Bedah Pemikiran Ma'ruf Amin, KH Imam Jazuli Sebut Masa Depan NU Bergantung pada Fikroh dan Tajdid

Minggu, 09 Agu 2026 15:00 WIB
Reporter :
Dadang Kurnia
Bedah buku bertajuk "Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdliyyah dalam Perspektif KH Ma'ruf Amin". (Foto: Humas PWNU Jatim for jatimnow.com)

jatimnow.com – Masa depan jam'iyah Nahdlatul Ulama (NU) di pusaran zaman modern sangat ditentukan oleh fikroh atau cara berpikir pengurus serta warganya. Menjadi seorang warga Nahdliyin kini tak bisa lagi sekadar mengandalkan warisan identitas kultural keturunan, melainkan harus dibangun di atas fondasi kesadaran intelektual, ideologis, dan gerakan nyata.

Penegasan tersebut disampaikan oleh Pengasuh Pondok Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli, saat menjadi narasumber dalam agenda bedah buku bertajuk "Fikroh, Manhaj, dan Harakah Nahdliyyah dalam Perspektif KH Ma'ruf Amin".

"Buku ini unik, menarik, dan spesial karena bicara tentang bagaimana ber-NU. Ber-NU ini tidak cukup hanya karena keturunan, kekerabatan, dan keluarga, tapi juga harus berlandaskan pada kesadaran, intelektualitas, dan ideologis," ujar Kiai Imam.

Baca juga: Kiai Asep Minta Pengurus NU Berbenah: Jangan Berebut Komisaris dan Keuntungan Tambang

Dalam ulasannya, Kiai Imam membedah akar permasalahan yang kerap membelenggu umat, seperti kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Menurutnya, hal itu bersumber dari pola pikir fatalistik.

Melalui pemikiran KH Ma'ruf Amin, buku tersebut mengajak warga NU membangun fikroh tawassuth. Yakni fikroh yang moderat, tidak ekstrem, tidak pula liberal, namun tetap kokoh berpijak pada turats Ahlussunnah wal Jama’ah yang dipahami secara kontekstual, bukan sekadar tekstual.

Terkait manhaj (metodologi), Kiai Imam menekankan bahwa teks keagamaan bukanlah sesuatu yang kaku. Teks harus terus didialogkan dengan realitas zaman agar melahirkan kemaslahatan nyata. Ia mencontohkan Imam Syafi'i yang melahirkan qaul qadim dan qaul jadid seiring dinamisnya perubahan konteks sosial.

Baca juga: Hari Santri Nasional di Jember, Dibarengi Pelantikan MWC dan NU Bangsalsari

"Sayangnya, sekarang kita sering hanya kembali kepada qaul lama, padahal yang dibutuhkan adalah kesadaran untuk melakukan kontekstualisasi terhadap teks keagamaan," tuturnya.

\

Lebih lanjut, Kiai Imam menyoroti benang merah pemikiran KH Ma'ruf Amin yang menitikberatkan pada semangat islah dan tajdid. Ia menilai ada irisan kuat antara pemikiran Ma'ruf Amin dan gagasan pembaru Islam, Hasan Hanafi, dalam hal mereinterpretasi tradisi guna menjawab kebutuhan zaman.

Pembaruan ini mutlak diterapkan dalam ranah harakah dakwah NU yang harus segera bertransformasi secara digital. "Tidak cukup warga NU berdakwah dengan cara lama. Hari ini orang sudah menggunakan digitalisasi dan media sosial. NU harus mampu beradaptasi dengan perubahan itu," tegasnya.

Baca juga: PBNU Instruksikan Jajaran NU Cooling Down terhadap Penyerangan di Karawang

Sebagai catatan krusial, Kiai Imam memberikan pandangan terkait pentingnya harakah siyasah (gerakan politik) yang sehat dan berkeadaban di tubuh jam'iyah NU.

Rekam jejak KH Ma'ruf Amin, dari ulama, organisatoris, anggota legislatif, hingga menjadi Wakil Presiden, menurutnya menjadi bukti bahwa langkah politik bisa dimaknai sebagai khidmah kepada agama dan bangsa.

"Sebuah ideologi besar tidak akan bertahan kuat tanpa didukung kekuatan siyasah. Karena itu, harakah siyasah menjadi bagian penting untuk membangun jam'iyah NU di masa depan," pungkas Kiai Imam Jazuli.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler