jatimnow.com - Dunia pengembangan aplikasi mobile memasuki babak baru di mana kode program tidak lagi diketik baris demi baris secara manual, melainkan diperintahkan melalui bahasa alami.
Tren "Agent-First IDE" ini menjadi magnet utama dalam gelaran FlutterFusion Conference 2026 yang berlangsung di Auditorium Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (Institut STTS), Sabtu (21/2/2026).
Joshua De Guzman, Senior Software Engineer sekaligus Flutter Google Developer Expert (GDE), membedah bagaimana kehadiran Gemini 3.1 Pro mengubah peta kerja pengembang perangkat lunak.
Baca juga: Kisah 3 Mahasiswa Surabaya Terpilih Jadi Google Student Ambassador Pertama
Menurut pakar asal Manila ini, teknologi AI saat ini bukan sekadar alat bantu, melainkan mitra yang mampu menggantikan hingga 80% dari alur kerja berulang pada seorang insinyur perangkat lunak biasa
"Dulu, saya menghabiskan waktu berjam-jam memahami sintaksis dan fungsi alat secara manual. Sekarang, saya cukup memberikan perintah atau prompt dalam bahasa sehari-hari," ujar Joshua di hadapan ratusan pengembang dan mahasiswa.
Inti dari efisiensi ini terletak pada Antigravity, sebuah code editor besutan Google yang mengusung konsep agent-first.
Berbeda dengan editor konvensional, Antigravity memanfaatkan kecerdasan Gemini 3.1 Pro untuk menerjemahkan keinginan pengembang menjadi kode fungsional secara instan.
Bagi sektor bisnis, lompatan teknologi ini menjanjikan akselerasi produk ke pasar. Perusahaan kini bisa mengalihkan energi mereka untuk memecahkan masalah strategis daripada terjebak dalam detail implementasi dasar yang repetitif.
Baca juga: Pakar Google Dunia Bedah Masa Depan Coding di FlutterFusion Conference 2026
Meski AI mendominasi, Joshua mengingatkan para engineer muda agar tidak meninggalkan fundamental.
"Dasar-dasar pemrograman tetap menjadi pilar. Aspek keamanan, pengelolaan data, dan kepatuhan regulasi tetap membutuhkan sentuhan manusia yang paham teknis secara mendalam," tambahnya.
Dalam sesi tanya jawab yang dipandu oleh moderator, Joshua juga memuji keunggulan Gemini dalam urusan visual. Dibandingkan kompetitornya, Gemini 3.1 Pro dianggap paling unggul dalam menangani User Interface (UI) dan animasi aplikasi mobile.
Baca juga: iSTTS Surabaya Gembleng Jurnalis, Taklukkan AI Tanpa Gadai Etika
Menariknya lagi, teknologi ini tersedia secara cuma-cuma dengan batasan tertentu, sehingga sangat ramah bagi mahasiswa yang baru merintis karier di dunia digital.
Konferensi bertema "The Vibe: Connection & Community" ini merupakan buah kolaborasi GDGoC ISTTS, GDG Surabaya, AI ML Surabaya dan komunitas Flutter Surabaya.
Selain Joshua, panggung FlutterFusion 2026 juga menghadirkan deretan pakar seperti Sidiq Permana, Ibnu Sina Wardy, hingga para profesor dari ISTTS seperti Joan Santoso dan Esther Irawati Setiawan untuk mengulas ekosistem AI dan Cloud secara komprehensif.