Kasus Kekerasan Anak Terus Meningkat, Pemkab Kediri Dorong Korban Berani Melapor
Peristiwa 6 jam yang lalujatimnow.com - Kasus kekerasan terhadap anak di Kabupaten Kediri menunjukkan tren peningkatan. Hingga Mei 2026, Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) Kabupaten Kediri mencatat hampir 50 kasus, mendekati total kasus sepanjang 2025 yang mencapai sekitar 70 kasus.
Kepala DP2KBP3A Kabupaten Kediri, Nurwulan Andadari, mengatakan sebagian besar kasus yang ditangani merupakan kekerasan seksual dengan pelaku didominasi orang-orang terdekat korban. Kondisi ini membuat pihaknya terus memperkuat edukasi kepada anak agar memahami kesehatan reproduksi sekaligus berani melapor ketika menghadapi situasi yang mengancam.
“Jadi kalau tahun kemarin itu kita setahun sekitar 70 kasus. Ini sampai Mei kita sudah hampir 50,” katanya, Kamis (16/7/2026).
Menurut Andadari, pemahaman mengenai kesehatan reproduksi menjadi bekal penting agar anak mampu mengenali tindakan yang tidak semestinya dan segera mencari pertolongan.
“Saat ini memang penguatan kesehatan reproduksi pada anak-anak ini masih terus kita sampaikan sehingga mereka tahu kapan mereka harus segera melaporkan atau mengamankan dirinya pada saat ada sesuatu yang mengancam,” tegasnya.
Upaya tersebut turut diperkuat melalui kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). DP2KBP3A aktif mendatangi sekolah-sekolah untuk memberikan edukasi mengenai berbagai bentuk kekerasan terhadap anak, termasuk mengenalkan saluran pengaduan yang dapat diakses siswa apabila menjadi korban maupun mengetahui adanya tindak kekerasan.
“Jadi di MPLS ini kita beberapa kali diundang oleh sekolah-sekolah untuk selalu menyampaikan soal bullying. Kita juga selalu menyampaikan kalau mau mengadu ke mana, nomor yang bisa dihubungi apa, sehingga bisa kita antisipasi dari awal,” terangnya.
Selain meningkatnya kasus kekerasan seksual, DP2KBP3A juga terus mengingatkan sekolah agar mewaspadai praktik perundungan atau bullying. Menurut Andadari, seluruh satuan pendidikan telah berkomitmen menciptakan lingkungan belajar yang ramah anak dan bebas dari segala bentuk kekerasan.
“Jadi dengan MPLS ini saya pikir semua sekolah, semua jenjang pendidikan sudah bertekad untuk mereka bebas dari bullying maupun kekerasan yang lain,” ujarnya.
Ia menilai pencegahan bullying tidak cukup dilakukan di sekolah. Lingkungan keluarga juga memiliki peran besar dalam membentuk karakter anak. Bahkan, tidak sedikit pelaku bullying justru pernah mengalami kekerasan di rumah.
“Kadang-kadang memang pelaku bullying ini bisa menjadi korban bullying di rumahnya sendiri yang mungkin kadang kita sebagai orang tua juga tidak sadar. Sehingga monggo kita menjadi orang tua dan keluarga yang ramah dan mau mendengarkan anak-anak sehingga mereka juga tidak jadi pelaku,” jelasnya.
Dalam setiap penanganan kasus bullying, DP2KBP3A mengutamakan pendampingan psikologis agar korban tidak mengalami trauma berkepanjangan maupun putus sekolah.
“Bullying ini memang setiap kasus dampaknya berbeda-beda. Sehingga pasti penguatan psikologisnya dulu dan jangan sampai mereka putus sekolah. Sebetulnya itu saja harapannya,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Kediri, Mokhamat Muhsin, menegaskan seluruh sekolah telah membentuk tim pencegahan dan penanganan kekerasan sebagai bagian dari komitmen mewujudkan sekolah yang aman.
“Tentu kita selama ini selalu memberikan arahan kepada sekolah agar bullying ini benar-benar dicegah dengan memberikan pendidikan pada anak, memberikan pemahaman kepada seluruh warga sekolah untuk saling menghormati, saling menghargai, saling mencintai, saling memuliakan. Targetnya zero bullying di semua sekolah,” urainya.
Ia menambahkan, hingga hari kedua pelaksanaan MPLS, seluruh kegiatan berjalan sesuai pedoman dan berlangsung kondusif.
“Alhamdulillah selama berlangsungnya MPLS masih berjalan sesuai dengan pedoman. Bahkan anak-anak happy di kelas maupun di luar kelas,” pungkasnya.