, itu berdasarkan perkiraan BMKG ya. Kayaknya kekeringan ini akan usai pada akhir Oktober. Kita doakan saja supaya kemarau segera usai sehingga daerah yang terdampak kekeringan dapat teratasi," harapnya.
Krisis Air Bersih di Wilayah Jawa Timur Masih Belum Teratasi
Minggu, 16 Sep 2018 13:13 WIB
Reporter :
Arry Saputra
Arry Saputra
Berita Terbaru
600 Siswa SDIT El Haq Ikuti Microplastic Journey, Perkuat Sekolah Bebas Plastik
Pemkab Jember Siapkan Langkah Taktis Hadapi Ancaman Kekeringan
Prudential Indonesia Luncurkan Levela, Platform Literasi Keuangan untuk Gen Z
Siswa SMK Telkom Malang Ciptakan Game Edukasi Batik Berbasis Teknologi AR
KONI Kabupaten Kediri Tes Parameter Atlet, Matangkan Persiapan Porprov Jatim 2027
Tretan JatimNow
Maria Apriliani, Doktor Muda Alumni UNAIR yang Bersinar di Kancah Internasional
Kisah Dr. Sentot Purwandi, Alumni Farmasi UNAIR yang Pantang Menyerah
Kisah Ory dan Sherlita, Menghidupkan Spirit Kartini di Era Digital
Cerita Uung Victoria Finky Arungi Laut 14 Jam demi Ibu Menyusui
Terpopuler
#1
Lama Tak Buka Kios, Ratusan Pedagang Pasar Tradisional di Tulungagung Ditegur
#2
KI Jatim Menangkan Gugatan Warga, Pemkot Surabaya Wajib Buka SK Graha Famili
#3
Prakiraan Cuaca Surabaya Hari Ini: Cerah Berawan
#4
Ustaz di Sidoarjo Perkosa Santri 11 Tahun, Korban Diancam-Dijanjikan Istri Kedua
#5