Unggulkan Riset Isu Sosial, Unair Borong Dua Emas di PIMNAS ke-39

Minggu, 08 Nov 2026 12:00 WIB
Reporter :
Sujianto
Kontingen Unair berhasil membawa pulang dua medali emas dan satu gelar juara favorit dalam ajang PIMNAS ke-39 yang digelar di Universitas Diponegoro, Semarang. (Foto: Humas Unair/jatimnow.com)

jatimnow.com - Universitas Airlangga (Unair) kembali menorehkan prestasi di tingkat nasional. Kontingen Unair berhasil membawa pulang dua medali emas dan satu gelar juara favorit dalam ajang Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 yang digelar di Universitas Diponegoro, Semarang.

Pengumuman pemenang berlangsung di Gedung Muladi Dome, Jumat (6/11/2026). Dua medali emas diraih melalui kategori Program Kreativitas Mahasiswa Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH). Sementara itu, satu penghargaan juara favorit diperoleh tim dari kategori PKM Riset Eksakta (PKM-RE).

Dua medali emas tersebut diraih melalui penelitian yang mengangkat persoalan sosial aktual di masyarakat, khususnya kekerasan berbasis gender dan pengaruh komunitas digital terhadap perilaku remaja.

Baca juga: 1.670 Peserta Bakal Hadiri KPPTI 2026 di Unair, Bahas Masa Depan Pendidikan Tinggi

Medali emas pertama dipersembahkan Tim PKM-RSH 3 melalui penelitian berjudul Vonis Di Balik Layar: Mengungkap Keputusan Pelaku dalam Eskalasi Kekerasan Gender dari Relasi Digital Menuju Femisida.

Tim tersebut diperkuat Afif Pramudya Alriandi, Muhammad Adha Al-Faiz Nadhif, Annisa Alfitriah, Vennisya Nadia Putri, dan Desi Rahmawati Pambudi.

Medali emas berikutnya diraih Tim PKM-RSH 2 yang beranggotakan Azka Syifa Mazaya, Calista Prashanti Jocom, Farrel Thalhah Mahendra, Nabila Juhaina, dan Saila Salsabila.

Tim ini mengangkat penelitian bertajuk Mengagumi Kejahatan, Menjelma Ancaman: Menguak Radikalisasi Digital Remaja Indonesia dalam True Crime Community.

Selain dari bidang sosial humaniora, Unair juga berhasil meraih penghargaan juara favorit melalui Tim PKM-RE 1. Tim ini mengembangkan inovasi Vesicular Nano-Transethosome Gel berbasis minyak buah merah Papua yang dikombinasikan dengan Silk Fibroin Bombyx mori Cocoon sebagai kandidat terapi osteoartritis.

Tim tersebut terdiri dari Bayu Cahyo Bintoro, Intan Asmi Saharani, Muhammad Darryl Aghzuwwan Fiddianova, Anindita Azkia Fauzana, dan Barika Zoyscia Dyana Putri.

Direktur Kemahasiswaan Unair, Dr Eko Supeno, Drs MSi, mengaku bangga atas pencapaian para mahasiswa. Menurutnya, persaingan PIMNAS tahun ini berlangsung ketat karena berbagai perguruan tinggi turut mengirimkan tim terbaik mereka.

Ia mengaku tidak menyangka kontingen Unair mampu membawa pulang dua medali emas dari kategori presentasi. Capaian tersebut menjadi kebanggaan bagi seluruh pihak yang terlibat dalam proses pembinaan mahasiswa.

“Alhamdulillah, saya cukup surprise dan senang. Kami bersyukur dan saya sangat terharu dengan anak-anak,” ujarnya.

Meski demikian, Eko menegaskan bahwa pencapaian tersebut bukan akhir dari upaya Unair dalam mengembangkan prestasi mahasiswa. Menurutnya, masih ada sejumlah aspek yang perlu diperkuat, terutama untuk meningkatkan daya saing penelitian di bidang eksakta pada kompetisi mendatang.

Bagi Unair, keberhasilan dalam kompetisi ilmiah tidak hanya diukur dari jumlah penghargaan yang diperoleh. Hasil penelitian mahasiswa diharapkan dapat dikembangkan lebih lanjut sehingga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Eko menyebut keberlanjutan menjadi salah satu aspek penting yang harus diperhatikan setelah kompetisi berakhir. Ide dan inovasi yang dirancang mahasiswa bersama dosen pendamping perlu mendapatkan ruang pengembangan agar tidak berhenti sebatas proposal maupun karya ilmiah.

“Yang paling penting itu impact atau dampak dan keberlanjutan. Tanpa adanya keberlanjutan, apa yang diusahakan teman-teman, termasuk dosen pendamping, hanya akan berhenti sebagai gagasan dan ide,” jelasnya.

Baca juga: Tiga Akademisi UNAIR Terlibat Riset Herbal Internasional di Thailand

Untuk menghadapi PIMNAS berikutnya, Unair mulai menyiapkan sejumlah strategi. Direktorat Kemahasiswaan berencana melakukan penjaringan mahasiswa potensial atau talent scouting lebih awal, bahkan setelah pelaksanaan PIMNAS ke-39.

\

Salah satu strategi yang akan dioptimalkan adalah melalui program Unair Menagih Janji. Program ini menyasar mahasiswa yang diterima melalui jalur prestasi agar terus mengembangkan kemampuan dan mempertahankan capaian yang menjadi modal mereka saat masuk perguruan tinggi.

Pembinaan juga akan diarahkan dengan melibatkan mahasiswa baru dalam berbagai kegiatan pengembangan gagasan dan inovasi. Dengan begitu, budaya kompetisi dan penelitian diharapkan tumbuh sejak awal masa perkuliahan.

“Kami mencoba mempersiapkan jauh lebih lama. Insyaallah, mulai satu tahun setelah event ini, tim kami sudah bergerak mencari talent-talent. Kami ingin atmosfer kompetisi itu tercipta di Unair,” ungkap Eko.

Sebagai bentuk apresiasi atas perjuangan mahasiswa, Unair juga menyiapkan penghargaan berupa dukungan finansial dan akademik melalui Surat Keputusan (SK) Rektor.

Salah satu bentuk dukungan tersebut adalah fasilitas pembebasan skripsi bagi mahasiswa yang berhasil lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Eko berharap kebijakan tersebut dapat menjadi motivasi tambahan bagi mahasiswa untuk terus berkarya dan mengembangkan potensi akademiknya.

“Harapannya, mahasiswa tidak hanya mendapatkan sertifikat, tetapi juga ada apresiasi lainnya yang bisa memberikan semangat bagi mereka untuk terus berprestasi,” pungkasnya.

Baca juga: Tim Ekspedisi Patriot UNAIR Percepat Digitalisasi UMKM di Prafi

Di balik keberhasilan dua tim PKM-RSH meraih medali emas, terdapat proses pembinaan panjang yang melibatkan dosen pendamping Herdina Indrijati, MPsi, Psikolog.

Ia menjelaskan, persiapan menuju PIMNAS tidak bisa dilakukan secara instan. Proses tersebut bahkan telah dimulai sekitar satu tahun sebelum kompetisi berlangsung, termasuk melalui diskusi intensif untuk menentukan topik penelitian yang tepat.

“PKM menuju PIMNAS ini merupakan kompetisi dengan persiapan yang panjang. Bukan hanya satu atau dua bulan, tetapi satu tahun. Bahkan sebelum proposal diunggah, kami sudah berdiskusi intens untuk menemukan tema yang benar-benar sesuai,” ungkapnya.

Menurut Herdina, tantangan selama proses penelitian tidak hanya berkaitan dengan kedalaman materi. Dinamika kerja tim hingga kesiapan psikologis mahasiswa juga menjadi perhatian, terlebih kedua kelompok mengangkat isu sensitif terkait radikalisme remaja dan femisida atau pembunuhan perempuan.

Tantangan semakin terasa ketika kedua tim dinyatakan lolos ke PIMNAS. Mereka hanya memiliki waktu sekitar dua minggu untuk mematangkan persiapan sebelum mempresentasikan hasil penelitian di hadapan dewan juri.

Namun, latihan presentasi yang telah dilakukan sejak awal penelitian menjadi bekal penting. Bahkan, mahasiswa sudah dibiasakan menyiapkan materi presentasi sejak proses pengumpulan data.

“Saya sejak jauh hari selalu mengatakan kepada mereka, ‘Kamu akan lolos PIMNAS’. Jadi, latihan presentasi sudah dilakukan sejak mereka mulai mengambil data. Ketika waktu persiapan sangat singkat, mereka sudah lebih siap,” jelasnya.

Prestasi ini sekaligus menunjukkan bahwa konsistensi pembinaan, kolaborasi mahasiswa dan dosen, serta keberanian mengangkat persoalan aktual dapat menghasilkan karya yang mampu bersaing di tingkat nasional.

Tags :
Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler