Ning Ghyta Sambangi Disabilitas, Ibu Hamil hingga Balita Berisiko Stunting di Jember
Pemerintahan Senin, 12 Okt 2026 19:35 WIBjatimnow.com - Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Jember, Ning Ghyta Eka Puspita, turun langsung mendampingi pelaksanaan layanan kesehatan kunjungan rumah (homecare).
Kegiatan ini menjadi langkah konkret Pemerintah Kabupaten Jember untuk mendekatkan akses pelayanan medis dan sosial kepada warga rentan.
Ning Ghyta hadir bersama jajaran perangkat daerah terkait serta pimpinan tingkat kecamatan dan kelurahan, Sabtu (10/10/2026). Sinergi lintas sektor ini dilakukan untuk memantau secara langsung kondisi kesehatan dan kesejahteraan warga yang membutuhkan penanganan khusus.
Pertama, Ning Ghyta mengunjungi kediaman Lutfiah (22) di kawasan Kranjingan, Kecamatan Sumbersari. Lutfiah merupakan penyandang disabilitas mental autis yang membutuhkan perhatian ekstra serta pendampingan berkelanjutan.
Kunjungan dilanjutkan ke Lingkungan Kebun Indah, Kecamatan Tegal Besar. Di lokasi ini, Ning Ghyta menemui Susmita (27), ibu hamil berisiko tinggi yang mengalami kekurangan energi kronis (KEK). Susmita memiliki berat badan 38,8 kilogram dan riwayat persalinan sesar pada anak pertamanya.
Tim homecare juga menyasar penanganan masalah gizi anak dengan mengunjungi rumah balita Alea (2) dan Eliza (1 tahun 11 bulan). Kedua anak tersebut masuk dalam daftar prioritas penanganan stunting di wilayah kerja Puskesmas Kaliwates.
Sebagai bentuk intervensi, Ning Ghyta bersama para pemangku kepentingan memberikan layanan pemeriksaan kesehatan gratis secara langsung. Selain itu, bantuan paket sembako dan asupan gizi tambahan berupa susu juga diserahkan untuk menunjang kesehatan keluarga sasaran.
“Hari ini alhamdulillah saya bareng stakeholder, Bu Camat, Bu Kapus, dan semua jajaran, dari perpustakaan, dan semuanya alhamdulillah bisa hadir ke sini langsung melihat warga yang menjadi sasarannya homecare,” ujarnya.
Ning Ghyta mengaku prihatin melihat kondisi keluarga Lutfiah yang menghadapi keterbatasan fisik dan mental tanpa pendampingan orang tua secara utuh. Kehadiran program ini diharapkan dapat menjadi solusi inklusif untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial di masyarakat.
“Saya tidak punya ekspektasi sebelumnya, ternyata masyarakat disabilitasnya sampai segininya. Di sinilah pemerintah hadir, mulai dari pemerintah kelurahan, pak camat bahu membahu untuk homecare ini. Mudah-mudahan bisa menjadi satu program yang sukses,” pungkasnya.