jatimnow.com - Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga (RSKKA) Universitas Airlangga (Unair) memilih tetap bertahan di Dampek, Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Perpanjangan status tanggap darurat gempa bumi menjadi alasan RSKKA melanjutkan misi kemanusiaannya hingga Sabtu, 12 September 2026. Dalam perpanjangan status ini, RSKKA ingin menyentuh trauma dan beban psikologis warga setelah bencana.
Direktur RSKKA, Dr Agus Harianto SpB, mengatakan keputusan memperpanjang pelayanan diambil karena kebutuhan masyarakat Dampek masih cukup besar. Keterbatasan dokter spesialis di wilayah terdampak juga membuat RSKKA memilih memperkuat pelayanan melalui kolaborasi dengan berbagai organisasi profesi, rumah sakit, dan lembaga kemanusiaan.
Pada fase awal tanggap darurat, pelayanan difokuskan pada penanganan trauma fisik akibat gempa, mulai dari patah tulang hingga luka yang membutuhkan tindakan operasi.
Baca juga: Sosiolog Ungkap Biang Kerok 1 Juta Sarjana Menganggur
Bagi warga Dampek, mendapatkan pelayanan kesehatan bukan perkara sederhana. Sebagian pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut harus dirujuk ke RSUD Borong, Manggarai Timur.
Masalahnya, perjalanan dari kawasan pantai utara menuju pantai selatan itu dapat memakan waktu hingga lima atau enam jam. Beban biaya transportasi dan kebutuhan hidup selama menjalani perawatan di Borong membuat sebagian warga memilih tidak berangkat. Akibatnya, pasien yang membutuhkan operasi terpaksa bertahan di Dampek.
RSKKA kemudian membawa solusi lebih dekat. Kapal rumah sakit tersebut berlabuh di Teluk Nangga Lirang, tak jauh dari permukiman warga. Pelayanan operasi pun dapat dilakukan tanpa memaksa pasien menempuh perjalanan panjang menuju Borong.
Perpanjangan masa tanggap darurat membuat RSKKA melihat persoalan yang lebih panjang. Luka fisik mungkin dapat ditangani melalui operasi dan pengobatan. Tetapi rasa takut, kehilangan, dan trauma setelah gempa tidak bisa disembuhkan dengan tindakan medis semata.
Agus mengakui, pendampingan psikologis menjadi salah satu bagian yang belum banyak tersentuh dalam pelayanan awal RSKKA.
“Karena itu, pada fase lanjutan, RSKKA berencana menghadirkan psikolog maupun psikiater, serta dokter spesialis lain sesuai kebutuhan masyarakat,” kata Agus.
Baca juga: Sulap Limbah Sawit Jadi Cuan, Warga Manokwari Dilatih Budidaya Jamur Tiram
“Seluruh pengurus Yayasan Ksatria Medika Airlangga sepakat melanjutkan pelayanan dengan mengirimkan psikiater atau psikolog dan dokter spesialis sesuai kebutuhan masyarakat Dampek,” tambahnya.
Melanjutkan misi kemanusiaan tentu bukan tanpa tantangan. Agus mengakui RSKKA masih menghadapi keterbatasan dana.
Namun, pengalaman dari misi-misi kemanusiaan sebelumnya membuat RSKKA tetap optimistis. Dukungan dari berbagai pihak diyakini akan terus mengalir selama pelayanan untuk masyarakat masih dibutuhkan. Karena itu, RSKKA memilih tidak buru-buru meninggalkan Dampek.
Bagi warga yang masih berjuang memulihkan kehidupan setelah gempa, kehadiran kapal rumah sakit itu bukan sekadar tempat berobat. Ia menjadi penanda bahwa bantuan masih ada, tenaga kesehatan masih peduli, dan proses pemulihan belum berakhir.
“Kami ingin korban bencana gempa dan tenaga kesehatan di Dampek tidak merasa sendirian. Mereka masih punya sahabat yang bernama Rumah Sakit Kapal Ksatria Airlangga,” pungkas Agus.
Baca juga: Berdayakan Mama Suku Arfak, TEP Unair Rintis Kampung Dodol Matoa di Manokwari
Sementara itu, salah satu warga yang merasakan langsung manfaatnya adalah Hasri, warga Desa Satar Kampas, Kecamatan Lambaleda Utara.
Hasri mengalami patah tulang paha kiri setelah tertimpa reruntuhan tembok akibat gempa. Alih-alih harus menempuh perjalanan berjam-jam untuk mendapatkan operasi, Hasri justru mendapat penanganan di kapal yang berlabuh tak jauh dari desanya.
“Saya tidak menyangka, ternyata saya bisa dioperasi di kapal phinisi yang berlabuh di pantai desa kami,” kata Hasri.
Bagi RSKKA, pengalaman Hasri menggambarkan satu hal penting dalam situasi bencana, layanan kesehatan tidak cukup hanya tersedia. Layanan itu juga harus datang mendekati korban.