jatimnow.com - Jagat maya mendadak gempar oleh kehadiran sesosok penceramah perempuan digital berwajah anggun dengan jutaan pengikut di platform TikTok. Figur tersebut menyampaikan materi dakwah secara runtut, santun, dan berpenampilan sangat meyakinkan layaknya manusia nyata.
Padahal, seluruh gerak, suara, dan paras tersebut murni hasil rekayasa kecerdasan buatan (artificial intelligence). Fenomena canggih tersebut melahirkan tantangan baru terhadap otoritas keagamaan tradisional di ruang siber.
Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah Jawa Timur melihat tren ustazah AI bukan sekadar hiburan visual sesaat.
Baca juga: Esensi Silaturrahmi, Melampaui Ego demi Keberkahan Hidup
Ketua ICMI Jatim periode 2021–2026, Ulul Albab, memandang penetrasi kecerdasan buatan dalam dunia dakwah sebagai disrupsi serius yang menyentuh fondasi spiritualitas publik.
"Situasi kritis muncul saat masyarakat tidak lagi sanggup membedakan guru agama yang sahih dengan representasi digital buatan mesin," ujar Ulul melalui catatan refleksinya, Selasa (30/6/2026).
Selama berabad-abad, tradisi Islam menjaga kemurnian ajaran lewat transmisi antarmanusia yang dikenal sebagai sanad.
Ikatan murid dan guru menjamin akuntabilitas moral, integritas, serta rekam jejak akhlak sang pembawa ilmu. Kehadiran kecerdasan buatan membalikkan logika tersebut dalam sekejap mata.
Baca juga: Ramadan Bukan Sekadar Rutinitas Fisik, Simak Pesan Ulul Albab
Algoritma modern sanggup memproduksi ribuan konten syiar, mengutip ayat suci, hingga menyusun narasi teologis secara presisi hanya dalam hitungan detik.
Dampaknya, psikologi massa mulai bergeser dari mengagumi kedalaman ilmu menjadi sekadar mengagumi kemasan visual yang estetik. Popularitas metrik digital kini perlahan mengaburkan otoritas kepakaran yang asli.
Meskipun memicu kekhawatiran, lompatan teknologi tidak lantas memosisikan komputasi modern sebagai musuh agama. Sistem canggih tetap membawa maslahat besar untuk mempercepat riset literatur, digitalisasi kitab kuning, hingga memperluas jangkauan edukasi Al-Qur'an secara global.
Namun, batas tegas tetap wajib ditarik. Mesin tidak memiliki kesadaran moral, hampa pengalaman spiritual, serta bebas dari beban tanggung jawab akhirat.
Baca juga: Ketua ICMI Jatim: Tahun 2026 Saatnya Politik Gagasan Depak Drama Pencitraan
Karakteristik tersebut sangat kontras dengan figur ulama tulen yang memikul amanah berat atas setiap fatwa yang meluncur ke publik.
Merespons realitas baru tersebut, perintah tabayyun atau verifikasi yang termaktub dalam kitab suci menemukan urgensi baru. Pada ruang siber, pelacakan kebenaran tidak boleh berhenti pada keindahan teks konten, melainkan wajib memeriksa orisinalitas sumber data serta figur nyata yang bertanggung jawab di balik layar.
"Masa depan dakwah bukan urusan menyingkirkan teknologi, melainkan bagaimana manusia mampu menakhodai kecerdasan buatan menggunakan kompas nilai Islam," pungkas Ulul.