Pixel Code jatimnow.com

Kisah 3 Mahasiswa Surabaya Terpilih Jadi Google Student Ambassador Pertama

Editor : Ali Masduki   Reporter : Ali Masduki
Trevis Artagrantdy Kurniawan, Alexia Valerie Wibowo, dan Innani Fiddinillah. (Foto: M Iffan Maulana for JatimNow.com)
Trevis Artagrantdy Kurniawan, Alexia Valerie Wibowo, dan Innani Fiddinillah. (Foto: M Iffan Maulana for JatimNow.com)

jatimnow.com - Kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) seringkali memicu kekhawatiran akan hilangnya peran manusia di berbagai sektor industri.

Namun, bagi para Google Student Ambassador (GSA) asal Institut Sains dan Teknologi Terpadu Surabaya (Institut STTS), teknologi ini justru menjadi katalisator kreativitas jika dikelola dengan tepat.

Trevis Artagrantdy Kurniawan, mahasiswa Informatika semester enam, menjadi salah satu dari 800 mahasiswa di seluruh Indonesia yang terpilih dalam program perdana GSA 2025.

Bersama rekan sejawatnya, Trevis memikul misi untuk mengubah stigma negatif masyarakat terhadap AI.

"Kami ingin menggeser pola pikir orang-orang yang masih antipati terhadap AI. Teknologi ini bukan musuh yang menggantikan pekerjaan, melainkan co-pilot yang membantu kita mengeksplorasi ide lebih luas," ujar Trevis saat ditemui disela-sela FlutterFusion Conference 2026, di Institut STTS, Sabtu (21/2/2026).

Sebagai duta resmi, Trevis dan timnya aktif melakukan edukasi mengenai pemanfaatan model bahasa besar milik Google, yakni Gemini. Fokus utamanya adalah membantu masyarakat memahami fitur-fitur yang selama ini belum terjamah, namun memiliki dampak besar pada produktivitas harian.

Senada dengan Trevis, Alexia Valerie Wibowo dari jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV) membuktikan bahwa AI mampu memangkas waktu kerja teknis yang menjemukan. Ia mencontohkan penggunaan fitur Nano Banana dalam proses desain.

"Dalam mata kuliah AI for Design, kami menggunakan Nano Banana sebagai asisten. Misalnya untuk menghapus objek yang mengganggu di latar belakang foto. Proses ini jauh lebih efisien dibandingkan melakukan masking manual di Photoshop, tanpa merusak kualitas objek utamanya," jelas Alexia yang juga sempat diberangkatkan ke kantor pusat Google Indonesia di Jakarta untuk menjalani pelatihan intensif.

Baca juga:
Pakar Google Dunia Bedah Masa Depan Coding di FlutterFusion Conference 2026

Tantangan terbesar bagi para duta ini bukan sekadar menguasai teknis, melainkan menjaga integritas hasil karya.

Innani Fiddinillah, mahasiswi Manajemen Bisnis Digital yang terpilih sejak semester pertama, mengakui bahwa ketergantungan pada AI adalah risiko nyata yang harus dimitigasi.

"Hampir 90 persen aktivitas akademik saat ini melibatkan AI. Namun, kita harus tetap bijaksana. Kreativitas dan kendali penuh tetap ada pada manusia. AI hanya alat untuk menuangkan ide tersebut agar lebih presisi," tegas Innani.

Sebagai bagian dari program ini, para mahasiswa mendapatkan akses eksklusif ke fitur Gemini Pro selama satu tahun secara cuma-cuma.

Baca juga:
ManageEngine Luncurkan Fitur AI untuk Perkuat Ketahanan Sistem IT Hybrid

Fasilitas ini mereka manfaatkan untuk terus melakukan riset dan berbagi konten edukatif kepada komunitas mahasiswa di Surabaya dan sekitarnya.

Program Google Student Ambassador ini dijadwalkan kembali membuka pendaftaran gelombang kedua pada akhir Februari 2026.

Hal itu diharapkan mampu memperluas jaringan talenta digital yang siap menjembatani kesenjangan teknologi di tengah masyarakat.