Pixel Code jatimnow.com

Riset Laut Gili Noko, Sinyal Bahaya Mikroplastik untuk Bawean

Peristiwa Rabu, 08 Apr 2026 10:37 WIB
Selama dua hari, 5–6 April 2026, tim gabungan mengamati plankton dan makroalga serta mengukur kualitas air. (Foto: Humas for jatimnow.com)
Selama dua hari, 5–6 April 2026, tim gabungan mengamati plankton dan makroalga serta mengukur kualitas air. (Foto: Humas for jatimnow.com)

jatimnow.com - Penelitian di Gili Noko, Pulau Bawean, membuka dua hal sekaligus, yaitu kualitas perairan yang masih terjaga dan ancaman mikroplastik yang mulai mengintai ekosistem laut.

Riset kolaboratif antara SDIT Al Huda Bawean dan mahasiswa Ilmu Kelautan UIN Sunan Ampel Surabaya itu tak hanya menghasilkan data, tetapi juga membawa siswa sekolah dasar terlibat langsung memahami laut mereka sendiri.

Selama dua hari, 5–6 April 2026, tim gabungan mengamati plankton dan makroalga serta mengukur kualitas air.

Hasilnya, kadar oksigen terlarut mencapai 8,76 mg/L, pH 9, dan suhu 31 derajat Celsius, angka yang menunjukkan perairan masih dalam kondisi baik untuk mendukung kehidupan biota laut.

Mahasiswa Ilmu Kelautan UINSA, Davin Jauhar Bernarddien, menjelaskan plankton menjadi fondasi rantai makanan laut.

“Fitoplankton menghasilkan oksigen, sedangkan zooplankton menjadi penghubung bagi organisme yang lebih besar. Keduanya menentukan keseimbangan ekosistem laut,” ujarnya.

Temuan lapangan juga menunjukkan kontras dengan wilayah pesisir perkotaan. Di Surabaya, tekanan aktivitas manusia membuat kualitas air lebih rentan. Sementara di Gili Noko, kejernihan air masih memungkinkan pandangan hingga dasar laut.

Riset kemudian berlanjut pada identifikasi makroalga, khususnya anggur laut (Caulerpa sp.) yang tumbuh di sekitar terumbu karang.

Dewi Fitriana, mahasiswa yang memimpin pengamatan, menyebut kondisi habitat masih sangat sehat.

“Terumbu karang berwarna, tidak ada tanda pemutihan, dan ikan kecil masih mudah dijumpai,” katanya.

Ia juga mengingatkan ancaman yang tak kasatmata. “Mikroplastik dari sampah laut berisiko merusak keanekaragaman plankton. Padahal plankton adalah produsen oksigen sekaligus sumber energi utama di laut,” ujar Dewi.

Keterlibatan siswa menjadi bagian penting dari kegiatan tersebut. Empat siswa kelas 5 SDIT Al Huda Bawean ikut turun langsung dalam pengamatan. Mereka tidak hanya melihat laut sebagai pemandangan, tetapi sebagai ruang belajar.

Syarif Hidayatulloh, salah satu peserta, mengaku baru memahami perbedaan jenis plankton.

“Saya baru tahu ada fitoplankton dan zooplankton. Seru karena bisa belajar langsung sambil melihat ikan dan tumbuhan laut,” katanya.

Guru pendamping, Inayatul Fitriah, menyebut pendekatan lapangan membuat sains terasa dekat bagi siswa.

“Anak-anak belajar dari lingkungan yang mereka temui setiap hari, jadi lebih mudah dipahami,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Rifky Ananda Rahman. Ia melihat metode riset lapangan memberi pengalaman yang tak tergantikan oleh kelas.

“Kami mendapat cara baru dalam pembelajaran. Siswa juga lebih antusias karena terlibat langsung,” tuturnya.

Di luar hasil ilmiah, riset tersebut membawa pesan yang lebih luas, yakni menjaga laut tidak bisa ditunda. Sampah plastik yang belum tertangani berpotensi menjadi sumber krisis lingkungan di Bawean.

Mahasiswa UINSA yang terlibat berharap generasi muda pulau mulai dari mengenali ekosistemnya sendiri sebelum bergerak lebih jauh.

Kesadaran itu menjadi kunci untuk menjaga laut tetap sehat, sekaligus melindungi sumber kehidupan masyarakat pesisir.

Kolaborasi tersebut menjadi langkah awal memperkuat pendidikan berbasis riset di wilayah kepulauan.

Dari Gili Noko, siswa Bawean belajar bahwa sains bukan sesuatu yang jauh—ia ada di laut yang mereka pijak setiap hari.