Pixel Code jatimnow.com

Viral Ricuh di Pintu Masuk Bromo, TNBTS Klaim Pemukulan Refleks Bela Diri

Peristiwa 7 jam yang lalu
Tangkap layar rekaman CCTV insiden keributan di pintu masuk Bromo. (Foto: Humas BB-TNBTS for jatimnow.com)
Tangkap layar rekaman CCTV insiden keributan di pintu masuk Bromo. (Foto: Humas BB-TNBTS for jatimnow.com)

jatimnow.com – Insiden kericuhan yang diwarnai pemukulan terjadi di pintu masuk Wisata Gunung Bromo via Wonokitri, Kabupaten Pasuruan, pada Sabtu (27/6/2026) dini hari. Ketegangan yang melibatkan ratusan pelaku jasa wisata, petugas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), dan personel pengamanan Marinir TNI AL itu diklaim dipicu persoalan ketidaksesuaian jumlah tiket.

Kepala Balai Besar (BB) TNBTS, Rudijanta Tjahja Nugraha, membenarkan adanya insiden tersebut. Namun demikian, kata dia, pada Senin (29/6/2026), persoalan ini telah dimediasi dan diselesaikan secara kekeluargaan.

"Secara personal, pihak-pihak yang terlibat telah saling memahami dan saling memaafkan. Kami dari BB-TNBTS mengapresiasi dukungan Polsek Tosari, unsur pengamanan, koordinator pelaku jasa wisata, serta seluruh pihak yang telah membantu menjaga situasi tetap kondusif," paparnya.

Rudijanta membeberkan kronologi insiden yang terjadi saat momentum perburuan sunrise (matahari terbit) tersebut. Awalnya, petugas melakukan verifikasi data dan pemindaian kode QR (barcode) pengunjung yang membeludak akibat musim libur sekolah.

"Dalam proses tersebut, beberapa tiket masuk yang dibawa oleh sejumlah pelaku jasa wisata yang belum sesuai dengan jumlah pengunjung yang akan masuk kawasan TNBTS," kata Rudijanta

Perbedaan data itulah yang memantik adu argumen. Bukannya mematuhi prosedur administrasi, sejumlah oknum justru memprovokasi pengemudi lain untuk menerobos pos pemeriksaan tanpa melalui proses scan barcode. Situasi adu mulut tersebut kemudian tereskalasi menjadi kericuhan dan tindakan kekerasan fisik.

Menanggapi narasi yang beredar bahwa petugas melakukan pemukulan sepihak, Rudijanta memberikan bantahan keras. Menurutnya, emosi petugas memuncak lantaran menerima tekanan, provokasi, dan penyerangan fisik terlebih dahulu dari kerumunan massa.

"Dalam situasi tersebut, tindakan yang dilakukan petugas merupakan respons spontan atau refleks pembelaan diri untuk menghentikan penyerangan yang sedang berlangsung, serta melindungi diri dan petugas lainnya. Oleh karena itu, informasi yang menggambarkan seolah-olah aparat melakukan pemukulan secara sepihak tidak menggambarkan rangkaian peristiwa secara utuh," klaimnya.

Meski kondisi sempat mereda, pada pagi harinya kembali terjadi pergerakan massa. Ratusan pelaku wisata mendatangi area pintu masuk dan diduga hendak kembali menyerang petugas. Beruntung, aparat gabungan segera mengambil langkah pengendalian sebelum eskalasi meluas.

Pada pukul 06.21 WIB, difasilitasi oleh Polsek Tosari, mediasi digelar di Kantor Resort PTN Gunung Penanjakan dan berakhir dengan damai.

Terkait kehadiran aparat militer di pos tiket, Rudijanta mengklarifikasi bahwa personel Marinir TNI AL memang disiagakan khusus untuk membantu pengamanan. Mengingat pada musim libur sekolah, jumlah wisatawan Bromo melonjak hingga ribuan orang, sehingga petugas TNBTS membutuhkan penebalan personel di pintu masuk Wonokitri, Cemorolawang, dan Jemplang.