Mengulik Cuan dari Penata Roda Taman Bungkul Surabaya

Sabtu, 29 Agu 2026 16:03 WIB
Reporter :
jatimnow.com
Salah satu petugas parkir di area Taman Bungkul Surabaya (foto: Ifan/jatimnow.com)

jatimnow.com – Sabtu malam di Taman Bungkul selalu berbeda. Lampu-lampu taman menyala, musik jalanan bergema, dan pengunjung dari berbagai kalangan memenuhi ruang publik favorit warga Surabaya.

Di balik keramaian itu, ada denyut ekonomi kecil yang tak kalah penting, ya pencari cuan dari menata roda, alias tukang parkir.

Haqi, seorang juru parkir yang baru bertugas sejak 10 Agustus, menyebut sistem parkir di Taman Bungkul berjalan resmi dengan dua shift. 

Baca juga: Malam Makin Mencekam, Demonstran Bakar Sejumlah Pos Polisi di Surabaya

"Dari jam 6 pagi sampai 6 sore, lalu dilanjutkan shift malam,” ujarnya, Sabtu (29/8/2026).

Area parkir tersebar di sisi kanan, kiri, dan belakang taman, sementara bagian depan sengaja steril demi keselamatan pengunjung dan pengendara.

Tarifnya sederhana, Rp2.000 untuk roda dua dan Rp5.000 untuk roda empat. Namun, angka kecil itu jika dikalikan dengan jumlah kendaraan bisa menjadi pendapatan yang signifikan. Haqi menuturkan, setiap juru parkir wajib menyetor hasil pungutan ke Dinas Perhubungan Surabaya pada pergantian shift.

Bagus, juru parkir lain yang sudah tiga minggu bertugas, menambahkan bahwa sistem ini kini lebih modern. 

"Parkir di sini resmi dari Dishub dan sekarang juga bisa menggunakan QRIS,” katanya.

Kehadiran pembayaran non-tunai membuat pengelolaan lebih transparan sekaligus memudahkan pengunjung.

Baca juga: Berpasangan dengan Gus Hans di Pilgub Jatim 2024, Risma: Saya Personal Belum Kenal

Lonjakan kendaraan paling terasa di akhir pekan, khususnya Sabtu malam. Jika pada hari biasa jumlah karcis motor hanya sekitar 50 lembar, maka akhir pekan bisa melonjak hingga 100. Artinya, pendapatan parkir pun ikut berlipat.

\

Hadi, juru parkir lain, menyebut pengunjung Taman Bungkul datang dari berbagai kalangan. 

"Kebanyakan remaja yang berpacaran sampai keluarga yang main di dalam taman,” ujarnya. 

Keragaman pengunjung itu membuat arus kendaraan tak pernah sepi.Dengan hitungan sederhana, 100 motor di akhir pekan berarti Rp200 ribu hanya dari roda dua. Belum termasuk mobil yang dikenakan tarif Rp5.000. 

Jika ditotal, pendapatan parkir resmi di Taman Bungkul bisa mencapai jutaan rupiah setiap pekan.Bagi Dishub Surabaya, sistem ini bukan sekadar pungutan, melainkan bagian dari pengelolaan ruang publik. Parkir resmi menjaga ketertiban sekaligus memberi pemasukan daerah. 

Baca juga: Fakta-fakta Hari Pertama Penerapan Parkir Nontunai di Surabaya

Bagi juru parkir, ini adalah mata pencaharian yang menopang kehidupan sehari-hari.Di balik karcis kecil yang disobek, ada cerita tentang bagaimana ruang publik menghasilkan rupiah. Taman Bungkul bukan hanya tempat rekreasi, tetapi juga ekosistem ekonomi mikro yang hidup dari aktivitas warga.

Pendapatan parkir mungkin terlihat sederhana, namun jika dikalkulasi sepanjang bulan, jumlahnya bisa menjadi angka yang menggiurkan. Dari pagi hingga malam, roda kendaraan yang keluar masuk taman seolah menjadi mesin pencetak rupiah.

 

Reporter: Nur Ifansyah

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler