Gempa NTT M 7,7, Pakar ITS Ingatkan Ancaman Gempa Susulan

Selasa, 18 Agu 2026 15:59 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Pakar seismologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Kadek Hendrawan Palgunadi. (Foto: Humas ITS for jatimnow.com)

jatimnow.com - Gempa bumi bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), menyisakan ancaman gempa susulan. Pakar seismologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Kadek Hendrawan Palgunadi mengimbau masyarakat terdampak tetap waspada hingga dua pekan ke depan.

Peneliti Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim ITS itu menjelaskan, gempa susulan merupakan bagian dari proses penyesuaian sesar-sesar kecil di sekitar patahan utama setelah gempa besar terjadi.

“Jika diasumsikan gempa utamanya magnitudo 7,7 kemarin, secara statistik akan ada minimal tiga kali gempa magnitudo 6,” kata Kadek, Selasa (18/8/2026).

Baca juga: Gempa Manado 7,6 SR, Saatnya Pakai Fondasi Tahan Gempa

Meski demikian, intensitas gempa susulan umumnya berangsur melemah seiring waktu. Karena itu, masyarakat diminta tidak mengabaikan potensi bahaya, terutama jika bangunan tempat tinggal mengalami kerusakan.

Kadek menyarankan warga tetap berada di lokasi evakuasi yang aman apabila kondisi rumah masih menunjukkan retakan atau kerusakan yang berpotensi membahayakan.

Tim evakuasi gempa NTT dan asesmen bangunan juga perlu melakukan pemeriksaan fisik untuk memastikan struktur bangunan masih layak dihuni.

Dalam waktu berdekatan, gempa dengan kekuatan di atas magnitudo 6 juga terjadi di Sumatera Utara dan Sulawesi Tengah. Namun, Kadek menilai ketiga peristiwa itu tidak memiliki keterkaitan langsung.

Dosen Departemen Teknik Geofisika ITS tersebut mengatakan gempa di NTT, Sumatera Utara, dan Sulawesi Tengah berasal dari entitas tektonik serta sesar yang berbeda. Berdasarkan analisis awal, kemungkinan ketiga gempa saling memicu dinilai sangat kecil.

Baca juga: Terdampak Gempa Pacitan, Bangunan di Kota Blitar Ini Ambruk

“Gempa secara beruntun umumnya terpicu apabila bersumber dari gempa megathrust dengan magnitudo lebih dari 8,” ujarnya.

\

Menurut Kadek, Indonesia memang memiliki kondisi tektonik yang kompleks sehingga gempa dapat terjadi berdekatan secara waktu. Posisi Indonesia di kawasan Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire membuat aktivitas gempa menjadi bagian dari karakter geologi wilayah Indonesia.

“Namun, gempa bumi yang terjadi secara beruntun bisa juga terjadi secara kebetulan,” katanya.

Khusus untuk gempa di Flores, Kadek menjelaskan wilayah daratan Flores hingga bagian utara Bali dilalui Flores Back-Arc Thrust. Sesar aktif itu pernah memicu gempa besar bermagnitudo 7,7 di Pulau Flores pada 1992.

Baca juga: Gempa Tektonik M6,2 Guncang Pacitan, BMKG Pastikan Tidak Berpotensi Tsunami

Karakter gempa terbaru yang memiliki magnitudo serupa dinilai masih berkaitan dengan kemampuan sesar tersebut dalam menghasilkan gempa besar. Sejumlah seismolog Indonesia, kata Kadek, memperkirakan Flores Back-Arc Thrust dapat menghasilkan gempa dengan magnitudo maksimum sekitar 7,8.

Dengan kondisi tersebut, kewaspadaan setelah gempa utama menjadi bagian penting dari upaya mitigasi. Pemeriksaan bangunan, pemantauan kondisi lingkungan, serta kesiapan menghadapi guncangan lanjutan perlu menjadi perhatian warga dan petugas di lapangan.

ITS menyatakan langkah kesiapsiagaan tersebut sejalan dengan komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan permukiman yang lebih tangguh terhadap bencana. Upaya itu juga berkaitan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) poin 11 tentang Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan.

Melalui edukasi mitigasi risiko, ITS mendorong masyarakat memahami potensi ancaman gempa sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi bencana di wilayah rawan.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler