Pixel Code jatimnow.com

ITS Sulap Lahan Asin Jadi Sawah Produktif

Wiyata Selasa, 14 Apr 2026 15:15 WIB
Rektor ITS Prof Bambang Pramujati (kanan) dan Kepala BRIDA Kota Surabaya Agus Imam Sonhaji, meninjau padi salin hasil inovasi peneliti ITS di Kebun Raya Mangrove Surabaya. (Foto: Humas ITS for jatimnow.com)
Rektor ITS Prof Bambang Pramujati (kanan) dan Kepala BRIDA Kota Surabaya Agus Imam Sonhaji, meninjau padi salin hasil inovasi peneliti ITS di Kebun Raya Mangrove Surabaya. (Foto: Humas ITS for jatimnow.com)

jatimnow.com - Ancaman krisis pangan di wilayah pesisir akibat merembesnya air laut ke lahan pertanian kini menemui titik terang. Departemen Biologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya tengah mematangkan riset padi salin varietas padi yang tetap tumbuh subur meski terendam air berkadar garam tinggi.

Terobosan yang mengambil lokasi di Kebun Raya Mangrove (KRM) Surabaya tersebut menyasar masalah klasik petani pinggir pantai, tanah yang tidak lagi produktif karena salinitas.

Dalam proyek ini, ITS tidak bergerak sendirian. Melalui skema program Equity World Class University (WCU), pakar biologi ITS, Mukhammad Muryono PhD, menggandeng Tran Thi Huong Sen PhD dari University of Agriculture and Forestry, Hue University Vietnam.

Vietnam sengaja dipilih sebagai mitra karena keberhasilan negara tersebut mengelola lahan kritis di wilayah Delta Mekong.

Kini, adaptasi teknologi serupa dibawa ke Surabaya untuk memastikan masyarakat pesisir bisa berdaulat secara pangan di tengah perubahan iklim yang kian ekstrem.

"Kami fokus mengembangkan varietas padi yang punya toleransi tinggi terhadap garam. Tujuannya jelas, meningkatkan produktivitas lahan yang selama ini terbengkalai akibat intrusi air laut," ujar Muryono, Selasa (14/4/2026).

Bukan sekadar menanam padi, tim peneliti turut menyematkan teknologi hijau bernama Water Level Sensor (WALsens). Perangkat bertenaga surya ini memantau ketinggian air secara akurat dan seketika (real-time).

Untuk memperbaiki kualitas tanah, mereka menggunakan Biochar sebagai pembenah tanah. Langkah tersebut diklaim mampu menyerap karbon lebih banyak sekaligus menekan emisi gas metana di area persawahan.

Kolaborasi ini juga melibatkan Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya sebagai jembatan agar inovasi laboratorium tidak mandek di atas kertas, namun benar-benar mendarat di tangan petani. BRIDA menyediakan lahan di KRM Surabaya sebagai etalase sekaligus laboratorium alam.

"Sinergi ini merupakan wujud nyata riset yang berdampak langsung. Dengan dukungan pakar internasional dan ekosistem unik di KRM Surabaya, kami optimistis lahir varietas padi masa depan yang menjamin perut masyarakat pesisir tetap kenyang," tegas Muryono.

Proyek ambisius tersebut diharapkan tidak hanya melahirkan publikasi ilmiah di jurnal internasional, tetapi menjadi jawaban konkret atas poin-poin tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs), terutama dalam menghapus kelaparan dan mendorong inovasi infrastruktur di daerah marginal.