Pixel Code jatimnow.com

Angkat Tema Indigo, Festival Film Horor 2026 Resmi Dibuka di Pacitan

Pemerintahan 5 jam yang lalu
Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji (kemeja putih) bersama sineas senior sekaligus perwakilan Festival Board, Garin Nugroho (kemeja biru bermotif bunga), saat membuka Festival Film Horor 2026 di Pantai Pancer Door. (Foto: Prokopim Pemkab Pacitan for jatimn
Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji (kemeja putih) bersama sineas senior sekaligus perwakilan Festival Board, Garin Nugroho (kemeja biru bermotif bunga), saat membuka Festival Film Horor 2026 di Pantai Pancer Door. (Foto: Prokopim Pemkab Pacitan for jatimn

jatimnow.com – Festival Film Horor (FFH) 2026 di Kabupaten Pacitan resmi dibuka. Mengusung tema Indigo, festival ini mengajak sineas mengeksplorasi mitos, sejarah, dan imajinasi melalui karya sinema yang berakar pada budaya lokal. Memasuki tahun kedua penyelenggaraan, FFH mengangkat tema lengkap “Indigo: Melihat yang Tak Terlihat, Membaca yang Tak Terlupakan, Membangun yang Akan Datang”.

Pembukaan festival ditandai dengan penyalaan lampion oleh Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, sineas senior Garin Nugroho, dan Festival Director Idham Nugrahadi. Ratusan peserta dari kalangan komunitas sineas muda, pelajar, instansi pemerintah daerah, hingga masyarakat umum turut menyaksikan pembukaan tersebut.

Suasana pembukaan memadukan nuansa sinema horor dengan seni tradisi. Penonton terlebih dahulu disuguhi penampilan Keroncong Sinoman, kemudian dilanjutkan Tari Umbul Dongo dari Sanggar Tari Pradnya. Tarian yang mengandung makna doa keselamatan itu menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian seremoni. Para penari mengantarkan trofi festival secara simbolis menuju panggung.

Sineas senior sekaligus perwakilan Festival Board, Garin Nugroho, mengatakan tema Indigo tidak semata-mata berkaitan dengan hal mistis atau menakutkan. Tema tersebut justru membuka ruang bagi sineas untuk menggali sejarah, estetika, dan imajinasi melalui pendekatan sinematik.

“Tajuk Indigo bukan sekadar membicarakan hal mistis atau menakutkan, melainkan membuka ruang estetika, sejarah, dan imajinasi kreatif yang mendalam,” ujarnya, Kamis (15/10/2026).

Menurut Garin, tema tersebut memiliki keterkaitan dengan spektrum warna, perjalanan panjang sejarah manusia, hingga cara masyarakat memandang kehidupan dan lingkungan sekitarnya. Garin mencontohkan legenda purba di Song Terus sebagai salah satu kekayaan sejarah Pacitan yang dapat menjadi sumber inspirasi penciptaan karya film.

“Tema ini tidak hanya mewakili unsur supranatural, tetapi membuka ruang eksplorasi artistik dan kreativitas sinematik,” paparnya.

Sementara itu, Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji menyambut kehadiran para pegiat perfilman yang terlibat dalam festival tersebut. Bupati yang akrab disapa Mas Aji itu juga mengenang Pantai Pancer Door sebagai tempat yang menyimpan memori masa kecilnya. Mas Aji juga menegaskan dukungan pemerintah daerah terhadap perkembangan industri kreatif, termasuk perfilman yang melibatkan talenta lokal.

“Pemerintah daerah mengapresiasi kerja keras rekan-rekan panitia Ruang Film Pacitan dan arahan para mentor,” tuturnya.

Penyelenggaraan Festival Film Horor akan terus dievaluasi dan dikembangkan agar mampu menjadi ruang tumbuh bagi sineas berbakat.

“Sekaligus memperkuat Pacitan sebagai destinasi wisata dan ekosistem perfilman yang berdaya saing,” tuturnya.

Festival Film Horor Pacitan sendiri menjadi wadah apresiasi, kompetisi, dan edukasi bagi pembuat film independen serta generasi muda. Genre horor dipilih sebagai medium untuk mengeksplorasi narasi budaya, sejarah, dan mitologi lokal Nusantara.

Dengan mengangkat kekayaan cerita lokal ke layar lebar, FFH diharapkan dapat mempertemukan kreativitas sineas dengan potensi budaya dan pariwisata Pacitan.