Eskalasi Konflik AS-Israel vs Iran, Dampak Geopolitik dan Ekonomi bagi Indonesia

Senin, 09 Mar 2026 22:40 WIB
Reporter :
jatimnow.com
Albert Agung Wijaya, Pengamat Pertahanan, Alumnus Pascasarjana UNHAN RI dan Alumni GMNI Surabaya. (Foto: Dok Pribadi for jatimnow.com)

jatimnow.com - Konflik yang meletus pada akhir Februari 2026 antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran berkembang cepat menjadi perang kawasan.

Pemicu utamanya adalah pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, melalui operasi gabungan AS-Israel. Respons Teheran menutup Selat Hormuz langsung mengguncang pasokan energi dunia dan stabilitas global.

Selat Hormuz selama ini dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia. Ketika jalur strategis tersebut terganggu, dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara Timur Tengah, tetapi juga ekonomi global. Indonesia termasuk negara yang terdampak karena masih bergantung pada impor minyak bersih sekitar 900 ribu hingga 1 juta barel per hari.

Baca juga: Konflik AS–Israel vs Iran, Bagaimana Sikap Indonesia?

Eskalasi konflik berpotensi menekan perekonomian nasional dari berbagai sisi: harga energi, stabilitas fiskal, hingga arah kebijakan luar negeri. Dalam skenario konflik berkepanjangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia bahkan berpotensi turun sekitar 0,5–1 persen akibat tekanan global.

Dampak terhadap Stabilitas Ekonomi Indonesia

Lonjakan harga minyak dunia menjadi dampak paling cepat terasa. Harga minyak sudah naik sekitar 13–20 persen ke kisaran US$77–80 per barel, melampaui asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Jika penutupan Selat Hormuz berlangsung lama, harga bisa melonjak ke level US$100–120 per barel.

Sebagai importir minyak neto, Indonesia menghadapi tekanan biaya impor energi yang besar. Pada 2024, nilai impor energi tercatat sekitar US$36,28 miliar atau naik 19 persen dibanding tahun sebelumnya. Sekitar 38 persen pasokan berasal dari Arab Saudi, sementara sisanya dari Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.

Kenaikan harga energi berpotensi memicu inflasi melalui kenaikan biaya transportasi dan distribusi barang. Harga kebutuhan pokok seperti ayam, telur, beras, sayuran, kedelai, gandum, hingga daging ikut terdorong naik.

Inflasi diperkirakan dapat melampaui 4 persen dan menekan daya beli masyarakat, terutama kelas menengah ke bawah.

Ketidakpastian geopolitik juga berpengaruh pada arus investasi. Dalam kondisi krisis global, investor cenderung menarik modal dari pasar negara berkembang.

Data menunjukkan aliran keluar modal pernah mencapai US$1,3 miliar dari obligasi pemerintah dan sekitar Rp5 triliun dari sertifikat Bank Indonesia.

Cadangan devisa sempat turun US$3,6 miliar menjadi US$140,4 miliar, sementara nilai tukar rupiah berpotensi melemah hingga Rp17.000 per dolar AS atau lebih. Analisis VAR dan respons impuls menunjukkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bisa terkoreksi 2–4 persen dalam konflik jangka pendek, bahkan 9–10 persen jika eskalasi berlangsung lebih dari dua minggu.

Kombinasi tekanan tersebut dapat memperlambat pertumbuhan ekonomi Indonesia akibat gangguan rantai pasok global dan melemahnya permintaan ekspor, terutama dari kawasan Timur Tengah.

Dampak terhadap Stabilitas Fiskal dan Politik

Tekanan berikutnya muncul pada sisi fiskal negara. Lonjakan harga minyak akan meningkatkan beban subsidi energi yang dalam APBN 2026 diproyeksikan mencapai Rp381 triliun. Jika harga minyak menembus US$100 per barel lebih dari sebulan, tambahan beban bisa mencapai Rp50–80 triliun.

Analisis Institute for Essential Services Reform (IESR) menunjukkan setiap kenaikan US$1 per barel pada Indonesian Crude Price (ICP) berpotensi memperlebar defisit APBN hingga Rp6,8 triliun.

Dengan subsidi energi yang sudah melampaui Rp100 triliun, beban negara dapat meningkat sekitar Rp10,3 triliun dan berpotensi mencapai Rp515 triliun jika harga minyak menyentuh US$120 per barel.

Kondisi tersebut dapat memaksa pemerintah melakukan realokasi anggaran dari pembangunan menuju perlindungan sosial. Kebijakan tersebut akan menjadi tantangan besar bagi stabilitas fiskal, terutama di tengah upaya efisiensi anggaran pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Di dalam negeri, tekanan ekonomi berpotensi memicu gejolak politik. Kenaikan harga energi biasanya memicu demonstrasi publik, terutama terkait subsidi BBM dan LPG 3 kilogram yang digunakan lebih dari 70 juta rumah tangga.

Pemerintah telah menyatakan belum akan menaikkan harga BBM subsidi untuk menjaga stabilitas sosial, meskipun harga BBM nonsubsidi dapat disesuaikan dengan kondisi pasar. Kebijakan tersebut tetap menuntut ketahanan fiskal yang kuat serta kemungkinan pengetatan moneter guna menahan inflasi.

Baca juga: Konflik Iran-AS Memanas, Alumni Lemhannas Ungkap Strategi Ketahanan Nasional

Dampak terhadap Sistem Pertahanan Negara

\

Walaupun Indonesia tidak terlibat langsung dalam konflik, eskalasi kawasan membawa implikasi keamanan. Gangguan pasokan energi dapat dikategorikan sebagai ancaman non-tradisional yang berdampak pada stabilitas nasional.

Salah satu tantangan adalah kemungkinan evakuasi warga negara Indonesia di Timur Tengah. Jumlah WNI di kawasan tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 500 ribu orang yang tersebar di berbagai negara.

Kajian dalam jurnal Geopolitics Quarterly oleh Arash Reisinezhad menunjukkan konflik Iran-Israel dapat memengaruhi strategi pertahanan negara-negara Asia. Indonesia perlu mengantisipasi ancaman tidak langsung seperti serangan siber, gangguan jalur pelayaran, atau ketegangan maritim di kawasan Indo-Pasifik.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut mendorong kebutuhan cadangan minyak strategis minimal 30 hari serta percepatan konversi pembangkit diesel ke gas untuk mengurangi kerentanan energi.

Dampak terhadap Kebijakan Luar Negeri Indonesia

Konflik AS-Israel-Iran juga menguji doktrin politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Presiden Prabowo Subianto telah menawarkan mediasi guna mendorong de-eskalasi, sementara Menteri Luar Negeri Sugiono mengingatkan risiko meluasnya konflik jika semakin banyak negara terlibat.

Indonesia bahkan menangguhkan partisipasi dalam inisiatif Board of Peace yang digagas Donald Trump untuk Gaza karena situasi kawasan yang semakin kompleks.

Kajian Syed Rizwan Haider Bukhari mengenai hubungan Iran-Israel menunjukkan konflik tersebut memiliki implikasi geopolitik luas, termasuk rivalitas antara Amerika Serikat dan China. Indonesia sebagai kekuatan menengah perlu menjaga posisi netral sambil memperkuat pengaruh di Global South.

Pergeseran Geopolitik dan Ekonomi Global

Baca juga: Harga Emas Selasa 17 Juni 2025: Melonjak Ditengah Konflik Iran dan Israel

Perang kawasan tersebut berpotensi mengubah peta geopolitik dunia, termasuk pada pasar energi. Gangguan Selat Hormuz bisa memicu lonjakan harga minyak di atas US$100 per barel. Devin McDermott dari Morgan Stanley memproyeksikan kondisi tersebut dapat menaikkan inflasi global sekitar 0,6–0,7 poin persentase.

Analisis Wood Mackenzie bahkan menunjukkan sekitar 15 juta barel minyak per hari dari kawasan Teluk berada dalam risiko gangguan distribusi.

Bagi Indonesia, situasi tersebut menjadi peringatan untuk mempercepat diversifikasi impor migas serta transisi energi berkelanjutan guna mengurangi ketergantungan impor yang masih sekitar 40 persen.

Penutup

Eskalasi konflik AS-Israel vs Iran menjadi ujian serius bagi ketahanan ekonomi, fiskal, dan diplomasi Indonesia. Krisis energi global, gejolak pasar, serta perubahan peta geopolitik menuntut respons kebijakan yang cepat dan terukur.

Indonesia perlu memanfaatkan posisinya sebagai middle power untuk mendorong diplomasi de-eskalasi, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Diversifikasi pasokan energi, reformasi struktural ekonomi, serta kerja sama multilateral menjadi langkah penting menghadapi dunia yang semakin tidak pasti.

Jika konflik berlarut, dampaknya dapat menyerupai guncangan ekonomi global besar di masa lalu. Namun dengan kebijakan yang proaktif dan diplomasi yang konsisten, Indonesia masih memiliki ruang untuk memitigasi risiko sekaligus memperkuat perannya di tengah perubahan geopolitik dunia.

Merdeka!!

Oleh: Albert Agung Wijaya, S.H., M.Han
Pengamat Pertahanan, Alumnus Pascasarjana UNHAN RI dan Alumni GMNI Surabaya

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler