SIG Bukukan Pendapatan Rp17,65 Triliun pada Semester I 2026

Rabu, 02 Sep 2026 13:21 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Pabrik semen terintegrasi milik SIG Group di Tuban, Jawa Timur. Perseroan mencatat penjualan semen 18,28 juta ton dan laba Rp228 miliar pada semester I 2026. (Foto: SIG for jatimnow.com)

jatimnow.com - PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) mencatat pertumbuhan kinerja pada semester I 2026 di tengah membaiknya permintaan semen nasional. Penjualan semen SIG mencapai 18,28 juta ton atau tumbuh 5,6 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).

Pertumbuhan penjualan terutama berasal dari pasar domestik yang meningkat 9,7 persen yoy. Segmen semen kantong menjadi salah satu penopang utama dengan pertumbuhan penjualan 11,2 persen.

Corporate Secretary SIG Vita Mahreyni mengatakan penguatan pasar mikro menjadi salah satu strategi yang mendorong pertumbuhan penjualan perusahaan.

Baca juga: SIG Perkuat Pasokan Semen di Aceh, Direktur Operasi Turun Langsung

“Kinerja penjualan yang positif pada semester I tahun 2026 adalah buah transformasi strategi penjualan pasar mikro yang dijalankan melalui penguatan retail sales dengan mempertajam pola bisnis hingga menjangkau toko-toko bangunan,” kata Vita dalam keterangan tertulis, Rabu (02/9/2026).

SIG juga memperkuat kehadiran merek dan pemahaman produk di tingkat toko. Perusahaan menjalankan edukasi kepada pelaku usaha dan konsumen, termasuk melalui program Akademi Jago Bangunan serta pelatihan dan sertifikasi ahli bangunan bagi tenaga konstruksi.

Seiring kenaikan volume penjualan dan penerapan disiplin harga, pendapatan SIG meningkat 13,1 persen yoy menjadi Rp17,65 triliun. Pada periode yang sama tahun sebelumnya, pendapatan perusahaan tercatat Rp15,61 triliun.

Dari sisi biaya, beban pokok pendapatan naik 11,1 persen yoy menjadi Rp13,85 triliun. Kenaikan terjadi seiring bertambahnya volume penjualan serta meningkatnya biaya bahan bakar dan energi.

Beban operasional, termasuk pendapatan dan beban operasional lainnya, meningkat 20,7 persen yoy. SIG menyebut kenaikan terutama dipengaruhi biaya promosi dan distribusi yang mengikuti pertumbuhan volume penjualan.

Meski menghadapi tekanan biaya, SIG mampu meningkatkan profitabilitas. Laba periode berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk melonjak 471 persen yoy menjadi Rp228 miliar. EBITDA juga tumbuh 2,6 persen yoy menjadi Rp2,15 triliun.

Perusahaan turut memperkuat arus kas dan struktur permodalan untuk menjaga likuiditas. Arus kas dari aktivitas operasi tetap positif sehingga SIG dapat melanjutkan penurunan saldo utang.

Baca juga: Semen Legendaris Bangkit Lagi

Strategi tersebut berdampak pada penurunan beban keuangan bersih sebesar 34,5 persen yoy pada semester I 2026, sejalan dengan berkurangnya utang berbunga.

\

SIG menilai perbaikan kinerja tersebut mencerminkan ketahanan perusahaan menghadapi tantangan industri semen sekaligus hasil dari transformasi bisnis yang dijalankan.

Memasuki paruh kedua 2026, SIG melihat prospek pasar semen masih positif seiring perbaikan permintaan domestik.

Menurut Vita, pertumbuhan diperkirakan tetap ditopang semen kantong. Sementara itu, permintaan semen curah mulai menunjukkan pemulihan seiring meningkatnya aktivitas konstruksi, pembangunan infrastruktur, investasi industri, dan proyek hilirisasi.

Untuk memperkuat penetrasi pasar, SIG juga kembali menghidupkan merek Semen Kujang di Jawa Barat. Merek tersebut dinilai memiliki kedekatan dengan masyarakat dan sejarah dalam pembangunan di wilayah tersebut.

Baca juga: Penjualan Semen SIG Tembus 18,27 Juta Ton pada Semester I 2026

Kehadiran kembali Semen Kujang diarahkan untuk menangkap kebutuhan konstruksi di Jawa Barat sekaligus memperkuat posisi SIG melalui pendekatan merek yang disesuaikan dengan karakter pasar setempat.

Di luar bisnis semen, SIG juga terus mendorong transformasi menuju perusahaan Total Building Solution. Strategi tersebut memperluas bisnis perusahaan dari sekadar produsen semen menjadi penyedia solusi bahan bangunan yang lebih berorientasi pada kebutuhan pelanggan.

SIG melihat peluang besar di pasar bahan bangunan nasional. Kontribusi semen disebut baru sekitar 11 persen dari total biaya material konstruksi bangunan, sehingga masih terdapat ruang sekitar 89 persen pada berbagai produk bahan bangunan lain yang dapat dikembangkan.

“Dengan pengalaman satu abad lebih di industri bahan bangunan, SIG berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi dan solusi konstruksi terintegrasi agar lebih berdaya saing dan mampu mengatasi dinamika industri yang menantang,” ujar Vita.

Sebagai perusahaan BUMN yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, 51 persen saham SIG dimiliki Pemerintah Indonesia. SIG menaungi enam anak usaha produsen semen, yakni PT Semen Padang, PT Semen Gresik, PT Semen Tonasa, PT Solusi Bangun Indonesia Tbk, PT Semen Baturaja Tbk, serta Thang Long Cement Company di Vietnam.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler