11 Tahun Dampingi Anak Autisme, MAC Isi Celah Layanan Pemerintah

Jumat, 30 Okt 2026 21:24 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Founder sekaligus CEO MAC, Mohammad Cahyadi, berbincang dengan Dita Agustina, salah satu orangtua anak didik Omah Terapi Autis (OTA) MAC. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Malang Autism Center (MAC) mendapat apresiasi dari DPRD Kota Malang atas kiprahnya selama 11 tahun mendampingi anak dengan autisme dan penyandang disabilitas. Kehadiran lembaga yang dipimpin Mohammad Cahyadi itu dinilai membantu mengisi kebutuhan layanan pendampingan yang belum sepenuhnya terjangkau pemerintah daerah.

Anggota Komisi D DPRD Kota Malang, Made Riandiana Kartika, menilai MAC telah memberikan kontribusi nyata di bidang kesehatan dan sosial.

Sejumlah program yang dijalankan lembaga tersebut bahkan dinilai bisa menjadi bahan pembelajaran bagi pemerintah daerah.

Baca juga: Dewan Malang Minta Pendiri MAC Tak Maju Pilwali: Jangan Turun Derajat!

Made mengaku telah mengenal Cahyadi selama beberapa tahun dan mengikuti berbagai kegiatan MAC. Menurut dia, kepedulian terhadap anak dengan autisme dan penyandang disabilitas menjadi salah satu kekuatan utama lembaga tersebut.

"Anak-anak ini adalah anak-anak surga. Menurut saya, Pak Cahyadi juga menjadi salah satu penghuni surga prioritas karena kepeduliannya yang luar biasa terhadap anak-anak istimewa dan anak-anak dengan autisme," ujar Made.

Politikus PDI Perjuanga itu menilai kontribusi Cahyadi telah memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Made bahkan menyebut pemerintah daerah perlu belajar dari berbagai inisiatif yang selama ini dijalankan MAC.

"Pemerintah kota sebenarnya belum ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang sudah dilakukan Pak Cahyadi. Kami sangat mengapresiasi dan mendukung penuh," katanya.

Sebagai anggota Komisi D yang membidangi kesehatan dan sosial, Made menyatakan DPRD terbuka untuk membangun kerja sama dengan MAC. Dukungan dapat diwujudkan melalui fungsi penganggaran, pembentukan peraturan daerah, serta pengawasan.

Tenaga Pendamping Disabilitas Masih Terbatas

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian DPRD adalah minimnya tenaga pendamping dengan kompetensi khusus untuk menangani penyandang disabilitas.

Kebutuhan itu semakin terasa seiring pengembangan Posyandu Disabilitas dan bertambahnya sekolah yang menerima peserta didik penyandang disabilitas.

"Posyandu Disabilitas sedang kita kembangkan. Namun, tenaga yang memiliki kompetensi untuk menangani bidang itu masih belum tersedia," jelas Made.

Keterbatasan sumber daya manusia membuat pelayanan bagi penyandang disabilitas membutuhkan dukungan lebih luas. Dalam kondisi tersebut, keberadaan lembaga seperti MAC dinilai dapat membantu memenuhi kebutuhan pendampingan yang belum terakomodasi.

Made juga menyoroti jejaring MAC dengan sejumlah perguruan tinggi serta berbagai kegiatan yang dijalankan secara mandiri. Kolaborasi lintas lembaga itu menjadi modal untuk memperluas jangkauan pelayanan.

Terapi Untuk Keluarga Prasejahtera

Persoalan akses layanan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan tenaga pendamping. Biaya terapi juga menjadi tantangan bagi keluarga yang memiliki anak dengan autisme, terutama mereka yang menghadapi keterbatasan ekonomi.

Pengalaman Dita Agustina, warga Jetak Lor, Kabupaten Malang, memperlihatkan besarnya manfaat layanan terapi dengan biaya terjangkau bagi keberlanjutan pendampingan anak.

Dita mulai membawa anaknya menjalani terapi di Omah Terapi Autis (OTA) sejak Agustus 2025. Saat itu, anaknya berusia 10 tahun dan kerap mengalami tantrum, mulai membuang barang, melempar makanan setelah makan, hingga menendang meja.

Setelah menjalani terapi secara rutin, Dita mulai melihat perubahan perilaku. Frekuensi tantrum berkurang, sementara kebiasaan melempar dan membanting barang tidak lagi terjadi seperti sebelumnya.

"Sedikit demi sedikit, alhamdulillah, ada perkembangan. Perkembangannya luar biasa," ungkap Dita saat ditemui di Omah Terapi Autis, Jl. Neptunus No. 4B, Tata Surya, Tlogomas, Dinoyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jumat (30/10/2026).

Kemajuan juga terlihat dalam kemampuan belajar. Anak yang kini berusia 11 tahun dan duduk di kelas V sekolah dasar inklusi itu mulai mampu memegang pensil dan belajar menulis.

"Dulu sama sekali belum bisa. Sekarang sudah mulai bisa memegang pensil, sudah mulai diarahkan dan bisa menulis," tuturnya.

Setiap pagi, anak Dita mengikuti pendidikan formal di sekolah. Setelah itu, ia menjalani terapi mulai pukul 12.00 hingga 16.00 WIB atau sekitar empat jam dalam satu pertemuan.

Biaya terapi yang dibayarkan secara sukarela sesuai kemampuan keluarga menjadi salah satu faktor yang meringankan beban Dita. Ia mengaku hanya membayar Rp100.000 per bulan.

Baca juga: Gerak Senyap Kelurahan di Malang Wujudkan Mimpi Ramah Disabilitas 2026

"Di sini seikhlasnya. Saya membayar Rp100.000 per bulan. Sangat terbantu sekali, alhamdulillah," katanya.

\

Dita mengetahui layanan terapi itu dari seorang tetangga. Untuk mendapatkan keringanan biaya, ia juga mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) melalui pengurus RT dan RW setempat.

KIS Belum Bisa Dimanfaatkan untuk Terapi

Selain menjalani terapi, anak Dita mendapatkan penanganan medis melalui Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Setiap bulan, Dita mengambil obat dari rumah sakit tersebut tanpa dipungut biaya.

Anaknya juga telah memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS). Namun, Dita mengatakan belum tersedia layanan terapi yang bisa dimanfaatkan melalui fasilitas tersebut.

Kondisi itu memperlihatkan bahwa kebutuhan keluarga dengan anak autisme tidak berhenti pada pengobatan medis. Mereka juga membutuhkan akses terapi dan pendampingan yang berkelanjutan untuk mendukung perkembangan kemampuan anak.

Dita berharap perkembangan anaknya terus meningkat dan layanan terapi yang selama ini membantu keluarganya dapat terus berjalan.

"Harapan saya, semoga anak saya semakin berkembang setelah menjalani terapi di Omah Terapi Autis ini," ujarnya.

Ia juga berharap pemerintah memberikan perhatian lebih besar kepada anak-anak berkebutuhan khusus, terutama keluarga yang menghadapi keterbatasan ekonomi.

"Semoga pemerintah bisa semakin membantu," pungkasnya.

MAC Perluas Fasilitas dan Program Sosial

Apresiasi DPRD dan pengalaman keluarga penerima layanan menjadi gambaran pentingnya keberadaan fasilitas pendampingan bagi anak dengan autisme. Selama 11 tahun, MAC berupaya memperluas pelayanan sekaligus membuka akses bagi keluarga yang membutuhkan.

Didirikan pada Oktober 2015 di Kabupaten Malang, MAC menggunakan pendekatan Applied Behavior Analysis (ABA) untuk mendukung proses belajar, pengembangan keterampilan, dan kemandirian anak dengan autisme.

Baca juga: Siapa Bilang Anak Autisme Tak Bisa Kerja? Intip Pabrik Air MAC di Malang

Founder sekaligus CEO MAC, Mohammad Cahyadi, mengatakan perkembangan lembaga tidak semata-mata diukur dari pertumbuhan fasilitas, tetapi juga manfaat yang dirasakan anak, keluarga, dan masyarakat.

"Tolak ukur kemajuan lembaga bukan sekadar seberapa megah gedungnya berdiri, melainkan seberapa besar manfaat nyata yang dirasakan anak, orang tua, dan warga sekitar," ungkap Cahyadi.

Setelah membangun gedung kedua pada 2025, MAC melanjutkan ekspansi dengan menyiapkan gedung ketiga di Jalan Manggar Nomor 08, Sengkaling, Kecamatan Dau, serta gedung keempat di Jalan Ki Atas Angin, Desa Ngenep, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang.

Pengembangan fasilitas berjalan beriringan dengan program Omah Terapi Autis (OTA) yang menyasar anak dari keluarga kurang mampu. Melalui sistem pembayaran sukarela sesuai kemampuan orang tua, jumlah penerima manfaat program tersebut meningkat dari dua menjadi 10 anak.

Jangkauan OTA juga berkembang. Setelah menghadirkan unit OTA Neptunus pada 2022, MAC membuka titik layanan di Bululawang pada 2024.

"Keterbatasan finansial tidak boleh jadi batu sandungan bagi anak berkebutuhan khusus untuk memperoleh terapi yang tepat sejak dini," tegas Cahyadi.

Selain terapi, MAC menjalin kerja sama dengan Posyandu Disabilitas Kelurahan Penanggungan untuk mendata warga penyandang disabilitas yang membutuhkan fisioterapi.

Warga yang teridentifikasi membutuhkan penanganan dapat mengakses layanan di Klinik Patria, fasilitas fisioterapi milik MAC.

Kepedulian sosial juga diwujudkan melalui program Nasi Berkah. Kegiatan berbagi makanan yang dimulai setiap Jumat pada 2023 itu berkembang menjadi kegiatan harian sejak 2025.

Bagi anak-anak binaan MAC, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi sarana berbagi, tetapi juga kesempatan mempraktikkan keterampilan sosial, berinteraksi dengan masyarakat, dan belajar menjalankan tanggung jawab sederhana.

Cahyadi berharap kerja sama dengan pemerintah, tenaga profesional, perguruan tinggi, komunitas, dan pelaku usaha semakin kuat.

Dengan dukungan berbagai pihak, akses layanan diharapkan semakin luas dan kesempatan anak dengan autisme untuk berkembang semakin terbuka.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Malang

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler