Gak Perlu Jemur di Jalan Lagi, Mahasiswa Surabaya Ciptakan Alat Pengering Padi

Senin, 09 Feb 2026 16:39 WIB
Reporter :
Ali Masduki
Nur Ahmad Justine Ivana menunjukkan cara kerja alat pemisah dan pengering padi otomatis di Untag Surabaya, Senin (09/2/2026). (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

jatimnow.com - Ancaman gagal panen dan penurunan kualitas gabah saat musim hujan kini menemukan solusi teknologi di tangan mahasiswa. Nur Ahmad Justine Ivana, calon wisudawan Teknik Elektro Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya, berhasil merakit alat pemisah dan pemanas padi otomatis yang bekerja berdasarkan sensor suhu serta kelembapan.

Inovasi ini lahir dari kegelisahan Justin melihat ketergantungan petani pada cuaca. Proses pengeringan tradisional seringkali terhambat mendung, yang berujung pada tingginya kadar air dan rusaknya harga jual padi.

Melalui karya berjudul "Rancang Bangun Alat Pemisah dan Pemanas Padi Berbasis Suhu dan Kelembapan," Justin menawarkan mekanisme pascapanen yang lebih mandiri.

Baca juga: Ni Kadek Ayu Wardani Dobrak Mitos Aktivis Sulit Lulus Kuliah

"Tujuannya agar petani tidak lagi merugi saat cuaca buruk. Gabah bisa langsung masuk ke sistem pengering setelah panen, sehingga kualitas beras tetap premium," ungkap Justin saat ditemui menjelang prosesi wisuda di Untag Surabaya, Senin (09/2/2026).

Justin menyematkan mikrokontroler sebagai otak dari perangkat ini. Sensor suhu dan kelembapan bertugas memantau kondisi gabah secara real-time.

Jika tingkat kelembapan masih tinggi, elemen pemanas (heater) akan menjaga suhu stabil hingga mencapai tingkat kekeringan yang diinginkan secara merata.

Tidak hanya mengeringkan, alat ini juga mampu memilah bulir padi. Dengan memanfaatkan perbedaan massa jenis dan dorongan angin dari blower, gabah berisi akan terpisah otomatis dari ampas atau gabah kosong.

Nur Ahmad Justine Ivana, mahasiswa Teknik Elektro Untag Surabaya, ciptakan alat pemisah dan pengering padi otomatis untuk bantu petani saat musim hujan. (Foto: Ali Masduki/jatimnow.com)

Baca juga: Foto: Wisuda Untag Surabaya

Gabungan dua fungsi ini membuat waktu kerja petani jauh lebih efisien dibandingkan metode jemur konvensional.

\

Perjuangan Mahasiswa Kelas Malam Keberhasilan Justin menyelesaikan riset ini tergolong istimewa.

Pria lulusan SMK Negeri 1 Driyorejo ini menempuh studi melalui kelas malam sembari bekerja di bagian Building Management Trans Property.

Di tengah tuntutan profesional, ia justru mampu menyelesaikan masa kuliah hanya dalam 3,5 tahun dengan raihan IPK 3,5.

Baca juga: Solusi PHK, Strategi Untag Surabaya Cetak Lulusan Jadi Bos Muda & Berdaya Global

Ketertarikannya pada dunia kelistrikan memang sudah mendarah daging sejak duduk di bangku SMK. Baginya, teknologi elektro bukan sekadar teori di kelas, melainkan alat untuk memecahkan masalah nyata di masyarakat.

"Saya ingin skripsi ini bukan hanya tumpukan kertas, tapi benar-benar bisa diaplikasikan di lapangan, terutama untuk mendukung ketahanan pangan kita," tambah mahasiswa yang juga aktif di UKM Pramuka ini.

Karya Justin membuktikan bahwa batasan waktu bagi mahasiswa pekerja bukan penghalang untuk melahirkan inovasi.

Alat pemanas padi ini diharapkan segera masuk ke tahap pengembangan lebih lanjut agar bisa diproduksi secara massal bagi komunitas petani di Jawa Timur.

Ikuti perkembangan berita terkini Jawa Timur dan sekitarya di Aplikasi jatimnow.com!
Berita Surabaya

Berita Terbaru
Tretan JatimNow

Terpopuler