Teh Artisan Nusantara Naik Kelas, ARTI dan Krista Exhibitions Luncurkan KITA Championship

Sabtu, 07 Nov 2026 09:12 WIB
Reporter :
Ali Masduki
ARTI dan Krista Exhibitions meluncurkan KITA Championship untuk mengangkat teh artisan Nusantara. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Asosiasi Artisan Teh Indonesia (ARTI) bersama Krista Exhibitions resmi meluncurkan Indonesia Tea Artisan Championship (KITA Championship) dalam pameran Krista InterFood 2026 di NICE PIK 2, Tangerang, Jumat (6/11/2026).

Kompetisi ini menjadi langkah untuk mengangkat potensi teh artisan Nusantara, memperluas apresiasi masyarakat terhadap produk lokal, sekaligus membuka peluang usaha baru bagi generasi muda di industri minuman berbasis teh.

Peluncuran yang berlangsung di Main Stage Krista InterFood 2026 itu dihadiri pelaku industri teh, bartender, praktisi, komunitas, perwakilan pemerintah, hingga sejumlah pemangku kepentingan sektor minuman.

Baca juga: Apkrindo Jatim Buka Akses Supplier dan Teknologi di KRISTAInterFOOD 2026

Ketua Umum ARTI, Redha T Ardias, mengatakan KITA Championship merupakan bagian dari upaya panjang organisasinya dalam memperkenalkan kualitas dan keunikan teh Indonesia kepada masyarakat.

Sebelum menghadirkan kompetisi tersebut, ARTI telah menggelar lebih dari 100 workshop edukasi dengan jumlah peserta berkisar 10 hingga 65 orang dalam setiap kegiatan.

“Selama ini, ARTI aktif membangun kesadaran masyarakat melalui edukasi, workshop, dan berbagai kegiatan pameran. Kami ingin masyarakat lebih mengenal teh Indonesia, termasuk kualitas, karakter, dan potensi yang dimilikinya,” kata Redha.

Menurutnya, salah satu persoalan yang masih dihadapi industri teh nasional adalah rendahnya apresiasi terhadap produk lokal. Teh Indonesia kerap dipandang sebagai komoditas murah, meskipun memiliki kualitas dan karakter yang mampu bersaing di pasar internasional.

ARTI berupaya mengubah pandangan tersebut melalui penguatan jenama, edukasi konsumen, serta pengembangan pengalaman baru dalam menikmati teh. Dengan begitu, teh lokal tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi juga dikembangkan menjadi produk olahan bernilai tambah tinggi.

Redha menilai peningkatan nilai ekonomi teh juga berkaitan langsung dengan kesejahteraan petani dan keberlangsungan perkebunan. Dalam dua dekade terakhir, sejumlah lahan perkebunan teh menyusut akibat alih fungsi lahan yang salah satunya dipicu rendahnya pendapatan petani.

“Tujuan akhirnya adalah meningkatkan kesejahteraan petani teh, sekaligus menjaga keberlangsungan perkebunan teh dan lingkungan alam Indonesia,” ujarnya.

Padahal, Indonesia memiliki kekayaan karakter teh yang beragam, mulai dari teh hitam, hijau, putih, kuning, hingga teh merah. Perbedaan karakter tersebut dipengaruhi varietas tanaman, proses pengolahan, serta daerah asalnya.

Potensi itu, lanjut Redha, bisa dikembangkan melalui konsep single origin seperti yang berkembang di industri kopi. Pemanfaatan pucuk daun teh pilihan dengan standar mutu tinggi dapat menjadi salah satu cara memperkuat identitas dan nilai jual teh dari berbagai daerah.

Dukungan terhadap penyelenggaraan KITA Championship juga datang dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin).

Direktur Mintemgar Kemenperin, Merrijantij, menyambut positif kompetisi tersebut karena dinilai dapat meningkatkan profesionalisme, kreativitas, dan kualitas sumber daya manusia di sektor industri olahan teh.

Menurutnya, kompetisi artisan bukan sekadar ruang untuk menunjukkan keterampilan meracik minuman. Peserta juga dituntut memahami karakter bahan baku, mutu teh, formulasi komposisi, teknik pengolahan, hingga estetika penyajian.

Merrijantij mengungkapkan, Kemenperin sebelumnya telah rutin menggelar kompetisi serupa setiap Agustus. Kegiatan yang awalnya berskala terbatas itu berkembang dan menarik perhatian perwakilan berbagai negara.

“Pada penyelenggaraan tahun ketiga, kegiatan kami dihadiri sekitar 18 perwakilan kedutaan, sehingga total ada 26 perwakilan dari berbagai negara yang turut hadir. Ini menunjukkan bahwa kompetisi yang awalnya berskala kecil ternyata memiliki daya tarik dan manfaat yang cukup besar,” ungkapnya.

Ia berharap KITA Championship mampu melahirkan inovasi minuman teh yang tidak berhenti sebagai karya kompetisi, tetapi juga bisa dikembangkan menjadi produk komersial.

Peluang komersialisasi tersebut diharapkan mendorong tumbuhnya wirausaha baru, membuka lapangan pekerjaan, serta memperluas pasar produk minuman berbasis teh.

“Kompetisi ini diharapkan tidak hanya menghasilkan talenta yang terampil secara teknis, tetapi juga mampu menciptakan inovasi produk. Dari inovasi tersebut, terbuka peluang komersialisasi, tumbuhnya wirausaha baru, serta semakin luasnya pasar produk minuman berbasis teh,” jelasnya.

Kemenperin juga berharap KITA Championship dapat berkembang menjadi agenda tahunan berskala nasional. Penyelenggaraan di berbagai daerah nantinya diharapkan membuka kesempatan bagi talenta dari seluruh Indonesia untuk menunjukkan kemampuan mereka.

Selain meningkatkan keterampilan artisan, ARTI juga menaruh perhatian pada keterlibatan generasi muda dalam ekosistem industri teh nasional.

Ketua Dewan Pembina ARTI, Iriana Ekasari, menjelaskan organisasinya memberikan ruang bagi anak muda untuk terlibat langsung dalam kepengurusan. Sementara itu, para pendiri dan praktisi senior mengambil peran dalam memberikan pendampingan serta pengalaman bisnis.

Baca juga: ASENSI dan Kemendag Bawa Merek Lokal Naik Kelas Lewat Lisensi dan Waralaba

Menurut Iriana, keterlibatan generasi muda penting untuk memperkenalkan industri teh kepada kelompok usia sebaya. Namun, semangat berwirausaha perlu diimbangi pemahaman mengenai kualitas produk dan keunggulan kompetitif.

\

“Anak muda membutuhkan pendampingan agar bisa mengembangkan bisnis dengan produk yang benar-benar berkualitas. Di sinilah peran generasi senior untuk memberikan pengalaman dan pengetahuan, mulai dari aspek tanaman, pengolahan, hingga berbagai perkembangan industri teh,” tuturnya.

Iriana juga menceritakan pengalamannya memfasilitasi hampir 200 anak muda untuk mengenal industri teh. Ketertarikan mereka cukup tinggi, terutama ketika mendapat kesempatan belajar langsung di perkebunan.

Melalui kunjungan lapangan, peserta bisa mempraktikkan teknik pemetikan daun teh, mengenali perbedaan rasa ant arvarietas, sekaligus memahami hubungan perkebunan teh dengan ekosistem lingkungan.

Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa industri teh memiliki peluang bisnis yang dapat berjalan beriringan dengan upaya pelestarian alam.

“Ketika mereka datang langsung ke kebun teh dan mengetahui bahwa setiap jenis teh memiliki rasa berbeda, mereka mendapatkan pengalaman baru. Mereka juga melihat bagaimana perkebunan teh berhubungan dengan hutan, habitat, dan kelestarian alam. Dari situ muncul pemahaman bahwa kita bisa berbisnis sekaligus menjaga alam dan masa depan,” jelasnya.

Melalui KITA Championship, ARTI ingin mempertemukan kualitas teh Nusantara dengan kreativitas para artisan dalam menghasilkan racikan minuman inovatif.

Program ini sekaligus melanjutkan pembinaan melalui Artisan Tea Talent yang telah berjalan selama empat tahun. Saat ini, ARTI memiliki sekitar 30 anggota aktif dari berbagai latar belakang, mulai pelaku UMKM, pemilik perkebunan teh swasta, unsur pemerintah, hingga penggiat industri teh.

Tea Talkshow dan Tea Mixo Show Meriahkan Peluncuran

Peluncuran KITA Championship turut dimeriahkan sejumlah agenda edukatif dan demonstrasi racikan minuman teh.

Baca juga: Satu Jam Meracik Gelato, Peserta 10 Negara Berebut Tiket ke Italia

Rangkaian kegiatan dibuka moderator Mei P. Chandra, dilanjutkan aksi juggling oleh Nicky dari Willford’s. Agenda kemudian berlanjut dengan tea talkshow bertajuk “Reimagining Indonesian Artisan Tea Industry”.

Diskusi tersebut menghadirkan Shane dari Teashane, Nicky dari Jakarta Bartender Club (JBC), Harianto dari ASKI, serta Iriana Ekasari yang mewakili DTI dan ARTI.

Para narasumber membahas peluang pengembangan industri teh artisan Indonesia, mulai inovasi racikan, tren penyajian, hingga strategi memperkenalkan produk lokal agar semakin dikenal masyarakat.

Suasana semakin semarak melalui tiga sesi demonstrasi Tea Mixo Show yang menampilkan kreasi Aldy AK dari Matchamart Indonesia, Okky Triana dari Jelajah Rasa, dan Bronto Yudha dari JBC.

Ketiganya memperagakan berbagai racikan minuman berbasis teh dengan memadukan karakter bahan baku lokal dan teknik penyajian modern.

Dalam kesempatan yang sama, ARTI menyerahkan plakat penghargaan Paramasraya kepada Krista Exhibitions sebagai bentuk apresiasi atas kemitraan strategis dalam mendorong perkembangan industri teh artisan Indonesia.

Acara dilanjutkan dengan pemaparan program KITA Championship, sambutan perwakilan Kemenperin, serta seremoni peluncuran yang ditandai dengan efek confetti dan pemutaran video profil ARTI.

Melalui kolaborasi tersebut, ARTI dan Krista Exhibitions berharap KITA Championship menjadi ruang pembinaan berkelanjutan bagi artisan, bartender, pelaku industri, komunitas, serta generasi muda untuk mengembangkan keterampilan dan kreativitas.

Redha menegaskan, predikat artisan tidak cukup hanya diukur dari kemampuan mengolah bahan menjadi produk minuman. Seorang artisan juga harus memahami mutu hasil karyanya serta dampak aktivitas yang dilakukan terhadap masyarakat dan lingkungan.

“Artisan bukan sekadar orang yang jago atau terampil. Mereka harus memahami apa yang dikerjakan, mengetahui kualitas produk yang dihasilkan, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan,” pungkasnya.

Melalui KITA Championship, ARTI dan Krista Exhibitions optimistis teh Indonesia semakin dikenal di pasar nasional maupun internasional. Pengembangan produk bernilai tambah diharapkan membuka peluang usaha baru, meningkatkan kesejahteraan petani, sekaligus menjaga keberlanjutan perkebunan teh Nusantara.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler