Rakyat Menggugat DPR, Krisis Kepercayaan Memuncak

Sabtu, 30 Agu 2025 18:02 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Aksi demonstrasi berujung ricuh di depan Gedung Negara Grahadi Surabaya, Jumat (29/8/2025). (Foto: Iffan Maulana for JatimNow.com)

jatimnow.com – Aksi demonstrasi yang meluas pasca-28 Agustus 2025, menjadi bukti nyata perlawanan rakyat terhadap pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Gelombang protes ini dipicu oleh berbagai isu krusial yang dianggap tidak berpihak pada kepentingan rakyat.

Aksi yang berlangsung sejak 29 Agustus 2025, di berbagai daerah menunjukkan kekecewaan mendalam terhadap sistem negara yang dianggap tidak adil.

Massa aksi menargetkan gedung DPR dan simbol-simbol negara hingga pos Polisi dibakar sebagai bentuk protes atas ketidakadilan yang mereka rasakan.

SA Saputro dari Gerakan Parlemen Jalanan menegaskan bahwa, rakyat hari ini mengalami krisis kepercayaan terhadap kepemimpinan dan pemerintah yang anti-rakyat.

Menurutnya, perjuangan ini bermula dari penolakan terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap tidak pro-rakyat, seperti kenaikan pajak, nasionalisasi aset koruptor, perampasan tanah rakyat, undang-undang perburuhan yang kontroversial, serta masalah pendidikan dan kesehatan yang mahal.

Diskriminasi terhadap minoritas dan kaum penghayat kepercayaan juga menjadi sorotan utama.

"Keputusan dan kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat akan menghadapi gelombang perlawanan di seluruh daerah. Kami sepakat dengan gerakan parlemen jalanan yang mengambil alih posisi kegelapan di gedung DPR dan istana, agar mereka sadar dan kembali bersinar," tegas aktivis yang disapa Pokemon itu.

Untuk itu, Gerakan Parlemen Jalanan menuntut, seret dan adili aparat yang melakukan kekerasan dan pembunuhan terhadap pejuang ojek online dan rakyat kelas pekerja lainnya.

Baca juga: LADAM Buka Hotline Pendampingan Hukum Bagi Massa Aksi yang Ditangkap Polisi

Copot, pecat, dan adili anggota DPR serta pejabat negara yang mengeluarkan pernyataan yang merugikan rakyat. Mereka juga menuntut pembubaran DPR atau melakukan revolusi.

Aksi ini menunjukkan bahwa kekecewaan rakyat telah mencapai puncaknya. Tuntutan untuk kembali ke Undang-Undang Dasar 1945, di mana kekuasaan tertinggi berada di tangan rakyat, semakin menguat.

Baca juga: Surabaya Mencekam, Polisi dan TNI Turun Tangan

Sebagaimana diketahui, demo ricuh terjadi di beberapa wilayah di Indonesia. Demo Surabaya di Grahadi juga berakhir bentrok dengan aparat. Pos Polisi dibakar oleh massa yang meluapkan amarahnya.

\

Demo Surabaya juga berlanjut pada Sabtu (30/8) di Polrestabes Surabaya yang berujung ricuh. Aksi ini ditengarai kekecewaan dan luapan emosi pasca wafatnya Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang menjadi korban dilindas mobil rantis Brimob dalam demonstrasi di Jakarta.

Baca juga: Polrestabes Bubarkan Demonstran di Depan Gedung Grahadi

 

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler