Kata Pakar ITS soal Penyebab Motor Brebet Setelah Isi Pertalite

Rabu, 29 Okt 2025 21:17 WIB
Reporter :
Ni'am Kurniawan
Petugas Pertamina saat mengecek kualitas pertalite dari sejumlah pengunjung SPBU (foto: Pertamina for jatimnow.com)

jatimnow.com - Kasus sepeda motor mogok atau brebet usai mengisi Pertalite di SPBU belakangan ramai dikeluhkan warganet. 

Dosen Departemen Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Bambang Sudarmanta menjelaskan, masalah ini tak semata karena bahan bakar, tetapi juga berkaitan dengan karakter mesin dan kondisi distribusi BBM di lapangan.

“Setiap motor dirancang dengan rasio kompresi berbeda, dan itu menentukan kebutuhan nilai oktan atau RON bahan bakar. Kalau tidak sesuai, performa langsung drop,” jelas Prof. Bambang, Rabu (29/10/2025).

Baca juga: Kata Pertamina EP Cepu soal Bau Menyengat di Wilayah Operasional Bojonegoro

Ia memaparkan, motor bebek umumnya memiliki rasio kompresi 8,5–9,5:1 sehingga masih cocok memakai RON 90–92 seperti Pertalite. 

Sedangkan motor matik modern dengan rasio kompresi di atas 9,5:1 idealnya menggunakan RON 92 ke atas. Untuk motor sport dan performa tinggi, RON minimal 95 adalah keharusan.

“Kalau motor dengan kompresi tinggi diisi Pertalite, pembakaran jadi tidak optimal. Gejalanya muncul brebet, tenaga lemah, bahkan bisa terjadi knocking atau ngelitik,” ujarnya.

Dalam analisisnya, Prof. Bambang menunjukkan sejumlah gejala umum yang muncul ketika kualitas bahan bakar tidak sesuai. Di antaranya akselerasi lambat, suara kasar, konsumsi BBM meningkat, hingga mesin cepat panas.

“Nilai oktan rendah membuat pembakaran terjadi terlalu cepat. Akibatnya piston lebih cepat aus dan efisiensi mesin turun,” tambahnya.

Baca juga: PGN Borong Apresiasi BPH Migas 2025, Fokus Swasembada Energi Nasional

Selain faktor teknis mesin, ada pula penyebab lain di lapangan yang kerap luput dari perhatian pengguna. Misalnya, air yang masuk ke tangki SPBU karena kelembapan tinggi atau hujan, tangki bawah tanah yang jarang dibersihkan, hingga sisa campuran pengiriman bahan bakar sebelumnya.

\

“Air dan endapan di tangki SPBU bisa ikut tersedot ke kendaraan. Akibatnya bahan bakar tercampur air, menyebabkan misfire dan brebet saat akselerasi,” jelasnya.

Motor-motor injeksi, menurut Prof. Bambang, lebih sensitif terhadap perubahan kualitas bahan bakar dibanding motor karburator. 

ECU (Engine Control Unit) butuh waktu untuk menyesuaikan kadar udara dan bahan bakar. Jika bahan bakar terlalu mudah menguap atau tercampur air, campuran udara-bensin jadi tidak ideal.

Baca juga: Foto: Gas LPG Napas Wisata Gili Trawangan

“ECU bisa salah membaca kondisi beban dan udara, sehingga mesin tersendat atau idle tidak stabil,” terangnya.

Ia menyarankan pengguna sepeda motor memperhatikan rekomendasi bahan bakar sesuai spesifikasi pabrikan, serta mengisi BBM di SPBU dengan sirkulasi penjualan tinggi agar risiko endapan lebih kecil.

“Kalau motor Anda punya kompresi di atas 10:1, sebaiknya gunakan minimal Pertamax. Jangan tunggu mesin brebet baru sadar oktan penting,” pungkas Prof. Bambang.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler