Pixel Code jatimnow.com

GMNI Dorong Mahasiswa Jadi Jurnalis Warga yang Berani dan Jujur

Peristiwa Rabu, 10 Jun 2026 17:37 WIB
Ali Masduki menyampaikan materi dalam Pelatihan Jurnalistik yang digelar DPC GMNI Surabaya Raya bersama Rumah Literasi Digital di Hanaka Social Space, Surabaya, Rabu (10/6/2026). (Foto: Fuad for jatimnow.com)
Ali Masduki menyampaikan materi dalam Pelatihan Jurnalistik yang digelar DPC GMNI Surabaya Raya bersama Rumah Literasi Digital di Hanaka Social Space, Surabaya, Rabu (10/6/2026). (Foto: Fuad for jatimnow.com)

jatimnow.com - Kemampuan menulis berita dan memverifikasi informasi menjadi bekal penting bagi mahasiswa di tengah derasnya arus informasi digital. Kesadaran tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam Pelatihan Jurnalistik Batch #2 yang digelar DPC GMNI Surabaya Raya bersama Rumah Literasi Digital (RLD) di Hanaka Social Space, Surabaya, Rabu (10/6/2026).

Kegiatan yang diikuti kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dari berbagai daerah di Jawa Timur tersebut membahas teknik dasar jurnalistik, verifikasi informasi, hingga tantangan penyebaran berita di era algoritma media sosial.

Ketua DPC GMNI Surabaya Raya, Kadek Ayu Wardani, menilai kemampuan jurnalistik memiliki peran strategis bagi aktivis mahasiswa dalam mengawal isu-isu sosial dan menyuarakan kepentingan masyarakat.

“Jurnalistik bagi kaum pergerakan adalah alat perjuangan. Melalui tulisan, kita harus mampu mendidik rakyat dengan pergerakan sekaligus mendidik penguasa dengan perlawanan. Kita tidak boleh apatis karena diam adalah bentuk pengkhianatan,” kata Kadek.

Materi pelatihan yang disusun Ali Masduki dikemas dalam panduan visual yang mudah dipahami peserta pemula. Selain memahami teknik penulisan berita, peserta diajak mengenali fungsi jurnalistik sebagai sarana pendidikan publik dan pengawal kebenaran.

Ketua Rukun Warta RLD, Fatchur Rohman, mengingatkan pentingnya disiplin verifikasi sebelum menyebarkan informasi kepada publik.

“Sikap skeptis adalah senjata utama hari ini. Jangan langsung percaya pada sebuah informasi sebelum melewati proses cek sumber, perbandingan data, konfirmasi langsung, dan pemeriksaan visual. Cepat boleh, salah jangan,” ujarnya.

Sementara itu, salah satu senior GMNI, Anom Surahno yang membuka pelatihan mengajak mahasiswa memahami perubahan lanskap informasi akibat perkembangan teknologi digital.

Menurutnya, dominasi media besar sebagai sumber utama informasi kini telah bergeser ke algoritma yang bekerja melalui telepon genggam.

“Zaman saya mahasiswa, membawa majalah Tempo atau koran Kompas sudah dianggap keren karena ada monopoli sumber informasi. Sekarang tidak ada lagi. Yang menentukan persepsi kebenaran hari ini adalah algoritma di ponsel Anda,” ujar Anom saat menyampaikan materi bertajuk Merawat Jalan Pedang Jurnalisme Progresif Revolusioner.

Ia memetakan tiga tantangan utama yang dihadapi penyampai informasi saat ini, yakni tuntutan kecepatan, hilangnya monopoli informasi, serta menjaga kepercayaan publik di tengah maraknya jurnalisme warga.

Anom menilai perkembangan teknologi membuat masyarakat berlomba menjadi yang tercepat membagikan informasi. Akibatnya, proses verifikasi kerap diabaikan.

“Lima detik setelah kejadian, informasi ingin langsung sampai. Masalahnya, kecepatan sering kali mengesampingkan kebenaran. Kebenaran tidak bisa diperlakukan seperti itu, harus ada proses cek dan ricek,” tegasnya.

Karena itu, ia mendorong mahasiswa mengambil peran sebagai jurnalis warga yang memegang teguh tiga prinsip utama, yakni berani, jujur, dan berpihak kepada rakyat kecil.

Menurut Anom, jurnalisme mahasiswa seharusnya tidak terjebak pada pencarian popularitas atau konten viral semata. Perhatian justru perlu diarahkan kepada kelompok masyarakat yang selama ini minim ruang untuk menyampaikan aspirasinya.

“Perhatian kita harus diberikan kepada mereka yang kecil, lemah, dan tidak memiliki suara. Petani yang kehilangan lahan, pengemudi ojek online yang terkena suspend, hingga pelaku UMKM yang usahanya terdampak perubahan algoritma harus menjadi bagian dari perjuangan kita,” ujarnya.

Selain materi tentang etika dan peran sosial jurnalisme, peserta juga memperoleh pembekalan teknis mulai dari unsur 5W+1H, teknik wawancara, membaca data, menyusun berita dengan struktur piramida terbalik, hingga proses penyuntingan naskah.

Sebagai evaluasi, panitia memberikan tugas lapangan kepada peserta untuk mengamati peristiwa di sekitar mereka, melakukan wawancara, mengumpulkan fakta, lalu menyusunnya menjadi karya jurnalistik yang utuh.

Menutup kegiatan, Anom mengajak mahasiswa terus berlatih menulis dan tidak takut melakukan kesalahan selama proses belajar.

“Jangan takut salah ketika belajar menulis. Yang harus ditakuti adalah ketika kita diam saat kebenaran dibengkokkan. Takutlah jika kita hanya menjadi korban algoritma. Jadilah orang yang mengatur algoritma melalui narasi-narasi yang jujur,” pungkasnya.

Pelatihan Jurnalistik GMNI Surabaya juga menghadirkan sejumlah jurnalis senior sebagai pemateri, di antaranya Ari dan Parto, yang membagikan pengalaman terkait metodologi verifikasi informasi, kode etik jurnalistik, serta teknik penulisan berita di era digital.

Penulis: Amru Setyawan